REVOLUSI PENDIDIKAN DAN KEWIRAUSAHAAN

Revolusi Pendidikan dan Kewirausahaan
Oleh Said Muniruddin I Dosen I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Tidak mungkin lulusan universitas akan menganggur, miskin dan tidak berpendapatan. Sebab, selama 4 tahun tanpa henti, lebih dari 50 subjek studi telah diramu dalam beban kredit yang mencapai 160an SKS. Melalui jargon kurikulum berbasis “kompetensi”, mahasiswa diajarkan cara meningkatkan nilai tambah dari ilmu dan sumberdaya yang ada.

Bayangkan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Indonesia. Apa yang tidak mereka pelajari tentang bisnis dan perusahaan? mereka telah mengunyah berbagai topik terkait: pengantar bisnis, hukum bisnis, manajemen keuangan, analisis investasi, penganggaran, perilaku organisasi, komunikasi bisnis, manajemen strategik, pemasaran, teknik produksi, sumberdaya manusia, akuntansi, perpajakan, standar pelaporan keuangan, sistem informasi, e-commerce, etika bisnis, lembaga keuangan, sampai kepada kuantifikasi data dalam berbagai hitungan matematis ekonomi dan statistika bisnis.

Untuk mendukung ini, buku pelajaran yang tebalnya ratusan halaman diwajibkan beli. Harganya ratusan ribu. Ditulis oleh para profesional dan akademisi tingkat dunia. Bah! Tak ada ilmu dagang yang terlewatkan. Semua sudah dibahas di kelas selama berminggu-minggu. Tidak hanya kasus UMKM lokal, kisah sukses bisnis dunia turut diujiankan saban semester. Metode belajar pun sangat menyenangkan. Mulai dari penggunaan slide, video, presentasi, studi lapangan, sampai kepada seminar dan kuliah umum tokoh-tokoh nasional setiap tahunnya.

Analisis apa yang mereka tidak dilakukan. Semua lengkap. Mulai dari hitungan biaya, penjualan, sampai kepada laba untuk aneka sektor ekonomi dan jenis usaha (jasa, dagang dan manufaktur). Jangan tanya berapa banyak tugas ekstra yang dibebankan untuk memperoleh gelar sarjana. Weekend sekalipun dilalui untuk menuntaskan segudang PR dari dosen. Maka tidak mungkin setelah selesai kuliah mereka masih bodoh, bingung, miskin, tidak mandiri dan menganggur.

Tapi itulah kenyataannya. Angka pengangguran lulusan diploma dan universitas meningkat (BPS, 2019). Ada sekitar 1 juta mahasiswa yang diwisuda setiap tahun. Lebih dari 50 persen tidak mampu bekerja. Artinya, ratusan ribu pengangguran dari kelompok terdidik terus bertambah. Apa yang kurang dari sistem pendidikan kita?

Tidak ada yang kurang. Semua sudah diajarkan. Semua sudah lengkap, kecuali satu: mereka tidak dibimbing untuk merintis usaha sejak semester pertama. Ini akar dari semua masalah. Selesai kuliah, mereka diceramahi untuk mampu bekerja dan membuka lapangan usaha. Inilah ceramah semua pimpinan perguruan tinggi saat acara wisuda. Tetapi, sejak awal kuliah, mereka tidak dibimbing untuk berwirausaha. Nilai praktis vokasional dari ilmu tidak ada. Selama 4 tahun mahasiswa justru menjadi objek bisnis para dosen. Mereka disuruh mendengar dosen bicara. Lalu disuruh bayar setiap semesternya. Mereka dieksploitasi oleh sistem bisnis dari sebuah institusi pendidikan tinggi.

Paradigma perguruan tinggi saat ini, yang disebut belajar adalah mendengar dosen berceramah dan rajin menjawab soal. Selama 4-5 tahun mahasiswa dididik untuk mendengar, diam, dan patuh. Anak didik dihafalkan teori-teori canggih tanpa ada ruang untuk aplikasi. Nilai tertinggi diperoleh karena kuat menghafal isi buku. Begitu tamat kuliah, mereka diharapkan menjadi solusi untuk pengentasan kemiskinan. Tetapi apa yang terjadi?

Setelah melakukan investasi sampai ratusan juta, sebagian besar mahasiswa tidak tau mau kemana. Perguruan tinggi kita mirip sekali dengan unit-unit investasi bodong yang sedang ditertibkan OJK. Setelah kuliah, mahasiswa kehabisan modal. Lalu hidup dari nol lagi. Kebanyakan bingung darimana harus memulainya. Daya tampung pasar sangat kompetitif dan terbatas. Apa yang dihafal selama 4 tahun lalu sudah lupa. IPK 4.0 tidak tau mau diolah jadi apa. Inilah penipuan yang dilakukan semua universitas. Otomatis juga penipuan negara. Setelah mengambil uang rakyat, tidak dijamin setelah lulus ada pekerjaan bagi mereka.

Sumber masalah utama di negeri ini adalah institusi pendidikannya. By design, yang dihasilkan memang pengangguran. Bukan usahawan. Pendidikan kita bukan untuk mentransfer knowledge agar segera menjadi produk atau jasa. Pendidikan kita bukan untuk segera memanfaatkan ilmu-ilmu yang dipelajari untuk memberi nilai tambah pada sumberdaya yang melimpah. Pendidikan kita tidak mengarah kepada innovation and productivity (incubation university). Institusi pendidikan kita belum menjadi lembaga yang begitu diwisuda langsung melahirkan pekerja/pengusaha.

Coba lihat apa yang dihasilkan setelah 4 tahun belajar. Tidak lebih dari satu tumpuk sampah ‘tidak berguna’. Skripsi namanya. Sebuah tulisan ilmiah yang segera dilupakan setelah selesai disidangkan. Tapi lumayan juga bagi dosen pembimbingnya, masih bisa diolah menjadi jurnal untuk kum kredit kepangkatan dan evaluasi kinerja. Setelah itu bisa dijual perkilo untuk bungkusan cabe di pasar pagi. Apa yang ditulis tidak punya nilai strategis untuk pengembangan ekonomi diri dan masyarakat sekelilingnya.

Harusnya, diakhir kuliah, mahasiswa mampu mempertanggungjawabkan ilmu yang diajarkan secara kreatif. Saat sidang akhir, mahasiswa menyajikan secara akademis laporan perkembangan dan hasil riset rencana ekspansi bisnis yang ia rintis sejak awal kuliah baik berdasarkan bakat minat, peluang pasar, maupun potensi kreatif kekayaan alam di daerahnya. Ia harus memastikan bahwa ilmu yang dipelajari telah mencerdaskan dirinya, serta memberi nilai tambah ekonomi dan memberdayakan orang-orang. Itu namanya pendidikan yang membangun kompetensi dan karakter.

Disinilah perlu pusat-pusat riset yang inovatif dan teknologis pada tingkat daerah dan universitas. Mahasiswa dibina untuk mampu mengembangkan berbagai potensi alam lokal yang bernilai tinggi. Di Unsyiah misalnya, ada Atsiri Research Centre (ARC) yang saat ini begitu progresif melakukan pemberdayaan mahasiswa dan masyarakat dalam inovasi produk nilam, yang diketahui memiliki kandungan Ph terbaik di dunia. Masih banyak sumberdaya alam unggulan lain, bukan cuma kopi. Kunyit Aceh yang sampelnya baru-baru ini diambil dari Lamteuba Aceh Besar, juga diketahui memiliki kandungan Curcumin tertinggi di Indonesia. Banyak daerah di Indonesia yang punya komoditas unggulan namun masih membutuhkan pengembangannya melalui kehadiran pusat-pusat riset dan inovasi. Mahasiswa mesti diarahkan untuk menyadari potensi daerahnya. Mereka harus dibangun militansi untuk melawan para qarun (mafia-mafia besar) yang selama ini menguasai mata rantai ekonomi sehingga masyarakat tidak pernah sejahtera.

Dengan demikian, jika selama ini mahasiswa lulus dengan gelar “pengangguran”, sistem pendidikan ke depan harus memastikan mahasiswa tamat dengan status “pengusaha” yang merakyat. Masalah mereka kemudian mau bergabung dengan sektor pemerintahan dan lainnya, itu hanya pilihan. Yang utamanya, ada bisnis yang sudah ia rintis. Ada staf yang sudah ia gaji, walau hanya 1 orang. Itu syarat lulus. Indikator kelulusan lainnya dapat disusun. Dengan demikian, universitas menjadi solusi bagi masalah pengangguran dan kemiskinan. Bukan justru memperparahnya.

Semua ilmu, tujuannya memang mencari uang. Sisi pragmatisnya begitu. Tentu tanpa melupakan sisi etisnya: baik-buruk dan halal-haram. Saya tidak tau siapa yang tidak mau mencari uang setelah selesai kuliah. Semua butuh makan. Butuh uang. Butuh kerja. Motif bisnis adalah motif dasar manusia. Ustad sekalipun perlu uang, yang ia peroleh dengan ‘menjual’ ayat-ayat Tuhan. Dengan kemasan ceramah yang menarik, ia sebenarnya sedang berbisnis sekaligus berdakwah. Apakah disampaikan dengan cara menghujat ataupun lemah lembut, semua ada pasar masing-masing. Ustadz-ustadz ternama sudah punya rate tersendiri persekali bicara. Inilah apa yang kita sebut sebagai pricing.

Artinya, bukan cuma mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis saja yang orientasinya “uang”. Semua ilmu punya motif ekonomi. Ilmu keguruan, hukum, pertanian, peternakan, kelautan, sains, teknik, komunikasi, farmasi, kedokteran, dan lainnya; semua harus dibimbing untuk menghasilkan produk atau jasa yang bernilai ekonomi. Pun Nabi kita saat muda seorang pedagang. Karena sikap mandiri dan efektifitas leadership hanya dapat dibangun lewat dunia usaha. Maka sejak awal, mahasiswa mesti diarahkan menjadi entrepreneur. Tujuannya untuk mengkapitalisasi ilmu dalam rangkaian proses menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi manusia. Karena bisnis sejatinya memang hadir untuk menawarkan kemudahan dan kebaikan bagi manusia. Itu nilai ibadah dan sosial dari bisnis.

Kontinuitas dan masifnya angka pengangguran pada level sarjana, menunjukkan perlunya revolusi pendidikan dan kewirausahaan di Indonesia. Perlu gebrakan yang mengejutkan oleh para pengambil kebijakan guna membuat lulusan S1 berdaya dan mandiri. Saya kira, kalau fokusnya pada analisis bisnis secara lebih saintifik, itu bisa diperoleh lebih lanjut di strata master atau doktoral.

Bapak Nadiem Makarim, ini semua tanggungjawab anda. Kami melihat, hanya dengan satu “klik” anda telah mengubah 2 juta driver menjadi gerakan ekonomi yang revolutif dan efisien. Bisakah anda dengan sekali “klik” mampu meruntuhkan rigidnya birokrasi pendidikan dan mengubah mahasiswa sejak semester awal menjadi start-up yang berkarakter, inovatif, dan mandiri?

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

2 Comments

  1. tulisan diatas adalah permasalah utama kurikulum pendidikan mulai tingkat sekolah dasar, bahkan ternyata berdasar data di atas hingga ke pendidikan tinggi. kurikulum pendidikan kita adalah pure science, ilmu murni, hanya layak menjadi penghuni perpustakaan, bukannya applied science, ilmu terapan.

    seharusnya sejak sekolah dasar ilmu yang diajarkan pada penyusunan kurikulum mulai pendidikan dasar adalah ilmu praktis yang mudah diterapkan. ilmu murni tempatnya dilaboratorium dan berakhir di perpustakaan. ilmu praktis atau ilmu terapan adalah ilmu yang bisa langsung diterapkan dan dipraktekkan sambil belajar ke jenjang lebih tinggi.

    contoh mudahnya: ilmu matematika atau ilmu berhitung sejak sekolah dasar lebih baik jika materi pelajarannya adalah matematika praktis, belajar berhitung dagang, dan statistik pembukuan. menghitung modal dan menentukan harga jual untuk menentukan laba dan target penjualan, lebih penting daripada menghitung luas lingkaran dan panjang jari-jari.
    atau menghitung volume kubus.

    jadi seandainya karena suatu alasan berhenti sekolah hanya sampai kelas 6 sd, punya keahlian berhitung dagang.

    ilmu murni lebih cocok dipelajari di perguruan tinggi khusus pure science, memperbanyak perguruan tinggi yang mengajarkan applied science jika memang asa niatan untuk mengatasi jumlah pengangguran yang semakin meningkat dan bertambag setiap tahunnya.

    anak didik pendidikan negeri ini hanya ilmuwan teoritis yang tidak terampil bekerja mempraktekkan ilmunya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s