KUNCI IBADAH ADALAH KOMUNIKASI

Kunci Ibadah adalah Komunikasi 
Oleh Said Idris Athari Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Dzikir, dalam pengertian hakikat, adalah ilmu mengingat sekaligus mengalami kontak (komunikasi) dengan Allah. Saya ingin memberi contoh sederhana.

Dalam pengalaman sehari-hari, ketika teringat seseorang, kita mengirim pesan kepadanya melalui teknologi tertentu. Tidak lama kemudian, bahkan dalam waktu hampir bersamaan, kita memperoleh sms jawaban dari dia. Itu pertanda ada kontak, yang boleh dikatakan “langsung” dan “nyata”. Itu juga pertanda dia “hadir” (terkoneksi secara aktual dengan kita), meskipun tidak pernah terlihat wujud/fisik orangnya. Pada kondisi seperti itu; kita benar-benar mengetahui, melihat dan memperoleh jawaban secara jelas dan objektif dari lawan komunikasi, tanpa sedikitpun ragu. Sebab, jalur (frekuensi) komunikasi dengannya sudah terbangun dan benar-benar dapat diverifikasi. Ada sinyal-sinyal malakut (wahyu/pesan/sms/suara) yang masuk kepada kita dari sisi lawan bicara. Kalau pun tiba-tiba masuk pesan menggiurkan dari “credit online”, kitapun tau persis. Bahwa itu dari setan, bukan dari teman. Itulah yang dalam skala tertentu disebut “makrifat.”

Apakah dengan Allah kita sudah seperti itu? Sudah live, interaktif dan asyik masyuk sedemikian rupa? Jika belum, perbaiki teknologi spiritualnya (metode dzikir). Cari guru yang canggih, yang benar-benar mewarisi ilmu (ruhani) Rasulullah. Karena sudah tugas para ulama yang disebut “tali Allah” untuk membawa kita semakin dekat, berjumpa, atau tersambung dengan Allah. Bertuhan jangan kira-kira, atau sekedar berbaik sangka. Harus pasti-pasti. Connect.

Dalam Islam ini penting. Karena apa yang kami uraikan diatas bukanlah omong kosong. Melainkan penjelasan dari banyak ayat, termasuk: “Berdoalah (minta/ngomong), pasti kujawab!” (QS. Al-Mukmin: 60). Ayat ini semacam statement yang meminta kita untuk melakukan research apakah kita sudah beragama pada level mampu “berkata-kata” (berkomunikasi secara aktif) dengan-Nya.

Jika belum, sebagaimana tersebut akhir ayat itu: kita dicap sebagai orang sombong. Karena tidak bersedia menempuh jalan untuk memperbaiki komunikasi sebagai bagian dari diterimanya ibadah: “… sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Al-Mukmin: 60). Maka jangan sok lah. Ayo kita perbaiki sama-sama.

Efektifitas komunikasi menjadi faktor krusial dalam semua bentuk hubungan. Bukan hanya dalam organisasi, dalam menyembah Allah juga begitu. Komunikasi adalah kunci ibadah. “Ad-doa’u mukhkhul ibadah”. Doa itu otaknya ibadah. Bayangkan, beribadah tanpa “otak”. Otak itu server saraf sentral yang mengkoordinasi semua transmisi keluar masuknya informasi. Doa (atau juga dzikir) adalah otak, sentral dari teknologi spiritual, yang melalui aktivasi saraf-saraf jiwa mampu mentransmit dan menangkap pesan-pesan dari alam rabbani.

Ingat, tidak perlu berhayal mesti jadi seorang nabi untuk mampu berkomunikasi dengan Allah. Cukup dengan menjadi hamba-Nya saja, Dia sudah bersedia berbicara dengan kita. Sebab, Dia itu Maha Berkata-Kata. Kitanya saja yang terlalu: “Tuli, bisu, dan buta sehingga tidak pernah bisa terhubung dengan-Nya” (Al-Baqarah: 18). Ampuni kebodohan kami!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
powered by PEMUDA SUFI:
Bahagia, Kaya, dan Terpelajar.

1 Comment

  1. Kira kira di sulsel ada gak ya pak?
    Siapa tau ada rekomendasi dari bpk GURU nya, pengen belajar

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s