BAHASA YANG DIPAHAMI TUHAN

image: The Language of God

Bahasa yang Dipahami Tuhan 
Oleh Said Idris Athari Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Judulnya pasti anda protes. Sebab, menurut anda, Tuhan paham semua bahasa. Ya kan? Kalau itu, saya juga setuju. Tapi bukan itu maksudnya.

Judul di atas adalah refleksi dari kasus-kasus: “ada doa yang tidak di dengar (dikabulkan) Allah”. Atau, “ada amalan yang tidak sampai ke sisi-Nya”. Itu semua fenomena vibrasi doa yang rendah. Sekaligus indikasi adanya penggunaan bahasa yang salah. Meskipun sudah mengucurkan air mata, mengangkat tangan tinggi-tinggi, dan menengadah jauh langit; masih ada permintaan kita yang tidak dipahami-Nya. Boleh jadi bahasa yang kita gunakan bukan untuk level Allah. Adab berbahasanya masih keliru.

Bahasa itu ada dua. Bahasa lahiriah dan bahasa batiniah. Begini duduk perkaranya.

Bahasa lahiriah adalah bahasa dakwah. Bahasa persuasif. Bahasa artistik manusia. Bahasa untuk menarik perhatian jamaah. Semua itu bahasa artifisial. Bahasa make-up. Kreasi manusia. Bahasa yang kita buat. Sehingga kita butuh huruf, angka, bentuk, suara, irama, makhraj, kaidah dan sebagainya untuk mengkomunikasikan sesuatu (secara baik dan indah) kepada manusia.

Itu tidak salah. Islam butuh itu. Agar pesan-pesan agama menarik perhatian manusia. Seni menjadi daya pikat bagi siapapun. Seni menunjukkan kekayaan sebuah agama. Perkembangan peradaban Islam telah melahirkan tata baca dan seni tulis Alquran sedemikian rupa. Kita harus bangga dengan itu.

Namun, itu bukan bahasa yang dipahami Tuhan. Itu bukan bahasa untuk menyentuh “hati” Allah. Dia hanya mengenal bahasa hakikat, bahasa batiniah. Bahasa yang tidak berhuruf. Bahasa yang tidak bersuara. Bahasa tanpa makhraj. Bahasa emosi. Bahasa jiwa. Ini semua bahasa sederhana. Bahasa ikhlas. Bahasa yang bisa tembus ke alam malakut. Bahasa yang terbit dari sisi-Nya sendiri. “Silence in the language of God”, kata Rumi. “There is a voice that doesn’t use words. Listen”, tambahnya

Dalam bahasa-bahasa inilah Alquran turun dan tertanam dalam qalbu Muhammad SAW. Alquran yang “asli” ini tidak memiliki wujud lahiriah. Ia adalah wahyu, kode-kode suprakosmik yang sangat unik. Semacam bahasa sinyal yang memiliki arus mistis dan getar, sebelum di convert ke huruf dan makna-makna. Inilah bahasa keramat. Bahasa yang bisa menghancurkan gunung-gunung. Bahasa yang bisa menyembuhkan. Bahasa yang mengusir setan. Bahasa yang menyelamatkan. Bahasa mukjizat.

Penjajahan serta perkembangan dunia yang mengarah kepada materialisme ikut menyeret pola pikir kita ke arah “lahiriah” yang sangat kental. Bahasa-bahasa hakikat mulai dilupakan. Bahkan cenderung dihancurkan. Dibid’ahkan. Hari ini, umumnya kita terputus komunikasi dengan Tuhan. Hilang karamah. Jadilah kita buih di tengah lautan. Galau. Doa-doa sulit terijabah.

Ingat. Bahasa hakikat adalah satu-satunya bahasa yang dipahami Tuhan. Itulah mengapa, zikir sirri (qalbi) lebih tinggi nilainya daripada zikir panggung yang cenderung “rusuh”. Zikir itu sendiri makna hakikinya adalah bahasa rahasia seorang hamba dengan Tuhan. Makanya para ahli zikir yang sesungguhnya (seperti para wali) cenderung tersembunyi. Tidak ada yang melihat mereka berzikir.

Namun untuk kebutuhan lahiriah dakwah, zikir khafi (lisan) juga dianjurkan. Karena itu sisi eksoteris dari Islam. Perlu ada show agar bentuk-bentuk dari spiritualitas Islam menjadi terlihat. Tetapi setelah itu umat perlu diperkenalkan “jalan rahasia” menuju Tuhan (dimensi esoteris). Jangan diajak show terus.

Kalau siang, silakan digoyang panggungnya dengan microphone dan sound. Kalau malam, kunci mulut, lalu bicaralah dengan qalbu. Kira-kira begitu. Sebab, bahasa hakikat inilah yang dipahami oleh “otak kosmik”, oleh nur muhammad“, oleh medan energi ilahi. Bahasa-bahasa inilah yang membuat Sulaiman mampu menundukkan makhluk-makhluk lainnya. Juga bahasa yang membuat Muhammad menjadi penghulu alam. Bahasa yang membuat semuanya tunduk dan patuh.

Kita harus berani mengakui. Kita sudah lemah dalam ilmu komunikasi. Kita memang pandai membaca dan sudah ramai yang hafal Alquran. Tapi pada dimensi lahiriahnya. Sementara “bahasa program” dari Alquran tidak kita kuasai. Dan memang langka gurunya.

Tanpa dimensi batiniah dari Alquran (disebut “Azzikir”), yang tersisa dari Alquran kita hanya alunan. Seni membaca ayat-ayat suci sebenarnya sudah ada sejak umat terdahulu. Orang Yahudi juga punya itu saat melantunkan Zabur, Mazmur dan lainnya. Tapi keramatnya hilang.

Sementara yang dibenam dalam dada Nabi kita adalah unsur Alquran yang keramat itu. Unsur itu harusnya kita warisi. Dengan demikian, alunan yang bagus juga punya sisi mukjizatnya. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, mengusir anak jin dalam tubuh orang yang kesurupan saja ayatnya tidak berfungsi. Konon lagi menyelesaikan kasus-kasus keummatan yang ayah jinnya ada dimana-mana.

Disini kita tidak akan membahas bagaimana bentuk bahasa hakikat, atau bahasa emosi dari Alquran. Itu kajian khusus. Ada ekspertnya untuk itu. Namun kami merekomendasikan, sempurnakan keislaman kita. Kuasai kedua jenis bahasa ini. Baik bahasa untuk menarik perhatian manusia, maupun bahasa yang meng-attract perhatian Tuhan.

Keramat Alquran itu bukan karena bahasa arabnya. Bahasa Arab merupakan bahasan bumi. Tidak suci ia. Bahasa ini memang mendapat kemuliaan karena menjadi media untuk penyampaian wahyu. Bahasa Arab merupakan bahasa nabi akhir zaman yang hadir di tengah komunitas Arab. Berbeda dengan umat-umat sebelumnya. Mereka menerima pesan Tuhan dalam bahasa lainnya. Itu semua bentuk dari “membumikan” wahyu sesuai konteks zaman dan tempat.

Disatu sisi, bahasa Arab memang unik. Kaya sastra. Sehingga punya varian seni yang tinggi. Bagus untuk menampung pesan dan mempromosikan Islam. Agama tanpa seni menjadi tidak berarti. Sehingga ada juga perintah Tuhan untuk memperbagus bacaan guna memikat perhatian. Namun, Islam itu wahyu. Bahasa “langit”. Tinggi. Kalau ingin tinggi, pelajari bahasa yang lebih tinggi. Bahasa yang suci. Bahasa yang dapat menghubungkan kita dengan Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.

Bahasa hakikat inilah yang masih bisa aktif saat kita sakratul maut, dan benar-benar didengar Tuhan. Kalau bahasa lahiriah mana bisa. Kecuali dalam sinetron, anak mudanya baru meninggal setelah mengucap dua kalimah syahadat. Kenyataannya tidak begitu. Menjelang maut, badan jadi kaku. Mata tak bergerak. Mulut dan lidah sudah terkunci. Tak ada lagi kata dan suara yang terucap. Yang tersisa dari kita hanya kalimah yang tidak berhuruf dan bersuara. Itulah kalimah yang menjamin kita masuk syurga.

Jadi jangan terlalu berharap bisa mengucap kalimah Allah menjelang mati. Karena itu batin Alquran, bahasa suci, bahasa suprakosmik yang harus kita kuasai sejak dini. Untuk tiket syurga inilah sejak sekarang kita perlu mujahadah dan berguru.

Sebagai penutup, tulisan ini juga sekalian mengingatkan kita pada polemik doa beberapa waktu silam. Banyak dari kita merasa, dengan sepenuhnya Arab, doa kita jadi hebat. Menteri agama Jenderal (Purn) Fachrul Razi menyarankan agar doa juga diisi dengan bahasa ibu. Supaya lebih membumi dan bisa dimengerti.

Kami tidak meragukan pentingnya bahasa Arab sebagai bahasa peradaban Islam, bahasa dari teks lahiriah Alquran. Apa yang disampaikan Menag RI juga penting. Karena itu termasuk bagian dari spirit tasawuf manapun, yang cenderung berdakwah dengan pola islamisasi konten-konten lokal.

Tapi yang jauh lebih penting dari semua itu adalah, bagaimana kita dapat menghidupkan kembali kaifiyat sufistik dalam bentuk tutur apapun doa kita. Untuk tujuan inilah sebuah dayah tariqah di Aceh (Senin 18/11/2019 –lihat video di bawah) memberikan 2 buku kepada Menteri Agama, agar skil komunikasi transenden ini menjadi salah satu perhatian pemerintah dalam membentuk masyarakat yang berketuhanan yang Maha Esa.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
powered by PEMUDA SUFI:
Bahagia, Kaya dan Terpelajar.

1 Comment

  1. sayyid

    Assalamualaikum wr.wb,

    Jika Allah S.W.T maha pengasih dan maha penyayang berarti Allah memiliki perasaan(hati) bukan?Bukankah perasaan Allah dalam bentuk firman2NYA telah turun ke dalam qalbu rasullallah dalam bentuk alquran dalam bahasa pilihan yaitu bahasa arab tetapi sayang sekali banyak yg tidak mengerti perasaan Allah karena mereka tidak menggunakan qalbu tetapi mulut mereka.

    wassalamualaikum wr.wb,

    ustadz sayyid habib yahya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s