KECUALI MENJADI MALAIKAT

image: “a smoking devil” (amazon.com)

Kecuali Menjadi Malaikat
Oleh Said Idris Athari Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Iblis sulit dilawan. Karena tipu daya dan kerja-kerja menyesatkan yang ia lakukan sudah mendapat izin resmi dari Tuhan. “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh” (QS. Al-‘Araf: 15). Demikian bunyi surat izin operasional Iblis dalam salah satu catatan negosiasinya dengan Allah pada surah Al-‘Araf ayat 11-17. Izin operasinya pun lama sekali. Seumur hidup. Yaitu sampai batas nafas terakhir manusia.

Jadi, jangan kira iblis bekerja secara ilegal. Bisnisnya memang terlaknat. Tapi semua operasi yang ia lakukan untuk membawa manusia ke neraka sudah sesuai syariah. Halal. Ada izin dari Allah. Jadi macam mana kita bisa mengalahkannya?

Iblis itu apa?

Iblis itu adalah semua potensi jahat yang berpeluang aktual dalam jiwa kita. Iblis itu adalah kita semua yang jahat-jahat. Jadi jangan terlalu berharap untuk berjumpa Iblis dalam wujud berbeda. Semuanya dalam sosok manusia. Ia tidak bergelantungan di pohon-pohon macam monyet. Juga tidak loncat-loncat di kuburan. Ia hadir dalam jiwa kita.

Secara imajiner, Iblis digambarkan sebagai makhluk jelek, berekor, bertanduk, berwarna merah (simbol “api”) yang kadang-kadang memegang trisula. Adakalanya bersayap. Semi binatang. Memang demikian analogi visualnya. Itu hanya usaha untuk menjelaskan dimensi buruk, jahat dan angkuh darinya.

Iblis adalah kekuatan batiniah yang bersifat “fujur” (QS. Asy-Syams: 8). Kekuatan gaib jahat ini telah “bersumpah” untuk selalu membisiki manusia agar terjerumus dalam perilaku busuk. Jika dituruti atau bersekutiu dengannya, wujud jiwa nakal ini akan menyeret kita ke jahannam.

Cara ia menggoda (menyesatkan) manusia juga unik. Halus. “Makhluk” atau lebih tepatnya “akhlak” gaib ini sangat cerdas. Pandai menipu. Ia mampu mempersepsikan sesuatu yang jahat sebagai baik. Sesuatu yang salah sebagai benar. Sesuatu yang buruk sebagai indah:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya” (QS. Al-Hijr: 39).

Disinilah manusia banyak celaka. Terlalu mengedepankan akal bisa berbahaya. Terlalu mengandalkan persepsi, peluang kita tergelincir sangat besar. Karena ini termasuk wilayah permainan iblis. Kecuali ada instrumen lain yang lebih tinggi yang dapat membantu kita.

Dan sesuatu yang lain yang kita butuhkan  itu adalah “ilham” (wahyu) dari Tuhan. Satu-satunya elemen yang mampu mengakses petunjuk langsung dari Allah adalah “malaikat”.

Siapa itu malaikat?

Malaikat adalah “variabel ruhaniah” yang dapat menangkap pesan dan membawa petunjuk dari Tuhan kepada manusia. Malaikat adalah “cahaya Tuhan” yang ada dalam DNA setiap manusia. Jika kekuatan-kekuatan malakut ini aktual, maka kita akan mampu secara hakiki membedakan mana yang benar, mana yang salah. Vibrasi makrifat muncul jika unsur-unsur malaikat sudah aktif dalam diri kita.

Jadi jangan berharap akan bertemu makhluk bersayap lalu menyebutnya malaikat. Jangan pula mencari mikroskop untuk memeriksa apakah mereka benar-benar bergelantungan di jenggot. Malaikat adalah hamba-hamba shaleh, para utusan Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang kuat energi tasbihnya. Ahli zikir. Malaikat itu adalah kita semua yang telah aktual sisi “taqwa” (QS. Asy-Syams: 8).

Jadi, manusia adalah makhluk “all in one”. Iblis sekaligus malaikat. Tergantung sisi mana yang kita pilih untuk aktual. Karenanya, pendidikan ruhiyah dalam Islam terpusat pada unsur “diri” (jiwa). Sebab, disitulah terletak elemen iblis (fujur, batil dan munkar) sekaligus malaikat (taqwa, hak dan makruf). Bahkan, Tuhan sekalipun ada dalam dimensi “diri”. Sehingga ada hadis mengatakan: “Barangsiapa mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhannya”. Nasib suatu kaum juga tidak akan berubah, kecuali mereka mengubah “diri” atau jiwanya (QS. Ar-Ra’d: 11).

Jadi, semua yang ingin ditemukan “diluar sana”, sebenarnya ada semua dalam diri kita. Elemen iblis, malaikat, bahkan Tuhan sekalipun; semua ada dalam diri (Alquran melukiskan ini dengan istilah: “Dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”, QS. Qaff: 16) .

Mungkin terdengar aneh bagi anda kalau kami menyimpulkan, bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya unsur eksternal. Semuanya internal. Semuanya tunggal. Bahkan kita bukanlah makhluk kecil dan terasing. Kita adalah alam semesta itu sendiri. Seperti kata Rumi: “You are not a drop in the ocean. You are the entire ocean in a drop”.

Maka “ilmu kehadiran” (ilmu rasa atau kesatuan wujud) adalah ilmu tertinggi. Sehingga dalam sufisme diakui, perjalanan tertinggi manusia adalah proses salik untuk “menyelami diri”. Dengan pengalaman spiritual seperti inilah kita akan mampu memahami secara sejati makna “Ahad”. Dia ada “disini”, sekaligus “disana”. Transenden sekaligus imanen. Di luar sekaligus di dalam. Kita juga begitu, bisa berada dimana-mana. Di dunia (di tengah realitas sosial) sekaligus di akhirat (disisi Tuhan). Dalam Alquran, pengalaman sufistik seperti ini disebut sebagai telah berada di puncak kesadaran kosmik yang serba meliputi, atau sidrah al-muntaha:

إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ
“Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya” (QS. An-Najm: 16).

Terakhir, kami ingin memberi solusi bagi masa depan dan kebahagiaan kita. Untuk selamat di dunia, tak ada pilihan lain bagi kita selain mengup-grade “diri”. Dari jiwa iblis ke jiwa malaikat. Ini wilayah kerja teknologi tasawuf dan tarekat. Sebab, ini terkait dengan proses aktivasi genetik malaikat dalam jiwa kita. Atau proses meledakkan sisi materialitas manusia menjadi energi cahaya (kuantum ikhlas). Sebagaimana petunjuk Allah, iblis diizinkan mengganggu siapapun. Kecuali hamba-hamba yang ikhlas (sudah hilang dirinya dan yang muncul hanya Allah):

إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
“Kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka” (QS. Al-Hijr: 40).

Mukhlisin yang tidak bisa diganggu iblis adalah hamba-hamba Tuhan yang berdimensi malaikat. Sangat patuh. Taat. Pengetahuan laduni dan kasyafnya tinggi. Mereka senantiasa menjaga tasbih, zikir dan kesucian jiwa. Untuk mencapai dimensi ini mesti ada proses suluk (tazkiyatun nafs) dibawah bimbingan Guru Ruhani yang dapat membawa kita naik maqam, dari alam jabarut (karakter iblis) ke alam malakut (karakter malaikat).

Jadi, lawan kita sangatlah berat. Yaitu iblis.  Dan makhluk ini tidak ada di luar sana. Tapi bersemayam dalam jiwa. Persis seperti kata Nabi SAW: “Jihad terbesar adalah melawan (iblis) dalam diri sendiri”. Bahkan lebih parah lagi: “Iblis itu lulusan universitas langit”, kata seorang Guru sufi.

Kalau anda alumni UI, UGM, Unsyiah, UIN dan sebagainya; jangan coba-coba menghadapi iblis. Demikian juga dengan lulusan Cairo, Madinah dan Yaman. Apalagi pesantren-pesantren kampung. Iblis tidak terkalahkan. Kecuali anda juga bersedia menempuh “pendidikan langit” dan meng-upgrade diri menjadi malaikat (menjadi manusia yang memiliki dimensi ikhlas yang lebih tinggi dari iblis).

Kami berterima kasih kepada Abuya Sayyidi Syeikh Ahmad Sufimuda. Di Dayahnya yang teduh, para murid dapat memahami dan merasakan berbagai pengalaman ruhani. Khazanah-khazanah tersembunyi (mutasyabihat) dari Alquran pelan-pelan dapat di afirmasi. Namun butuh waktu untuk terus mengikis “kedunguan alamiah” (kejahilan) kami sebagai manusia guna mengenal hakikat-hakikat yang lebih agung.

Sekali lagi. Tidak ada dari kita yang bisa lolos dari tipu daya iblis. Kecuali menjadi malaikat. Mungkin kita tidak bisa sepenuhnya menjadi suci sebagai malaikat murni. Paling tidak, mari kita usahakan agar  amal timbangan kita lebih berat ke “kanan”. Artinya, kadar ke-malaikat-an dalam diri kita harus lebih besar daripada prosentase ke-iblis-an.

Sebagai penutup, tulisan ini menekankan  kembali urgensi mengimani malaikat sebagai bagian dari ushuluddin. Disatu sisi, percaya kepada malaikat adalah meyakini adanya entitas batiniah yang sangat suci. Lebih dari itu, iman terhadap perkara ini harus melahirkan sikap aktif untuk meningkatkan kesucian jiwa, sehingga cahaya dan ruh suci itu bersedia “turun” (tanazzalul malaikatu warruh, QS. Al-Qadar: 3) atau menjadi aktual dalam diri kita. Dengan demikian kita menjadi cahaya Tuhan dalam wujud manusia, atau manusia-manusia jelmaan malaikat (sebagaimana diceritakan dalam QS. Maryam: 16-19, Adz-Dzariyat: 24-28, Hud: 77).

Jadi, orang-orang shaleh pewaris nabi memiliki karakter kasyaf. Sebagai pertanda mereka telah melewati gelapnya alam (tipu daya) iblis. Kasyaf artinya, ruh malakutiyah-nya sudah  aktual. Sehingga mudah baginya untuk menerima, membawa dan menyampaikan pesan-pesan Tuhan (wahyu/ilham). Karena itulah mereka disebut “utusan Tuhan” untuk masing zaman dan tempatnya. Malaikat (malaikah, malak) itu sendiri artinya “utusan” atau “pembawa pesan khusus”. Jadi tidak heran, para malaikat menyandang gelar “alaihissalam”. Ya, siapa lagi mereka, kalau bukan divine foton (gelombang sekaligus partikel suci) yang ada dalam diri para nabi dan washinya.

Jelas sudah. Kunci mengenal Allah adalah mengenal malaikat-Nya. Mustahil berjumpa Allah tanpa terlebih dahulu mengenal, bertemu, atau lebur dalam medan gelombang malaikat-Nya (menjadi aktual sebagai “cahaya”-Nya). Itulah pesan utama Alquran ketika mengajak kita melakukan transformasi diri: minadh-dhulumati ilannur. Dari “gelap” (wujud iblis) menjadi “cahaya” (malaikat). Meminjam istilah fisika kuantum: dari sekedar makhluk “materi”, menjadi kesadaran yang ber-“energi”.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
powered by PEMUDA SUFI:
Bahagia, Kaya dan Terpelajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s