KETIKA MAULID DIHADIRI RASUL

image: “shallu ‘alan nabi”

Ketika Maulid Dihadiri Rasul
Oleh Said Idris Athari Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Dikisahkan langsung kepada kami oleh seorang doktor, akademisi dan juga salah satu pejabat di sebuah kampus di Darussalam (beliau meminta namanya untuk tidak dituliskan). Pernah suatu ketika beliau menyaksikan hal unik. Kejadiannya saat pelaksanaan maulid Nabi SAW di sebuah dayah di Aceh tempo hari (Minggu, 16/11/2019).

Tepat disela-sela acara maulid, setelah Dhuhur. Pada saat sedang pembacaan doa, shalawat dan juga marhaban; tiba-tiba dari arah belakang gurunya (dari dalam kubah yang ukurannya tidak begitu besar) keluar cahaya agak kemerahan. Kemudian terlihat satu rombongan orang-orang berjubah dengan peci khasnya, keluar dari kubah dan mulai berjalan mengelilingi seluruh jamaah yang hadir.

Tidak kurang 1000 jamaah dari berbagai kalangan hadir pada perayaan maulid hari itu. Selain akademisi, ada TNI, Polri, PNS, pengusaha, mahasiswa, petani, nelayan, dan lainnya. Tua muda. Laki perempuan. Semuanya kelompok masyarakat yang menggemari dzikir.

Beliau seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia berusaha tetap menatap guru yang duduk di depan dan berusaha tidak terpengaruh dengan fenomena aneh itu. Dia tau, hanya dia saja yang melihat hal ini. Beliau mengakui itu terjadi dalam keadaan sadar. Sangat sadar. Namun suasana terasa sedikit berbeda. Mirip-mirip dalam mimpi.

Tiba-tiba, salah satu wujud spiritual yang ia lihat mulai mendekat dan duduk tepat di depannya. Yang beliau ingat, sosok itu agak kecil, sedikit kurus, dengan face Arab. Sekilas tidak mirip wajah nenek Hasyim, seorang ahli silsilah tariqah yang pernah hidup dan berjuang pada zaman Belanda, sebagaimana pernah ia saksikan fotonya. Ia tidak tau siapa beliau itu. Sosok-sosok ini baru menghilang saat doa selesai dan hidangan maulid dibuka.

Demikianlah. Abuya Sufimuda pernah berkata, “Maulid di dayah ini sedikit berbeda. Semua ahli silsilah yang diundang pasti hadir. Termasuk Rasulullah”. Maka tidak heran banyak murid yang menangis dan ikut merasakan kehadiran para tamu istimewa.

Perkara serupa juga terjadi pada maulid yang lalu di dayah yang sama. Teungku Iskandar asal Pidie Jaya, usianya sudah lanjut dan biasa dipanggil “ayah”, tiba-tiba menangis sejadi-jadinya. Pasalnya, ia baru saja merajuk dalam doanya. “Ya Rasulullah, sudah berpuluh tahun aku melakukan kenduri maulid. Tapi tidak pernah melihat wajah-Mu. Izinkan aku menatap walau hanya sesaat”, begitu dalam sela-sela dzikir maulid ia meminta.

Tiba-tiba satu wujud spiritual yang terlihat begitu anggun “hadir” di depannya. Kontan ia menangis keras dan bersujud. Dan itu merupakan pengalaman batiniah paling membekas dalam dirinya. Sampai hari ini ia masih menangis setiap mengingat hal itu.

Pengalaman-pengalaman ruhaniah seperti ini lazim dijumpai dalam dunia sufi. Dinamika beragama melalui dimensi dzikir tang dipimpin para ulama kasyaf sangatlah tinggi. Karena selalu ada hal ihwal, kondisi-kondisi yang memungkinkan para salik menyaksikan banyak hal. Dan Ilmu tertinggi dalam Islam adalah “ilmu kehadiran”. Ilmu yang bisa merasakan kehadiran Allah dan Rasulnya.

Sebagai penutup, kami kembali mengulang kata-kata seorang Guru sufi: “Membuat maulid itu mudah. Mengundang Rasulullah, itu yang susah”.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
powered by PEMUDA SUFI:
Bahagia, Kaya dan Terpelajar.

1 Comment

  1. Abdul Qadir

    Allahummashalliala muhammad
    😭😭😭😭

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s