AGAMA TEORI DAN AGAMA RASA

image: “conscious” (gcn.com)

Agama Teori dan Agama Rasa
Oleh Said Idris Athari Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Agama adalah teori, sekaligus rasa. Sebagai teori, agama sudah clear. Ada buku yang tebalnya 30 juz, berisi 114 surah, dengan lebih dari 6000 ayat; menjelaskan apa-apa yang dianggap patut untuk kita ketahui. Walau banyak juga yang masih hipotetis, belum kita mengerti.

Jadi, banyak informasi yang terdokumentasi dalam Alquran. Secara umum terkait wujud Tuhan (tauhid) dan elemen sakral lainnya, cara penyembahan (syariat), dan nilai-nilai kebaikan (akhlak).

Dalam format lain, Alquran juga disebut sebagai kompilasi berita atau pengalaman-pengalaman penting terkait kenabian dan keshalehan orang-orang terdahulu. Namun tidak semuanya kita pahami. Banyak yang samar. Sehingga butuh metodologi khusus untuk menguji, mengetahui atau memverifikasi.

Selama itu tidak terkonfirmasi, maka ayat-ayat itu tetap akan menjadi “temuan terdahulu”. Benar, bahwa hal tersebut pernah terjadi dan diverifikasi pada zaman silam. Namun pertanyaannya, apakah itu masih aplicable untuk masa sekarang? Apakah masih bisa diuji? Apakah kebenaran ayat itu dapat direplika pada setiap zaman dan tempat? Apakah pengalaman serupa dapat diulangi?

Sebagai kaum akademisi, ulama atau intelektual; kerjaan kita bukan sekedar menghafal teori. Tapi juga menguji. Termasuk hal-hal yang sudah dianggap benar. Ketika ayat-ayat itu dulu “terbukti” dalam konteks Arab, apakah itu juga bisa dibuktikan pada konteks kita disini dan sekarang? Universalitas Islam akan terbukti kalau kebenaran itu bisa diuji dan berlaku untuk semua. Jika tidak, maka akan menjadi teoritis. Hipotetis.

Misalnya. Alquran mengisahkan pengalaman orang-orang shaleh yang berjumpa Allah, berdialog dengan malaikat, mengalami kontak dengan ruh, keberadaan dosa, pahala, dan sejenisnya. Ini untuk kasus-kasus ontologis (pembuktian wujud). Apakah pengalaman ini juga bisa kita verifikasi (alami) pada saat ini? Atau itu hanya kebenaran untuk dialami orang Arab, Nasrani dan Yahudi terdahulu saja?

Kalau kita yakin Alquran itu universal, berlaku untuk semua zaman dan tempat, maka harusnya kita juga dapat merasakan hal yang sama. Agama tentunya tidak boleh berubah atau diubah. Sehingga apa yang dirasakan Muhammad SAW dan nabi-nabi lain ribuan tahun lalu, seharusnya juga dapat kita rasa dalam konteks kita. Kalau dengan beragama para nabi dan orang shaleh mengalami banyak fenomena spiritual (inti agama adalah spiritualitas), sementara kita sudah tidak bisa, maka ada yang hilang (berubah) dari agama ini.

Islam sebagai agama “ilmiah” harus terus di uji. Apakah fenomena dan rasa yang secara teoritis disebutkan dalam kitab-kitab masih dapat dialami atau tidak. Untuk itulah, Islam juga memiliki satu dimensi akademik (pembuktian pengetahuan) dengan metodologi (tariqah) tertentu yang dapat membuktikan kebenaran sejumlah dimensi yang secara awam dianggap tidak terjangkau (gaib).

Secara umum, semua hal yang ada di dunia sifatnya “gaib”. Bahkan semua eksistensi lahiriah yang kita lihat dan rasakan sehari-hari tidak lebih dari wujud “fenomena” (alias ayat atau tanda-tanda) dari keberadaan sesuatu yang lebih halus. Skripsi, tesis, dan disertasi semuanya bertujuan untuk membuktikan hal-hal “gaib” (belum diketahui hakikat/ kebenarannya) dari berbagai objek yang ada di tengah alam dan masyarakat. Semua kita makhluk curious, ingin tau yang tersembunyi.

Termasuk ilmu “empirik”, itu juga bertujuan menggali unsur-unsur “gaib” yang menyelimuti partikel materi di alam semesta. Sehingga lahir berbagai hukum terkait man and nature. Namun masih banyak quanta-quanta gaib yang belum terpecahkan dari partikel-partikel semesta. Demikian juga metode “makrifat” (tasawuf tarekat), juga bertujuan menguji objek-objek yang lebih kasat (metafisik).

Dengan metodologi yang benar, semua bisa diuji atau dibuktikan eksistensinya. Hanya saja, ketertarikan kita kepada pengujian unsur-unsur batiniah (ruhiyah) cenderung kurang. Padahal, banyak persoalan ontologis dalam kitab suci yang seharusnya juga kita temukan wujudnya. Tujuannya, agar kita mampu beragama lebih tinggi dari sekedar doktrin. Beragama yang sempurna harus sampai pada level “confirmed”. Menyaksikan sendiri. Merasakan langsung.

Itulah sumber bahagia dalam beragama. Bukan karena sekedar percaya (iman). Tapi ikut merasa. Sebab, kita bukan makhluk mekanik. Maka bangunlah amal shaleh dengan basis rasa (ihsan). Sebab, kalau sekedar rajin, disiplin, dan rutin beribadah; robot juga bisa. Pun kalau sekedar kuat menghafal, mencatat teori dan menyimpan data; komputer dan storage lain sudah banyak yang bisa. Tapi untuk merasakan kedekatan dengan Allah dan rasul dalam shalat dan perjuangan kita, itu yang langka. Itulah bahagia. Hadirnya yang dipercaya.

Itulah yang tidak dialami bang Machyar Kumbang, seorang warga Aceh di Amerika, yang videonya “Rukun Dongeng Tidak Berfakta” beredar baru-baru ini. Dia sudah lelah dengan indoktrinasi, yang kelihatannya sudah dihafalkan kepadanya sejak kecil. Beliau tidak pernah menemukan Guru, atau diajarkan metodologi untuk memfaktualkan apa yang disuruh yakini. Banyak orang beragama yang sudah cenderung acuh, agnostik atau ateis seperti itu. Di Arab Saudi sekalipun, tempat Kakbah berpusat, juga banyak warganya terjangkiti problem serupa. Akibat terlanjur beriman, tapi tidak sampai pada level mengalami.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
powered by PEMUDA SUFI:
Bahagia, Kaya dan Terpelajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s