MERAJUT SAINS YANG TERKOYAK

image: azquotes.com

MERAJUT SAINS YANG TERKOYAK
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM.  Dunia cenderung menempatkan metafisika sebagai “the second knowledge.” Sehingga, orang-orang terhambat untuk masuk ke ranah niskala (alam gaib). Disatu sisi, dunia memang maju secara ekonomi dan teknologis. Tapi juga galau dan eksploitatif. Sebab, kita tidak begitu terhubung dengan puncak dari mata rantai wujud yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Ada cacat besar dalam paradigma kelimuan yang menyebabkan sains metafisika menjadi asing, terpisah dari dunia empiris.

Istilah metafisika ini muncul dalam ensiklopedia kumpulan tulisan Aristoteles (384 SM – 322 SM). Setelah meninggal, karya-karya sosok yang dikenal sebagai “Guru Pertama” (Muallim Awwal) ini dibukukan oleh Andronikos de Rhodes pada tahun 70 SM. Produk pemikiran murid terbaik Plato tersebut disusun dalam dua kategori. Bagian pertama berkenaan ilmu-ilmu fisika (sains alam, matematika, etika, sosial, ekonomi, logika dan sebagainya). Bagian kedua berisi berbagai pengetahuan tentang wujud immateri (Tuhan, jiwa, tingkatan intelegensi dan lainnya).

Karena itu, semua kompilasi  pemikiran guru Iskandar Zulkarnain (Alexander the Great) setelah bab ilmu fisika disebut metafisika. Meta artinya “setelah” (yang) fisik. Sehingga, fisika menjadi ilmu utama. Selebihnya, ya di luar yang utama itu. Setidaknya demikian yang terjadi ketika dunia pengetahuan dikooptasi sedemikian lama oleh positivisme barat. Fisika dan metafisika menjadi terpisah. Banyak pelajar Eropa menganggap metafisika sebagai hiperfisika, yang subjek ilmunya berupa fenomena eksternal alam. Kenyataannya, sains metafisik meliputi yang alami dan adialami. Singkatnya, semua yang wujud. Secara keliru mereka mendefinisikan: “Metafisika adalah sains yang berkaitan semata-mata dengan Tuhan dan fenomena yang terpisah dari alam” (M. Muthahhari, 2002. Filsafat Hikmah, hal.52, Penerbit: Mizan). Bahkan metafisika dianggap ilmu yang membawa bid’ah. Di grup akademisi sekalipun, kami pernah diframe sebagai zindiq, karena giat mengulas sains tasawuf (hakikat).

Beberapa dekade silam kita menyimak, bagaimana Wahabisme yang dikembangkan Arab Saudi juga agresif mempromosikan pemikiran yang “split” seperti itu. Gerakan salafi mencoba menceraikan yang sacred dengan yang profane. Di barat, hal ini telah lama berujung pada sekularisme dan ateisme. Di kita, kondisi tersebut mengakibatkan agama terhenti hanya pada level ibadah yang bernilai tekstual (lahiriah/hafalan) saja. Mengkaji, membangun pengetahuan dan amalan-amalan untuk terkoneksi dengan Yang Maha Suci (seperti zikir-zikir dalam tradisi irfan dan tariqah) dinilai syirik.

Dunia pendidikan kita sejak era kolonial memang terseret dalam arus pemisahan kedua kutub pengetahuan ini. Setidaknya, kita masih ditakut-takuti untuk tidak mengembangkan metodologi-metodologi untuk menjangkau wujud metafisis (ma ba’d al-thabi’ah). Kekhawatiran ini mungkin juga diakibatkan oleh praktik-praktik pseudo-spiritual yang banyak menggiring masyarakat kepada asketisme (perdukunan).

Sebenarnya, menempatkan metafisika sebagai ilmu yang tingkat signifikansinya berada “setelah” fisika adalah keliru. Dan itu termasuk cara berfikir yang mengoyak bangunan pengetahuan. Setidaknya ia setara. Bahkan, seperti kata Ibnu Sina, apa yang kita sebut sebagai “meta”-fisik, sebenarnya adalah  “pro”-fisik (awal dari fisik). Subjek-subjek tentang Tuhan dan berbagai energi yang menyertainya, keberadaannya telah mendahului alam (fisik). Itulah mengapa, beragama diawali dengan rukun iman: percaya kepada adanya Tuhan.  Dan salah satu bentuk proses pembuktian metafisisnya disebut makrifatullah (metodologi verifikasi rasional-intuitif akan kebenaran Tuhan).

Alih-alih memisahkan kedua ilmu ini, kenyataannya, mereka adalah satu. Hasil-hasil riset terkini menguraikan “keterintegrasian” kedua dimensi ini. Seperti disimpulkan oleh fisika quantum, asal-usul alam fisik adalah kegaiban (‘kekosongan’). We are smimming in the void. Dunia gaib (metafisik) dan kasat (fisik) tidak terpisah. Kita yang terlihat “nyata” ini, sebenarnya “gaib”. Kita ini sejatinya wujud metafisik -yang secara ‘ilutif’ memiliki dimensi fisik. Kami pernah menjelaskan ini dalam artikel: “Fisika Kuantum Membenarkan: Dunia ini Fana”.

Sejak Max Planck menerima Nobel Prize terkait temuannya di bidang quantum physics pada 1918, telah intensif lahir publikasi-publikasi yang menjelaskan fenomena “kesatuan wujud” segala eksistensi. Rasionalitas sains makin hari makin mengukuhkan keyakinan ontologis kaum sufi tentang wahdatul wujud, sesuatu yang dulu begitu diributkan dan sulit dipahami. Hari ini, menolak konsep kemanunggalan semesta akan dianggap sebagai orang-orang yang “kurang baca”. Memisahkan metafisika dari fisika, Tuhan dan manusia, akan menempatkan anda dalam kelompok masyarakat yang tidak lagi ilmiah. Begitulah trend pengetahuan yang sedang terbangun. Dunia sedang mengalami proses integrasi keilmuan (multidisciplinary approach). Para pakar sedang merajut sains yang terkoyak. Para ilmuan sedang menyatukan timur dengan barat. Dimensi dhahir dan batin, syariat dan tarekat, sedang menuju titik kemanunggalan. Tidak terpisahkan. Ahad!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
powered by PEMUDA SUFI:
Bahagia, Kaya dan Terpelajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s