BUKAN MENJADI PEMIMPIN, TAPI MENJADIKAN ALLAH SEBAGAI PEMIMPIN

image: 73th HMI, 5 Februari 1947 | 2020

Bukan menjadi Pemimpin, Tapi menjadikan Allah sebagai Pemimpin
Oleh Said Muniruddin | Presidium MW KAHMI Aceh (Penulis Buku Bintang ‘Arasy)

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Merujuk pada angka kelahiran 5-2-1947 dan usia HMI yang ke 73, kami ingin menyampaikan tiga pesan:

1. Tingkatkan Tolong Menolong dalam Kebaikan, Bukan dalam Dosa dan Kejahatan (QS. 5:2)

Peradaban harus dibangun dengan kekuatan komunal (kesatuan), ideologi serta cara-cara yang benar. Bukan dengan membentuk kelompok partisan guna saling hina dan menyebar kebohongan (hoaks). Bukan pula dengan dengan menguasai mimbar-mimbar agama lalu memprovokasi masa guna menghina kelompok-kelompok lainnya (radikalisme). Hakikat HMI adalah sinergi dan networking dalam “amar makruf dan nahi mungkar”. Puncaknya adalah “takwa” (punya rasa takut kepada Allah). Jika lemah silaturahmi dalam mengadvokasi kebaikan serta berlaku jahat kepada sesama, akan turun azab pedih dari Allah ta’ala (berupa degradasi sosial dan ekonomi bangsa):

… وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya” (QS. 5:2).

2. Perbanyak Taubat (QS. 19:47)

Dalam gerak individu dan keorganisasian, tidak bisa dipungkiri, banyak sekali noda yang melekat pada diri kita. Apalagi dunia politik dan intelektual yang penuh intrik. Maka usaha mensucikan jiwa harus terus ada. Allah Maha Pengampun. Bertaubatlah. Up-grade spiritualitas. Carilah wasilah, para wali, mursyid, master, guru atau orang-orang yang dapat membimbing kita menuju Allah. Ambil mereka sebagai sahabat atau guru yang ikut mendoakan dan meminta keampunan selama penapakan ruhani. Semua gerak aktivisme kita pada hakikatnya adalah perjalanan jiwa menuju Allah. Semoga kita selamat:

قَالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ ۖ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي ۖ إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا

“Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku (QS. 19:47).

3. Organisasi leadership adalah “organisasi zikir”, organisasi yang belajar menangkap sinyal-sinyal ilahiyah dan menjadikan Allah sebagai pemimpin (QS. 7:3)

Salah satu ke-“aku”-an (dosa terbesar) organisasi perkaderan adalah membangun nafsu agar orang-orangnya menjadi pemimpin. Padahal, pendidikan leadership itu hanyalah upaya menghadirkan Allah dalam diri para kader (alumni), sehingga Dia sendiri yang harusnya memimpin kita. Lihatlah para nabi. Apakah anda pikir mereka itu pemimpin? Bukan! Mereka “follower”, orang-orang yang telah menyerahkan diri untuk sepenuhnya dipimpin oleh Tuhan.

Lihatlah betapa banyak kerusakan yang telah ditimbulkan oleh orang-orang yang telah menjadikan setan (dirinya) sebagai pemimpin. Oleh karena itu, menjadi kader adalah belajar mewarisi Nabi. Belajar taat dan berserah diri. Belajar menjadi budak. Belajar menjadi hamba. Belajar untuk digerakkan oleh kekuatan-kekuatan yang datang dari sisi-Nya. Maka syarat utama untuk menjadi kader HMI sejati adalah mencapai “makrifat” (menjadi insan kamil/insan cita). Yaitu insan yang jiwanya memiliki kadar kesempurnaan, yang memungkinkan bagi Allah untuk bertajalli dalam segenap aspek kemanusiaan. Dengan demikian, gerak perjuangannya senantiasa dalam tuntunan “muraqabah” (mengikuti petunjuk/taufik/hidayah/ridha Allah SWT).

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikit kamu mengingat (berzikir)” (QS.7:3).

image: “be a true fighter”

Selamat milad ke 73. Bahagia HMI!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****