HATI-HATI, CORONA MENYEBAR MELALUI WA

image: “Gerakan Masyarakat Hidup Sehat”

Hati-Hati, Corona Menyebar Melalui WA
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Awalnya tidak ada yang khawatir akan terkena corona, sampai kita membaca WA.

Katanya, kalau terjangkit wabah corona rasanya seperti masuk angin. Akibat informasi ini, mulailah badan kita bereaksi. Punggung seperti ada nyeri. Perut terasa ada kembung-kembungnya. Mual. Kepala mulai berdenyut sendiri. Tenggorokan pun seolah-olah terasa gatal. Tanpa sengaja keluar batuk.

Ciri-ciri lain terimbas corona, katanya, badan demam. Lalu mulailah kita merasa-rasa, ada suhu badan yang berbeda. Kepala agak pening. Semacam mabuk. Hidung muncul gatal, mulai tarik-tarik ingus. Meskipun itu semua, boleh jadi, hanya ilusi.

Akibat informasi-informasi yang kita terima terkait ciri-ciri corona, kita mulai mengamati setiap jengkal rasa yang muncul di badan. Mulai bertambah-tambah rasa tidak enak. Akibat khawatir dan rasa was-was, muncul lelah dan nyeri di sendi. Suara ikut serak. Juga sulit bernafas. Penglihatan terasa berkunang, sedikit tidak nyaman. Padahal, boleh jadi, itu akibat semalam lama bergadang.

***

Corona itu menyerang fisik. Tapi sebelum itu terjadi, bagi kebanyakan orang, ia terlebih dahulu menghantam alam metafisik. Ketika bawah sadar kita goyah, barulah ia menembus semua lini. Memang begitu kerja penyakit. Berbagai problematika yang muncul ke alam nyata, umumnya terjadi akibat kerapuhan di alam ruhani. “The Biology of Belief” (Profesor Bruce Lipton, 2005) termasuk salah satu buku terbaik yang menjelaskan secara ilmiah mekanisme emanasi informasi terhadap self-healing.

Oleh karena itu, Guru kita Abuya Sayyidi Syeikh Ahmad Sufimuda selalu menjelaskan. Perbaiki hubunganmu dengan Allah. Kalau di alam sana kamu sehat dan bahagia, di alam ini kamu juga akan dijauhkan dari wabah dan bencana. Disinilah sebenarnya letak urgensi ibadah suluk (menyendiri/menyepi). Kita mengisolasi diri beberapa waktu guna menyerap hanya informasi-informasi bernilai ilahiyah. Sebab, informasi dan interaksi duniawi, alih-alih membuat kita cerdas, sebagian besar justru memunculkan bodoh dan resah. Karena kontennya virus dan bakteri.

Inilah amalan para nabi dan orang-orang shalih. Mereka secara reguler membangun ketangguhan jiwa melalui proses inkubasi spiritual, sehingga senantiasa terbentengi dalam kapsul pertolongan. Suluk yang dibimbing oleh seorang “Jibril” (walimursyid) itulah yang menjadi metode yang memungkinkan bagi “turunnya” Al-Qur’an yang asli. Yaitu, Al-Qur’an batiniah (RUH) yang tidak berhuruf dan bersuara, yang menjadi obat untuk segala wabah dan bala:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al-Isra: 82).

Ingat. Menjaga kesehatan fisik itu penting. Tapi tak kalah jauh lebih penting bagi kita adalah, menjaga kesehatan jiwa. Tahun 2020, slogannya: “Hidup Sehat dan Bahagia.”

BACA JUGA: “KURUN YANG BERAT”

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
powered by PEMUDA SUFI:
Bahagia, Kaya dan Terpelajar