AYO, LOCKDOWN!

image: “Lockdown” (Dayah Sufimuda, 29 Februari – 08 Maret 2020)

Ayo, Lockdown!
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Melihat pola penyebarannya, dapat disimpulkan. Corona adalah jenis wabah, yang kalau kita keluar rumah dan berada di kerumunan pasti tertular (dan menularkan). Pasti. Penyakit inipun punya karakter membunuh. Masalah mati atau tidak, tergantung imun tubuh. Maka sebelum kuburan masal digali, tidak ada obat yang paling efektif, selain mengurung diri. Atau apa yang sekarang dipopulerkan dengan lockdown, social distancing, dan juga isolasi mandiri.

Usaha menyepi selama beberapa waktu, tentu untuk tujuan-tujuan yang lebih tinggi, dalam tradisi spiritual Islam disebut “khalwat” (di Aceh disebut kaluet). Dalam beberapa jamaah sufi lainnya disebut “suluk”. Semuanya bentuk menyendiri dari “penyakit dunia”. Ada yang melakukannya 10 hari. Bahkan juga 40 hari (QS. Al-‘Araf: 142). Selama periode itu, semuanya total lockdown. Mulut terkunci. Mata dihijabi. Gerak dibatasi. Asupan yang tak perlu juga dihindari. Kita tidak butuh apa-apa, selain kesabaran tingkat tinggi.

“Mengurung diri” ala sufi ini bukanlah satu bentuk sikap pasif yang lahir dari keputusasaan, ketakutan, atau ketakberdayaan. Sebab, yang disebut suluk adalah sebuah metodologi riyadhah atau munajat yang dilakukan secara ketat guna mengaktivasi dimensi ruhani. Ada master of training-nya (mursyid). Dan idealnya adalah seseorang yang berkapasitas sebagai nabi atau wali. Sebab, yang dibimbing adalah elemen batin, unsur terhalus dari manusia. Dalam Alquran, proses ini disebut “penyucian jiwa” (QS. Al-‘Ala: 14-15).

Terlalu banyak virus (alias “jin”) yang hinggap dalam aktivitas sehari-hari, sehingga mengharuskan kita untuk memiliki ruang pembersihan diri. Sehingga kita dapat kembali terkoneksi dengan Wujud paling hakiki, al-ruh al-ilahi, atau informasi-informasi malakut yang bernilai suci.

Salah satu virus paling parah adalah pandemi informasi. Mental dan persepsi yang merupakan komponen jiwa, diformat oleh apa yang kita dengar, lihat dan baca. Manusia dibentuk oleh semua fakultas pengetahuan ini. Bayangkan, pengetahuan apa yang telah kita terima sehingga saling menghujat pada setiap Pilkada? Pengajian apa yang telah kita ikuti sehingga senang mengkafirkan Syiah atau Sunni? Pendidikan apa yang telah kita tempuh sampai hobi mencerca Cina, Arab dan suku bangsa lainnya? Informasi apa yang telah merasuki kita sehingga lahir sikap benci, penuh prasangka, curiga, dan sombong.

Betapa banyak sampah yang kita kunyah setiap hari akibat membaca WA dan hubungan sosial lainnya. Semua itu membentuk kita. Lingkungan anda adalah virus, jin, bahkan setan; yang terkadang lebih mematikan dari Corona. Lalu alam sesekali hadir untuk menegur, agar kita kembali ke fitrah, bersih lahir dan batin. Bahkan cara mencuci tangan yang benarpun baru kita pelajari di tahun 2020 setelah muncul tha’un Corona. Apakah kita harus menunggu datangnya jenis penyakit lain supaya mau belajar cara yang benar untuk penyucian jiwa?

Disaat dunia semakin “datar”, interaksi semakin tidak berbatas, arus komunikasi semakin tidak terbendung; alam kembali memberi isyarat. Kita mesti memiliki ruang untuk “menarik diri”. Alam mengirim sinyal, bahwa apa yang kita anggap sebagai pekerjaan dan kesibukan, dalam skala tertentu sebenarnya tidak lebih dari benih-benih “setan” (penyakit), QS. Shad: 41. Sebagaimana dialami Ayyub, semua akan sehat kembali, manakala ada inisiatif untuk sesaat bersembunyi.

Jelas sekali. Alam punya mekanisme untuk mengembalikan manusia akhir zaman yang makin asik mengejar harapan tak bertepi, kepada bentuk kehidupan yang mengapresiasi aturan-aturan lockdown secara mandiri. Jika kita pelajari guru-guru spiritual agung sepanjang sejarah, mereka hidup dengan pola ini. Muhammad, Isa, Maryam, Musa, Sidharta Gautama dan lainnya. Tidak ada yang meragukan kesibukan duniawi mereka dalam mengurus manusia. Tapi masih memiliki waktu-waktu untuk “mengunci diri”. Di gua. Di gunung. Di rumah. Di kelambu. Di perut ikan, dan sebagainya. Perilaku ini yang membuat mereka tetap sehat. Lahir dan batin. Bahkan benar-benar terhubung dan berjumpa dengan Tuhan.

Inilah yang hilang dalam kehidupan manusia modern. Tidak ada lagi mihrab untuk menyendiri. Tidak ada inisiatif untuk membangun kesibukan dan kekhusyukan, dalam masa tertentu, dengan Tuhannya saja. Sebagian besar kita ada keinginan untuk menjalani ritual-ritual lockdown seperti itu. Tetapi tidak mengetahui metode yang efektif, sebagaimana yang dijalani para maha guru arif rabbani.

Pandemi Corona, serta paksaan dari otoritas ulama dan pemerintah untuk mengurung diri, menginspirasi kami untuk menulis “BUBARNYA AGAMA”. Sebuah puisi sufistik, yang pesan-pesan lockdown-nya ikut direspon oleh salah satu anggota dewan Kota Banda Aceh dalam kerangka suluk:

MAU PAHAM PUISI SAID MUNIR?
Oleh Syarifah Munirah

Jauh sebelum ada himbauan
Dari Presiden dan Gubernur
Dari Bupati dan Walikota
Dari MUI dan sebagainya

Yang Mulia Guru
Abuya Saidi Syekh
Telah mengajak kami
Menlockdownkan diri
Mengisolasi jiwa dan raga
Dari dunia fana

Dalam ruang kecil
Berdinding putih
Beralaskan sajadah
Berbekal kerikil dan tasbih

Di Gunong Reubo
Dua pekan sudah
Berkhalwat dan bercinta
Syahdu dengan Kekasih
Tentu “dicombangi”
Oleh Sang Wali

Dalam kelambu
Siang malam mesra
Tanpa suara dan kata-kata
Menopang lidah
Bermain hati
Mematikan akal
Menunggu Dia menyapa

Syahdu sekali
Lebih dari 300 orang
Tak terdengar suara
Semua asyik mencari frekuensi
Agar tersambung dengan Yang Hakiki

Dengan wasilah dan rabithah
Kekasihpun datang
Jiwa berubah tenang
Raga menjadi sehat
Kamipun tidak terlacak
Oleh penyakit dunia

Ampun beribu ampun
Terima kasih sudah berkenan
Menjadi murid-Mu wahai Tuhan

Semoga yang lain segera menyusul
Supaya bisa memahami
Puisi Said Munir di bawah ini

Insha Allah Sulok Ramadhan
Kami mendaftar kembali

Banda Aceh, 18 Maret 2020

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2843459025738357&id=100002228627104

***

Kami ikut berdo’a. Tentu dengan syafaat nabi, rasul dan para wali kekasih-Nya; semoga kita semua dijauhkan Allah dari aneka ragam penyakit, wabah, bala bencana, paceklik, segala macam kekurangan, cobaan, kekejian dan kemungkaran. Ayo, lockdown: physically and spiritually!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
powered by PEMUDA SUFI:
Bahagia, Kaya dan Terpelajar.