WAHDATUL WUJUD

image: “penyatuan” api dengan besi.

Wahdatul Wujud
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Bisakah kita “melihat”, “berjumpa”, “terhubung”, “nyambung”, “merasakan” “terkoneksi”, “kembali”, atau “menyatu” dengan Allah?

Jauh-jauh hari kita sudah sepakat, Allah itu bukan sosok (wujud) yang memakai jas dan dasi, yang ada di “luar” sana untuk dijumpai. Seperti menjumpai presiden melalui “space” journey. Laitsa kamislihi syai’un. Dia bukan semacam itu.

Dia adalah sosok “dalam”, yang hanya bisa dijumpai melalui “dimensional” journey (perjalanan batin/mikraj/night journey). Melalui perjalanan internal jiwa inilah kemudian kita bisa melihat Dia ada “dimana-mana”.

Karena bagi siapapun yang pernah mengalami pengalaman transendental (terutama para nabi/sufi), akan merasakan keunikan dari eksistensi jiwa. Bahwa kita ini benar-benar terhubung, bahagian atau replika dari segala sesuatu di alam semesta. Ketika ini kita alami, itulah “fana” (lebur). Artinya, ruhani kita sudah ruju’, menyatu atau kembali pada-Nya. Kesadaran rendah kita sudah ‘mati’. Wujud Maha Batiniah telah hadir, atau kembali aktual dalam diri kita.

Pada saat demikian, kata-kata kita bisa menjadi firman. Karena semuanya pancaran dari alam yang lebih tinggi. Kita ini jaringan dari matriks ilahi. Ada kekuatan kosmik yang maha agung yang menggerakkan dan menghidupkan tangan, kaki, mata, mulut dan telinga kita. Kita, dalam skala tertentu, bahkan sudah ‘jadi’ Tuhan itu sendiri. Seperti Muhammad, yang semua kata-kata dan geraknya bernilai suci. Dia telah menjadi ‘dhahirnya’ Allah. Dia itu perwujudan dari Asma Allah. Asma Allah pada hakikatnya adalah sesuatu yang tidak terpisahkan dari qudrah dan iradah Allah itu sendiri. Namun, kita tidak menyebut Muhammad adalah Allah. Beliau tetap manusia biasa. Namun ada elemen Tuhan (Wahyu) yang aktif dalam dirinya. Dengan demikian, dia itu Kalamullah, Ruhullah, Kalimah, atau Akal Aktif dari Tuhan itu sendiri. Tajalli-Nya.

Dalam tradisi sufisme, Al-Hallaj cenderung menggunakan istilah “hulul” (turun) untuk menggambarkan bentuk penyatuan ini. Kekuatan Malaikat dan Ruh yang merupakan Cahaya Tuhan itu sendiri, “turun” ke dalam diri/jiwa manusia. “Tanazzalul Malaaikatu war-Ruh…”. Sementara Abu Yazid Albistami memakai terminologi “ittihad” (naik). Jiwa manusia “diangkat”, “naik” atau mikraj (ascending) kesisi-Nya. Di puncak pengalaman, terjadilah penyatuan sehingga melahirkan sebuah visi yang “serba meliputi”(sidrah almuntaha).

Baik hulul atau ittihad, keduanya bermakna “menyatu”. Bagian dari tauhid sufi, “Dia lebih dekat dari urat leher.” Dengan demikian, wahdatul wujud. Namun konsep ini tidak membuat nyaman kelompok teolog lainnya, yang telah mewajibkan Tuhan untuk menjaga “jarak” dari manusia.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

BACA JUGA: “Lagi Nonton TV atau Nonton Jokowi?”, “Merajut Sains yang Terkoyak”, “Demokrasi Wujudiyah”, “Mengenal Malaikat”, “Seakan-akan Melihat Allah”, “The Power of Shalat: Rahasia Ibadat Ahli Makrifat”.
___________________
powered by PEMUDA SUFI:
Bahagia, Kaya dan Terpelajar.