INI BUKAN ZAMANNYA LAPAR, TAPI WAJIB LAPAR

Ini Bukan Zamannya Lapar, Tapi Wajib Lapar
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Hari ini, jumlah orang yang mati karena kenyang, lebih banyak daripada yang mati karena lapar. Pada 2010 misalnya, obesitas telah membunuh 3 juta orang. Sedangkan kelaparan bersama gizi buruk hanya menewaskan 1 juta jiwa. Data 2014 menunjukkan hal tak kalah mengejutkan. Lebih dari 2,1 milyar penduduk bumi mengalami kelebihan berat badan. Sementara penderita gizi buruk kurang dari setengahnya, 850 juta orang. Tak tanggung-tanggung, setengah penduduk bumi diprediksi akan menderita obesitas pada 2030 (Y.N. Hariri, 2015, hal.6).

Era sudah berubah. Ini bukan lagi zamannya orang-orang kurus dan lapar. Ini bukan Perancis periode 1692-1694, yang 15 persen populasinya (2,8 juta orang) mati begitu saja. Sementara sisanya mengkonsumsi makanan kotor layaknya kucing. Ini juga bukan sejarah Estonia 1695 yang seperlima warganya mati. Juga bukan Finlandia tahun 1696 yang sampai sepertiga populasinya meregang nyawa. Juga bukan Skotlandia yang sebagian daerahnya menewaskan sampai 20 persen populasi. Semua terjadi karena lapar, cuaca buruk dan gagal panen.

Ini zamannya orang-orang gemuk dan kenyang. Kalaupun masih ada yang lapar, itu hanya sisa-sisa dari sistem politik sialan. Misal, ada daerah yang anggarannya melimpah. Tambang emas dan minyak dimana-mana. Tapi rakyatnya busung terbungkus tulang. Itu sialan. Sejatinya, kemiskinan struktural ini produk aristokrat abad pertengahan, ataupun bandit-bandit politik masa Romawi silam. Kenyataannya, pemerintahan sejumlah daerah masih dikuasai para begal. Sesuatu yang sebenarnya tidak pantas untuk era demokrasi.

Di beberapa sudut bumi, kelaparan karena perang juga masih ada. Sebutlah Suriah. Yaman. Libya. Ini juga sisa-sisa kelaparan akibat kebijakan politik negara adikuasa, yang mengirim para cowboy-nya untuk mengamankan minyak dan berburu manusia. Perilaku merampok dan membunuh di negeri orang hanya tersisa pada sedikit negara, seperti USA dan beberapa aliansi kecilnya. Bandingkan dengan era kolonial. Hampir semua negara Eropa jadi perampok, dan hidup dengan berperang. Jadi, kalau masih ada segolongan orang yang lapar akibat perang, itu sisa-sisa kerakusan segelintir kapitalis tapi menggurita, yang perilaku invansif kolonialnya seharusnya tidak ada lagi di abad modern ini.

Orang lapar karena faktor alam dan bencana juga sudah tidak ada. Benar, saat bencana orang-orang menderita lapar. Tapi sebentar. Sebab; NGO, donor dan relawan langsung datang membawa bantuan. Beda dengan zaman dulu, kalau terjadi bencana di sebuah negeri, orang luar tidak tau atau lama baru tau. Mesir dan India abad pertengahan misalnya, ketika dilanda kekeringan parah, 5 sampai 10 persen penduduknya mati. Tidak ada pertolongan. Sekarang beda. Arus informasi sangat cepat. Akses transportasi dan logistik demikian hebat. Kalau terjadi bencana, laparnya sebentar, setelah itu langsung kenyang. Bayangkan, betapa banyak yang kaya raya dan kekenyangan setelah tsunami 2004. Bahkan lebih kaya dan kenyang dari sebelumnya.

Kesimpulannya apa?

Ada masa-masa ketika dunia ini diwarnai gagal panen, bencana dan perang. Pada kondisi ini, puasa (lapar) menjadi pilihan untuk efisiensi dan bertahan. Kini, dunia sudah berubah. Isunya bukan lagi bagaimana cara agar tidak lapar. Tapi bagaimana cara memberantas kenyang. Dunia sudah serba ada. Kehidupan telah menjadi syurga. Setiap hari kita ditawarkan makanan, fastfood dan aneka cemilan yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Mudah, cepat, dan terkadang murah. Anehnya, orang-orang justru banyak mati karena suplai berlebih ini. Kenikmatan telah berubah menjadi “khuldi”. Muncul kanker, jantung, diabetes, hipertensi dan lainnya dalam jumlah masif, akibat faktor konsumsi. Puasa, menahan diri untuk tidak makan, atau sering-sering tidak makan, menjadi satu-satunya menu istimewa kalau ingin sehat dan bahagia.

Untuk kondisi hari ini, 30 hari tidak lagi memadai untuk mengontrol kesehatan manusia. Kita butuh bentuk-bentuk lapar berkelanjutan, yang melampaui Ramadhan. Disinilah tradisi sufisme, yang “mewajibkan” hidup dalam kelaparan yang berulang-ulang, semakin urgen pada hari-hari mendatang. Lebih tinggi dari sekedar menahan “lapar dan dahaga” (diet/ghetto), dalam tradisi sufi ada metodologi bagaimana cara “berjumpa Tuhan” (liqa’). Bukan di akhirat, tapi justru pada momentum puasa:

للصائم فرحتان، فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه

“Bagi orang berpuasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya” (Hadis Qudsi, Muttafaq ‘alaihi)

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
powered by PEMUDA SUFI:
“Bahagia, Kaya dan Terpelajar”