DUKHAN DAN AJARAN KETAKUTAN

Dukhan dan Ajaran Ketakutan
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Di awal Ramadhan, banyak warga yang diam-diam membeli sampai 10 karung beras, dan menimbun berbagai bahan pokok lain dalam jumlah besar. Untuk dirinya sendiri. Katanya persiapan “Dukhan”, sebagaimana viral dalam ceramah beberapa ustadz. Asap ini, setelah ayat dan hadis di goreng sedemikian rupa, disimpulkan akan datang pada Jum’at pertengahan Ramadhan 2020.

Apa yang terjadi? Alih-alih munculnya asap, yang turun justru hujan. Banjir pula. Semoga menyapu bersih virus Corona.

Khutbah-khutbah untuk membuat takut masyarakat awam  akan terus bermunculan. Sejumlah agamawan berlomba-lomba melakukan peramalan nasib manusia, kapan kiamat atau sebuah huru-hara terjadi. Beda halnya dengan para nabi dan ulama kasyaf (tersambung ruhaninya dengan Allah), boleh dikatakan, mereka mengetahui dalam kadar tertentu kapan sesuatu terjadi. Namun tidak  diumumkan terbuka ke publik.

Kalaupun itu dilakukan, yang dibangun adalah preparedness mentality. Ada usaha-usaha untuk membangun ketahanan sosial dan ekonomi, bukan kepanikan. Seperti kasus Nuh membangun kapal, ataupun Yusuf menanam gandum. Sementara penceramah kita membuat dugaan-dugaan, yang seolah-olah pasti. Hal itu diceramahin secara terbuka. Jangan-jangan, ini  bukan lagi murni agama. Tapi bagian dari kehebohan di sosial media. To attract. Untuk meningkatkan jumlah viewer. It’s all about monetizing the dukhan.

Ramalan kiamat sudah pernah muncul pada 2012 silam, yang menimbulkan beragam reaksi. Sebenarnya, bencana dan kejadian alam luar biasa sudah ada sejak bumi tercipta. Hal itu memang tidak menyenangkan. Sebagaimana kesimpulan banyak riset psikologi, kematian merupakan bentuk rasa takut paling banyak hinggap dalam diri manusia. Dalam hal ini, agama hadir untuk mendukung pertumbuhan psikologi, dengan menawarkan berbagai keyakinan dan rasa. Dalam kenyataannya, ada aliran yang mengeksploitasi “neraka” (rasa takut manusia). Selain juga ada juga yang mengeksplorasi “syurga” (rasa cinta).

Dalam satu agama sekalipun, ada yang mengajak melihat Tuhan dengan rasa takut, ada juga dengan cinta. Masing-masing melahirkan mazhab yang berbeda: mazhab menakut-nakuti vs. mazhab penebar bahagia. Agamawan dalam kedua mazhab ini juga punya raut wajah berbeda. Yang satu selalu sangar dan berapi-api. Satu lagi suka senyum dan bercahaya.

Kurangnya rasa kemanusiaan, tumbuhnya perilaku korup, menipu, jahat, dan suka mengkafirkan; adalah bentuk-bentuk agama yang dididik dengan rasa takut. Rasa takut melahirkan pengikut yang tertekan. Sehingga berperilaku individualistik, eksklusif dan ignoran. Arogan dan intoleran. Penuh rasa curiga. Dengan demikian, sebuah even atau kejadian akan disikapi dengan perilaku “bagaimana cara mencari untung dan menyelamatkan diri”.

Berbeda dengan agama yang dididik dengan rasa cinta. Kejadian apapun, situasi pandemi sekalipun, akan terdorong jiwanya untuk mencari celah bagaimana cara membantu umat manusia. Tanpa memandang ras dan agama. Sekalipun Tuhan hari ini hadir untuk mengumumkan kiamat besok pagi, dia akan merespon dengan menanam sebatang pohon dengan harapan masih dapat tumbuh untuk meneduhkan masyarakatnya. Orang-orang seperti ini sebenarnya sudah lama mati. Sudah hidup disisi Tuhan. Jadi tak mempan ditakut-takuti. Kebutuhannya sudah mencukupi. Kalaupun Dukhan datang, terserah kapan, percayalah, Tuhan ingin melihat kita merespon dengan cinta.

Saudara-saudara sekalian, agama apa yang kita anut? Agama yang digerakkan oleh rasa takut, atau agama cinta? Kita bisa menguji diri dari cara berperilaku saat bencana: mengunci (menikmati) diri, atau membantu sesama? Saya menduga, hanya 1 persen dari total penduduk di suatu wilayah, yang hidupnya digerakkan oleh rasa syukur, cinta, dan saling berbagi. Ya, begitulah. Agama yang benar adalah agama minoritas. Agama yang menyemangati. Agama orang-orang yang bersyukur. “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur” (QS. Saba: 13). Wa qaliilun min ‘ibaadiyasy syakuur.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
powered by PEMUDA SUFI:
Bahagia, Kaya dan Terpelajar.