SIAPA YANG ‘MENUSUK’ JOKOWI?

Siapa yang ‘Menusuk’ Jokowi?
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. “Suatu ketika dalam mukasyafahnya Khwajah Ubaidillah Al-Ahror qs (1404–1490) mendapatkan penglihatan (vision) untuk menguatkan agama Allah. Tugas berat ini memerlukan dukungan kekuasaan politik yang mengatur kehidupan bermasyarakat. Beliau qs mendatangi Samarkand untuk menemui Mirza Abdullah bin Mirza Ibrahim bin Shahrukh penguasa kota tersebut.

Sesampainya di kota itu, seorang bangsawan menemuinya dan kepadanya beliau qs, menceritakan tujuannya ke Samarkand. Bangsawan tersebut menanggapi dengan kasar dan mengatakan, “Raja kami masih muda dan abai. Adalah sulit untuk beraudiensi dengannya. Dan apa hubungannya para sufi dengan tugas tersebut?”

Mendengar itu Syekh Ubaidillah Al-Ahror qs marah dan berkata, “Kami datang kemari bukan atas kemauan kami, tapi atas perintah Allah dan Rasul-Nya SAW, untuk menjalin hubungan dengan raja. Jika rajamu tidak memiliki perhatian atas persoalan ini, maka kami akan membawa raja lain.”

Ketika bangsawan itu pergi, Beliau qs, menuliskan nama raja Abdullah di dinding dan kemudian menghapusnya dengan air ludahnya dan berkata, “Misi kita tidak akan bisa diemban oleh raja ini dan bangsawan-bangsawannya.” Hazrat Syekh qs meninggalkan Samarkand pada hari itu juga. Bangsawan tersebut meninggal seminggu setelah itu dan sebulan kemudian Sultan Abu Sa’id Mirza berderap muncul dari timur Turkistan dan mengalahkan Sultan Mirza Adullah.”

***

Itulah sepenggal kisah seorang Sufi Agung abad kelima belas di Asia Tengah dalam percobaan pertamanya untuk melakukan pendekatan politik pada penguasa lokal. Lebih lengkap tentang kebesaran sosok wali dalam silsilah naqsyabandi yang kebesaran namanya menembus wilayah kekuasaan dinasti Timurid tersebut, dapat anda baca pada tulisan Fuad Al-Athor, “Syekh Ubaidillah Al-Ahror: Sufi Konglomerat dan Negarawan” (NU Online, 10 Juni 2017). Mukaddimah di atas saya kutip dari sumber tersebut.

Yang jadi catatan kami adalah terkait sebuah kabar. Lima ratus tahun setelah Syaikh Ubaidillah Al-Ahror, muncul seorang Sufi yang mewarisi spiritualnya. Ia juga melakukan hal yang sama. Kali ini bukan di Asia tengah. Melainkan di Indonesia. Kecintaan sang Sufi terhadap keberlangsungan negara membuatnya ingin hadir dalam diri Presiden. Tapi kelihatannya, ada ‘bangsawan’ istana yang menghalanginya bertemu. Alasannya mungkin bermiripan dengan sebelumnya: “Kami tidak kenal kamu!”, “apa urusan sufi dengan politik NKRI?”, “Pengikut kamu banyak tidak?”

Entahlah. Sejak saat itu, ekonomi Indonesia mulai linglung. Padahal ini periode kedua Jokowi mengelola negara. Utang menumpuk. Rupiah ambruk. Harga melambung. Harusnya ekonomi kita sudah lebih kuat dari periode pertama. The pandemy makes things even worst. Persis seperti dikatakan Sang Sufi, tidak ada satupun ‘bangsawan’ (menteri) di Republik ini yang dapat mengemban misi untuk mensejahterkan masyarakat. Mereka punya semuanya; intelijen, uang, kecerdasan. Yang tidak ada cuma satu: Ridha Tuhan.

Kalau suatu ketika pemerintahan kita benar-benar tumbang, anggaplah itu efek dari sapuan ludah sang Sufi, yang kecewa karena niatnya dihalangi bangsawan istana. Sebab, Jokowi itu baik. Tapi baik saja kelihatannya tidak cukup. Anda perlu networking dengan Tuhan. Kalau tidak, anda akan terus ‘ditusuk’ oleh lingkungan. Tanpa ada yang mampu menyelamatkan. Sampai tumbang!

BACA JUGA: “Irwandi dan Guru Sufi”

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin