“NYAK PO SYIEK”: SOSOK PEREMPUAN YANG SELALU MENAWARKAN MAKAN KEPADA SEMUA ORANG

Nyak Po Syiek
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Tidak perlu susah-susah mencari contoh kebaikan. Ketauladanan itu, terkadang muncul di tengah keluarga kita sendiri.

Saya punya nenek, sudah sekitar 17 tahun tiada. Namanya Cut Wan Kalsum. “Mak Lameue”, begitu kami memanggilnya. Karena ia juga ibu (atau “mak”) bagi kami, yang tinggal di Lameue (desa domisili kami saat kecil). Sementara orang-orang di kampung memanggil beliau “Nyak Po Syik”. Lebih kurang itu gelar senioritas kepada seorang perempuan mulia, mandiri dan berdaulat.

Ada yang unik dari beliau. Setiap saya melihat kedermawanan orang-orang hari ini, memori saya langsung terkoneksi dengan beliau. Beliau ini paling suka memberi makan orang-orang. Bayangkan, setiap hari ia undang orang untuk makan di rumahnya. Padahal, yang dimasak juga tidaklah istimewa. Paling ya ikan asin, telor, plus sayur melinjau bening bercampur asam sunti yang jumlahnya melimpah di kebun kami.

Kalau sudah siang, semua orang yang lewat di depan rumah dipanggilnya. Ditanyain, “Hei siapa itu, sudah makan belum?”. Dan disuruh masuk untuk makan. Tentu ada yang masuk, ada juga yang menolak dengan berbagai alasan sudah kenyang atau kesibukan-kesibukan.

Yang jelas, hampir tiap hari ada saja para penjual ikan, garam, manisan, tikar dan sebagainya; yang singgah di rumah. Tahun 80an – 90an, para pedagang masih berjualan naik sepeda berkeliling kampung dalam satu kecamatan, bahkan kabupaten. Terkadang ada transaksi antara Nyak Po Syik dengan para pedagang ini (saat itu masih berlaku sistem barter, misalnya garam ditukar dengan padi/beras). Terkadang tidak ada transaksi. Yang jelas, beliau seperti tau, para penjaja barang ini datang dari daerah jauh dan kalau sudah siang, pasti lapar. Lalu ditegur, disuruh makan. Sehingga ndak heran, banyak pedagang ini kalau sudah siang memastikan lewat depan rumah beliau. Karena sudah pasti dapat makan.

Saudara-saudara sekalian, kebiasaan “menyuapi orang-orang lapar” adalah tradisi paling kuno dalam sejarah kearifan manusia. Begitu tingginya nilai ini, sehingga Alquran dalam surah Quraisy ayat 4 menyebutnya sebagai salah satu akhlak Tuhan: “Alladzi ath’amahum min juuk”. Yang memberi mereka makan saat lapar.

Kalau akhlak ini terus hidup di tengah masyarakat, bangsa dan negara; mungkin kita tidak melihat terlalu banyak orang lapar ditengah komunitas yang berkelebihan. Bahkan tugas negara itu sendiri adalah memastikan rakyatnya tetap kenyang. Bukan menguasai negara untuk mengeyangkan diri dan kelompoknya.

Siapapun yang bertuhan pasti akan menjadi “Nyak Po Syik”. Menjaga marwah dirinya, dengan memastikan orang-orang yang ia temui selalu dalam keadaan kenyang. Saya masih harus banyak belajar dari beliau!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
FOLLOW & SUBSCRIBE:
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin