AL-QUR’AN TURUN SEKALIGUS, YANG BERTAHAP ITU PENYAMPAIANNYA

Al-Qur’an Turun Sekaligus, yang Bertahap itu Penyampaiannya
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Alquran yang “turun” kepada Muhammad semacam software yang di install ke komputer. Semuanya, sekaligus. Tidak berhuruf. Tidak bersuara. Aktual penyampaian (pembacaan lahiriah ayatnya) baru dilakukan secara berangsur-angsur, sesuai konteks kejadian, sebab dan kebutuhan.

Alquran yang turun itu hanya “setitik tinta” (Nun), yang mengandung semua hal. Atau juga, maaf, seperti setetes sperma yang mengandung semua informasi dan struktur tentang manusia.

Jadi, Alquran batiniah itu sangat sederhana. But, it encompasses the whole things. The story of everything. Seluruh rahasia alam semesta ada padanya. Dengan demikian, Alquran yang asli merupakan Tuhan itu sendiri. Sederhananya, Kalam Ilahi. Pengetahuan Dia. Ya, Dia juga.

Dengan demikian, ketika Alquran “turun” kepada Muhammad, Muhammad berubah menjadi Alquran. Jadi ‘Tuhan’ (wahdah al-wujud). Jadi Kalam-Nya. Maka tak heran, seluruh ucapan, gerak gerik dan diamnya Muhammad bernilai suci (maksum). Muhammad menjadi dimensi, sinyal atau frekuensi (tajalli) ketuhanan itu sendiri. Keseluruhan diri Muhammad menjadi Wahyu (hadis). “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain adalah wahyu yang diwahyukan” (QS. An-Najm: 3-4).

Jadi, malam “turunnya” Al-Qur’an adalah malam turunnya malaikat dan Ruh. Sebenarnya, Alquran yang bersifat batiniah memang malaikat dan Ruh.

Jangan selalu membayangkan malaikat itu semacam manusia yang bersayap. Jangan. Malaikat itu “sinyal ilahiah”. Kode-kode supra-kosmik yang mengandung energi dan informasi-informasi suci. Malaikat itu frekuensi, sinyal-sinyal ketuhanan. Muraqabah. Ia hidup. Ia juga disebut “cahaya”. Bahkan cahaya Tuhan itu sendiri. Sangat murni, powerful dan halus sekali.

Kalau anda “didatangi”, mampu menangkap atau tersambung dengan malaikat; anda akan mendapat sinyal (pengetahuan-pengetahuan), wahyu atau ilham dari Tuhan. Ilmu laduni itu sendiri sebenarnya adalah ilmu bagaimana cara jiwa kita dapat “naik” (ittihad) ke alam malakut. Atau cara agar kekuatan-kekuatan malakutiyah bisa hadir, turun (hulul) ke jiwa kita. Kalau terhubung dengan malaikat, berarti anda sudah mulai terhubung dengan Tuhan. Karena, malaikat itu (sinyal/pesan/wakil/utusan) Tuhan. Kalau anda sudah memperoleh sinyal (malaikat) Tuhan, ya anda jadi malaikat. Jadi pembawa pesan Tuhan. Jadi Jibril ‘alaihissalam (Ruh). Terserah anda punya sayap atau tidak.

Kemudian, ketika disebut Alquran itu “turun” kepada Muhammad, anda harus tau siapa itu Muhammad. Muhammad itu bukanlah sekedar Muhammad sebagai makhluk biologis, “basyar”. Melainkan Muhammad sebagai makhluk spiritual, “insan wahyu” (QS. Al-Kahfi: 110).

Dalam pengertian terakhir ini, Muhammad adalah “jiwa universal”, sosok bumi yang sudah membumbung ke alam ukhrawi. Muhammad yang sudah menempuh perjalanan spiritual (suluk/khlawat) adalah Muhammad yang jiwanya telah terhubung ke server pengetahuan alam semesta (Lauh Mahfudz). Jaringan atau matriks ruhaninya sudah sampai disana. Disitulah Alquran, asma dan pengetahuan Tuhan tersimpan. Tidak ada yang mampu menjangkau area rahasia qurani ini, “kecuali oleh orang-orang yang disucikan” (QS. Al-Waqiah: 79). Disini disebut “orang-orang”. Artinya bukan Muhammad saja. Siapa saja yang bersedia menempuh jalan kesucian, akan mampu “menyentuh” alam Qur’an yang hakiki. Alam mukjizat. Alam malakut, alam ketuhanan itu sendiri.

Makanya para waris nabi, imam dan wali-wali juga dilabeli “suci” (maksum). Karena pada kadar tertentu mampu menjangkau batin atau kekeramatan Alquran. Lisannya sudah terkoneksi dengan alam Ruh. Sehingga, bacaan Alquran mereka mampu mengusir jin dan setan. Mampu membelah laut dan melahirkan banyak keajaiban supra-rasional. Bahkan diri mereka sendiri sudah jadi “Alquran”. Kullu jasad-nya karamah. Sampai bumi pun takut untuk memakan bumi. Disini kita paham, bahwa Alqur’an adalah diri imam. Imam adalah Alqur’an.

Maka jangan dikatakan syirik kalau ada orang yang mengumpulkan rambut, kuku, baju, atau sandal milik Nabi dan orang-orang suci. Semua itu berdimensi Alquran. Ada pancaran energi ilahiahnya. Bahkan makamnya pun bernilai suci. Seperti sucinya tembok Kakbah. Padahal itu cuma tembok. Tapi ada elemen az-Dzikr yang larut dalam itu semua.

Ingat, Qur’an yang “asli” bukan kertas dan huruf-huruf yang dicetak oleh perusahaan Cina atau Jerman. Tapi yang di alam Ruh. Yang tidak berhuruf dan bersuara. Tidak ada tajwid dan lantunan. Tidak ada irama dan langgam. Sucikan ruh, maka ruh rendah kita akan tersambung dengan Ruh yang lebih tinggi (Ruhul Quddus), esensi Alquran.

Jadi, itulah sedikit uraian untuk menengahi perdebatan “turunnya” Alquran. Apakah menyeluruh, sebagaimana terindikasi dari kata “inzal” dan “hu” (anzalna”hu” -QS. Alqadar: 1, QS. Al-Baqarah: 185); atau berangsur-angsur seperti tersurat pada kata “tanzil” (QS. Al-Isra: 106) dan “tartil” (QS. Al-Furqan: 32-33). Batin Alquran turun sekaligus ke “langit bumi” (“dada” Muhammad). Sementara lahiriah penyampaiannya memerlukan waktu sampai 22 tahun, sesuai kebutuhan. Butuh kasus untuk mengaktualkan masing ayat.

Sesungguhnya, Alquran itu bukan hanya 6600an ayat yang tercatat dalam 30 juz. His ayat is limitless. Kalam Tuhan tidak terbatas. Ia terus berbicara sepanjang zaman. Bagi yang mampu mendengar. Bagi yang mampu menemukan.

Demikian refleksi kami, yang senantiasa mengharap bimbingan Ruh Suci Kekasih-Nya, pada 29 Ramadhan 1441 H ini. Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin
💥powered by PEMUDA SUFI