WALED, KHUMEINI, SYIAH DAN SUNNI

Waled, Khumeini, Syiah dan Sunni
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. “Waled”, begitu kami memanggil ayah kami, yang aslinya bernama Said Ali. Ia bukanlah seorang Syi’ah. Dalam artian, beliau tidak pernah mengkampanyekan doktrin dan amalan-amalan Syiah kepada masyarakat. Meskipun ia pencerita yang sangat hebat kisah-kisah kepahlawanan Hamzah dan Sayyidina Ali. Bahkan juga tidak pernah membesar-besarkan jargon “Ahlussunnah”. Meskipun fikihnya syafi’iyah. Beliau itu, menurut saya, tokoh yang luar biasa. Tapi biasa saja. Tidak punya label khusus dalam beragama. Tapi sangat taat dan cerdas sekali. Genius!

Beliau da’i yang diterima semua kalangan. Berceramah sampai ke pelosok Aceh, dengan bahasa dan konten mencerahkan. Anda bukan generasi 80-90an, atau mungkin kurang gaul, kalau tidak mengenal ahli sejarah dan kaligrafer super kocak ini. Menguasai banyak bahasa. Retorikanya luar biasa. Ia mampu berdiri 7-8 jam di atas podium, dan pernah menghipnotis audien dengan alur sastra tingkat tinggi, sehingga terpaku tak bergerak dalam hujan raya. Saya menyaksikannya. Muhammad Nazar, mantan Wagub Aceh yang pernah berpasangan dengan Irwandi Yusuf, bercerita bahwa pernah mendayung sepeda jauh sekali dari Ulim ke Sigli, hanya untuk mendengar beliau berceramah.

Bukan itu yang mau kami ceritakan. Ini tentang jenggotnya. Suatu ketika ditanya, kenapa memelihara jenggot nan lebat dan panjang. Jawabnya: “Biar gagah seperti Khumeini”. Lebih unik lagi, beliau menamakan “Jenggot Khumeini” untuk akar-akar putih yang tumbuh menjalar di atas pohon-pohon teh yang ditanam sebagai pagar tanaman. Sampai hari ini, orang-orang di kampung kami masih ada yang menyebut akar ini dengan nama itu.

Dari sikapnya sehari-hari, kami menyimpulkan. Ayah kami seorang Sunni tulen, walau mirip-mirip Syiah. Tapi, ayah kami tak pernah bicara isu-isu Sunnah, dan juga Syiah. Entahlah. Mungkin ia sufi, karena lisannya selalu terjaga, tak pernah melukai lawan bicara. Walau tak pernah sekalipun ia membahas sufisme. Pada akhirnya, kami tak begitu paham juga siapa beliau. Yang jelas, ia dicintai. Disukai oleh semua. Ia seorang muslim menurut gayanya sendiri. Pemakamannya pada 23 Juli 2014 mudah sekali. Kuburannya sangat wangi. Setidaknya itu yang kami alami.

Tulisan ini hanya untuk mengenang beliau pada 03 Juli 2020 ini. Yang kebetulan bertepatan dengan hari meninggalnya Ayatullah Khumeini, sosok yang paling ia sukai. Tokoh yang paling dibenci oleh imperialis. Tokoh yang telah menyebabkan zionis tidak bisa tidur nyenyak karena pengaruhnya sampai hari ini. Tokoh yang membuat setan-setan tidak hanya minggir, tapi juga lari dari negaranya.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin