DARI ALIF BA KE WUJUD TANPA HURUF DAN SUARA

Dari Alif Ba ke Wujud Tanpa Huruf dan Suara
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Cinta berawal dari mendengar dan membaca beragam kisah tentang-Nya, ayat demi ayat. Kalau benar-benar cinta, anda akan berusaha merebut hati, dengan cara memanggil merayu-Nya. Kalau berkenan dan suka, Dia pasti hadir. Kalau sudah hadir dan bertemu; anda pasti tersenyum bahagia, menangis terharu. Bahkan bisa pingsan dalam sunyi.

Begitulah cinta sejati. Pada ujungnya akan melampaui kata dan baca-baca. Hakikat cinta adalah iluminasi rasa, kesatuan jiwa. Fana. Baqa.

Tapi, untuk membawamu sampai kepada puncak cinta, terkadang agama mesti kembali bersusah payah mengajarimu dari cara membaca. Dari Alif Ba. Padahal, ujungnya akan melampaui huruf dan suara.

Puncak beragama adalah menjadi “ummi”, bodoh. Tidak lagi membaca. Itulah puncak cintanya orang paling cerdas di Arab, yang terkenal dengan kata-katanya: “ma ana bi qari”. Aku bukan lagi seorang pembaca. Aku sudah melewati tahap baca-baca. Apalagi yang harus kubaca. Sering diterjemahkan dengan: “Aku tidak bisa membaca.” Saat merasa bodoh seperti itulah, Allah hadir. Dan tak pernah lagi pergi dari sisinya, walau sedetikpun.

Puncak beragama adalah menjadi bodoh. Hilangnya ‘cerdas’ (ego). Menjadi sufi. Sesederhana itu. Begitulah sebenarnya cinta. Maka tak heran, tokoh-tokoh besar sufi adalah orang-orang yang meninggalkan profesi sebagai “ahli debat” atau “ahli kitab”, dan menekuni dunia “diam”. Sebut saja Al-Ghazali dan figur-figur agung dalam semua mazhab dan sanad spiritual.

Itulah yang disebut salik. Perjalanan cinta. Dari ahli membaca, sampai pada tingkat kehilangan kata-kata. Ketika bodoh telah dicapai, saat itulah kita diberi akses kepada Kalam rahasia. Kepada pengetahuan-pengetahuan murni. Wahyu. Ilham. Laduni. Hidayah langsung dari sisi-Nya.

Kalau belum bodoh (ummi), belum bertuhan kita. Karena, apa yang disebut dengan era “jahiliah” bukanlah era orang-orang bodoh yang tidak bisa membaca. Tapi era yang dipenuhi para Ahli Kitab. Tapi terputus “petunjuk”, atau sinyal ruhaniah yang langsung berasal dari sisi Tuhan. Kecuali sedikit dari mereka.

Jahiliah itu akan terus berulang, sampai akhir zaman. Kalau kita kehilangan sinyal. Sebab, Cinta atau yang disebut agama, adalah “keterhubungan” dengan Tuhan. Cinta yang tak berhuruf dan bersuara itulah Alquran Hakiki, Ruhul Muqaddasah, muraqabah, kehadiran-Nya. Kalau itu dicabut dari qalbu, kiamatlah!!

Agama itu dimulai dari Alif Ba. Berakhir kepada yang tak berhuruf dan bersuara.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin
💥powered by PEMUDA SUFI