SHALAT HAKIKAT

Shalat Hakikat
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Shalat merupakan bentuk “komunikasi” kita dengan Allah. Komponen utamanya “khusyuk”. Khusyuk artinya fokus, “berhadapan wajah”, “kehadiran hati”,  atau “ketersambungan ruhani” (ketersambungan ruhani kita yang rendah dengan Ruhani di atas Ruhani, dengan Nurun ‘ala Nurin, dengan Dia sendiri -QS. An-Nur: 35).

Tanpa unsur connecting seperti itu, shalat kita jatuh dalam derajat acting semata, pura-pura. Sebab, “Semua bisa (meniru gerak fisik) shalat, tapi sedikit yang shalat”. Shalat yang demikian tidak lebih dari “Gerak mematuk-matuk seperti burung gagak”, kata Nabi SAW. Shalat awam. Shalat yang gagal. Kecelakaan shalat (wail). Shalatnya orang-orang yang “lalai” (QS. Al-Ma’un: 4-5). Tampilan shalatnya bagus. Tapi ruhnya mati.

Syarat sah shalat (secara hakikat) adalah sebagaimana kata Nabi SAW: terpenuhinya pengalaman “mikrajul mukminin”. Adanya koneksi dengan al-Ruh, dengan Jibril (alam malakut), dengan al-Imam, dengan batin Alquran, dengan hakikat al-Mahdi, dengan Mursyid, dengan ruh para nabi, dengan Arwahul Muqaddasah Rasulullah, dengan Buraq, dengan Cahaya-Nya Yang Maha Hidup.

Kisah mikraj adalah rekaman “definisi” shalat. Pengalaman Muhammad bin Abdullah “berhadapan langsung” dengan Allah SWT, itulah hakikat shalat. Untuk menghindari imajinasi perjumpaan fisik dengan fisik, digunakan istilah bertemu dibalik ‘tirai’. Semua ini hanya seni tutur sufistik dalam mengisahkan pengalaman spiritual, laduniah, muraqabah, muqabalah, atau interaksi kewahyuan (ilham) yang bersifat “live” antara manusia biasa dengan Allah.

Proses “mengambil” shalat dalam cerita mikraj, itulah shalat. Tanpa “mengalami” proses seperti itu, shalat kita tidak akan ‘terambil’, tidak tegak, tidak sampai, tidak terpenuhi, tidak sampai kepada wujud shalat yang sebenarnya. Dengan demikian, shalat yang asli adalah “bentuk komunikasi ruhaniah yang bersifat aktif”. Sinyal komunikasinya hidup, ‘bertatapan langsung’ dengan-Nya. Itulah shalat yang hakiki. Dan apa yang dialami Nabi SAW bukanlah kisah kuno yang tidak bisa diverifikasi. Itu pengalaman batiniah yang bisa diaktualkan kapan saja, dan oleh siapa pun yang masih mewarisi metodenya.

Shalat hakikat merupakan warisan paling langka dari para nabi. Shalat inilah yang mampu membuat seseorang menjadi keramat. Yaitu “tercegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS. Al-Ankabut: 45). Semua nabi keramat, mulia atau suci perilakunya. Begitu juga anda semua yang mampu menauladani mereka (bersedia mewarisi, menyerap, atau menyambungkan diri dengan spiritual mereka). Keramat bukanlah “sakti”. Keramat adalah fenomena kemuliaan yang diperoleh akibat hilangnya setan dalam diri. Keramat inilah yang mampu mengalahkan segala ‘kesaktian’ (kekuatan/tipu daya) setan.

Penyebab keramat adalah “khusyuk”. Yaitu, tersambungnya ruhani kita dengan Rasulullah. Dengan demikian, hadirnya Allah. Hanya wajah Rasulullah yang paling ditakuti makhluk-makhluk terkutuk. Karena wajahnya merupakan tajalli, pancaran Cahaya Allah. Inilah penyebab setan lari. Sehingga jiwa menjadi “suci”, terbebas dari motif-motif jahat, perilaku keji dan munkar. Itulah signifikansi kehadiran Rasulullah dan para warisnya, mampu membangun kekeramatan akhlak (makarimal akhlak), yang merupakan misi dari nubuwwah. Yaitu, menyatunya jiwa kita dengan Sang Khalik.

Jadi, khusyuk (gerak/kehadiran Tuhan dalam diri) merupakan faktor “kemenangan” seorang mukmin. “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya” (QS. Al-Mukminun: 1-2). Menang melawan siapa? Jelas, musuh utama kita adalah setan. Yaitu “diri” kita sendiri, dalam bentuk dorongan-dorongan buruk atau motif-motif jahat yang bersemayam dalam jiwa: “Maka Dia ilhamkan kepada jiwa itu kefasikan..” (QS. As-Syams: 8).

Kelebihan nabi dan para pewarisnya adalah, mampu menegakkan shalat sampai pada level hakikat, yang tidak dibatasi oleh kondisi, tempat dan waktu. Sambil berdiri, duduk dan berbaring (QS. Aali Imran: 191). Shalat itu sendiri juga bermakna “dzikir”, kemampuan mengingat atau menghadirkan Allah sepanjang waktu. “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku” (QS. Thaha: 14). Ini dikenal dengan shalat daim. Shalat berketerusan. Khusyuk setiap saat. Hatinya terkoneksi dengan Allah sepanjang waktu. Bukan sekedar “eling” atau “elok sangko”. Tapi memang mampu menghadirkan, “mengikat” (rabith) dan meleburkan diri dengan Allah dalam segala aktifitas dan dimensi. Bahkan Allah sendiri yang “menggerakkan” (mengilhamkan ketaqwaan dalam setiap dimensi pekerjaan, QS. As-Syams: 8).

Untuk mencapai kinerja taqwa, dunia Islam harus bangkit dari ketertinggalan. Harus mampu meningkatkan kualitas ibadah, dari fokus hanya pada shalat lima waktu, ke shalat sepanjang waktu. Dari shalat syariat, disempurnakan ke bentuk-bentuk hakikatnya. Dari hanya mampu menghadirkan Allah (khusyuk) di dalam tembok masjid, ke kemampuan melihat Dia dimana-mana. Dari rukuk sujud hanya di atas sajadah, kepada ketundukan jiwa di seluruh permukaan bumi-Nya. Dari shalat sehari semalam hanya 5 menit dikali 5, kepada kemampuan menghadirkan Dia sepanjang masa.

Ini urgent. Sebab, berbagai kejahatan akut di tengah dunia Islam, seperti korupsi, bukan dilakukan oleh mereka yang tidak shalat. Tapi oleh kita-kita yang rajin shalat. Begitu juga perilaku keji dan munkar para pemimpin dunia Islam (yang terlihat makin kolaboratif dengan para zionis dan kapitalis) bukannya orang-orang yang tidak shalat. Bahkan kunci-kunci rumah suci mereka yang pegang. Pun perilaku memfitnah, membidahkan, dan mengkafirkan mazhab lain; bukan dilakukan oleh mereka yang tidak shalat. Tapi justru digembosi oleh kita-kita yang selalu shalat tepat waktu.

Kita rajin memenuhi panggilan azan.  Lalu shalat, berebut shaf terdepan. Setelah itu, semua kembali bersetan. Terkesan khusyuk hanya sebentar dalam barisan. Selepas itu kembali hampa dari kehadiran Tuhan. Di forum-forum pengajian, kita berubah wara’ sambil membolak-balik lembaran kitab dan mushaf. Tapi tidak ada kekuatan transenden yang benar-benar menuntun mata, telinga, tangan, kaki, lisan dan gerak kita di luar sana. We are lost in the space!

Kita semua kehilangan karamah. Kehilangan kemuliaan. Kehilangan pertolongan. Kehilangan kemenangan. Kehilangan Tuhan dalam sisi praktis kehidupan. Karena shalat kita masih parsial. Belum tuntas. Masih dalam bentuk-bentuk formalitas. Belum sampai ke hakikat. Belum lebur dalam segala esensi. Belum menyaksikan Tuhan dalam semua Tupoksi. Belum khusyuk dalam segala lini.

Sepertinya kita semua harus segera mencari Guru. Untuk meng-upgrade dimensi shalat. Sebab, shalat yang selama ini kita lakoni sudah gagal memperbaiki akhlak. Saya tidak mengajak anda untuk meninggalkan shalat fardhu yang telah ada ketentuan waktu (QS. An-Nisa: 103). Justru mendorong kita semua untuk mengamalkan shalat disepanjang waktu. Tidak boleh ada ruang kosong dari mengingat dan mengalami kontak dengan-Nya:

الَّذِيۡنَ هُمۡ عَلٰى صَلَاتِهِمۡ دَآٮِٕمُوۡنَ
“Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya secara terus menerus” (QS. Al-Ma’arij: 23 ).

BACA: “THE POWER OF SHALAT” & “THE POWER OF AZAN”

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali muhammad.*****
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin
💥powered by PEMUDA SUFI