MENCARI IMAM, YANG DIDENGAR TUHAN

Mencari Imam, yang Didengar Tuhan
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Suatu ketika, ada seorang qari. Suaranya bagus sekali. Irama tilawahnya sangat memukau. Semua shalat yang dipimpinnya, senantiasa menuai decak. Lantunannya itu lho!

Sekian lama ia menghilang. Tiba-tiba muncul kembali. Meski sedikit menolak, ia didorong menjadi imam.

Orang-orang terkejut. Bacaannya sudah berbeda. Iramanya tidak secanggih dulu. Mulai datar. Agak hambar. Merendah. Lantunannya sudah banyak hilang. Tidak seberani dulu. Tapi terasa ada getaran berbeda pada setiap bacaan yang keluar.

Selesai shalat, sejumlah jamaah bertanya: “Ustadz, kok iramanya tidak segagah dulu?”.

Ia menjawab, “Dulu saya bernyanyi. Sekarang, saya sudah belajar berbicara dengan-NYA. Lama saya berusaha mengenal-NYA. Setelah kenal, saya tak berani lagi mengalun-alunkan suara dihadapan Wajah-Nya. Setelah sekian lama hidup dalam kecerdasan lahiriah membaca, saya mulai menekuni adab batiniah terhadap-Nya. Dulu saya fokus menghibur jamaah. Kini saya berusaha merendahkan suara. Mohon maaf jika saya telah kehilangan daya entertainment bagi anda. Tapi begitulah adanya, lama saya belajar menjadi hina dihadapan-NYA. Bahkan dengan cara terlihat bodoh dihadapan anda semua. Saya mulai menanggalkan semua diri dan kecerdasan saya. Menjadi ummi. Kehilangan kemampuan membaca. Kehilangan kata-kata”, terangnya secara filosofis irfani.

***

Teman-teman, saya menulis ini bukan untuk mengikuti ustadz itu. Bukan pula menyuruh anda meninggalkan segala irama yang telah membuat anda juara. Lanjutkan, jika itu diterima, disukai Tuhan.

Saya hanya mengajak kita semua untuk kembali melakukan refleksi, terhadap firman Allah SWT: “Maka celakalah orang-orang yang shalat. (Yaitu) Orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat RIYA” (QS. Al-Ma’un: 4-6).

Apa yang kita anggap shalat, seringkali bukan shalat. Kita lalai dari bentuk shalat yang sebenarnya. Kita riya’ dengan gaya dan bacaan-bacaan kita. Tidak ada unsur Dia pada gerak dan langgam kita. Semuanya unsur kita. Jangankan diterima Allah, setan saja tidak takut dengan 1001 macam qira’ah kita.

Betapa sering alunan Yasin dan Ayat Kursi kita ditertawakan setan. Padahal, bacaan ayat yang asli dari sisi Tuhan pasti akan membakar semua anasir gelap. Bisa anda uji coba dengan orang yang kerasukan. Boro-boro jin yang lari, justru kita yang tunggang langgang. Menghadapi jin, iblis dan setan; kita justru memanggil orang pintar, ahli rukyah, ataupun dukun. Sebab, ayat-ayat yang kita sebut suci, sama sekali tak berfungsi.

Shalat dan Alquran kita memang tidak berpower. Tidak tersambung. Tidak terhubung. Tidak memiliki jalur untuk diterima oleh-NYA. Lidah kita fasih. Tapi qalbu kita lalai. Riya’. Alih-alih berkomunikasi, kita sibuk menghayal. Bahkan menyanyi di hadapan-NYA. Padahal, hakikat Alquran yang penuh mukjizat dan karamah itu adalah Kalam Rahasia, Kalimah yang tidak berhuruf dan bersuara. Yang dibenam dalam dada.

Tantangan kita ke depan, bukan lagi sekedar mencari imam yang bagus suara. Tapi didengar Tuhan. Saya sendiri masih bergelimang riya’. Halus barang itu. Ampun Tuhan!

BACA: “DARI ALIF BA KE WUJUD TANPA HURUF DAN SUARA”

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin
💥powered by PEMUDA SUFI