SUFI ITU ‘MISKIN’

Sufi itu ‘Miskin’
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ada orang yang beranggapan, bahwa sufi itu kumpulan orang-orang fakir, miskin dan putus asa. Mungkin tidak salah. Sebab, bisa jadi saat itu ia sedang melihat banyak orang miskin dan stress dalam kelompok itu. Seperti orang luar melihat Islam sebagai agama orang-orang tertinggal dan bodoh. Mungkin potret yang terlihat adalah sekelompok muslim yang memang sedang begitu. Sementara Islam sejati tidak punya tempat untuk kemiskinan dan kebodohan. Sufisme sejati juga begitu. Tidak toleran dengan kemiskinan dan keterpurukan.

Namun ajaran tasawuf memang menekankan pentingnya ‘kefakiran’ dan ‘kemiskinan’. Tapi lebih kepada pemahaman spiritual. Bahwa hakikat miskin adalah, merasa tidak memiliki apapun, sekaya apapun anda. Sebab, pangkal susah adalah merasa memiliki dan sulit melepaskan. Betapa banyak orang yang susah, sampai tega bunuh diri atau membunuh orang lain, karena kehilangan sesuatu. Kehilangan harta, pangkat, dan jabatan. Pun betapa banyak yang menempuh cara-cara terkutuk, untuk menguasai apapun. Karena ia benar-benar ‘kelaparan’ dan melihat itu mutlak miliknya.

Sufi sejati bukanlah kumpulan pemalas. Sufisme menekankan pentingnya ubudiyah. Kerja keras. Yang hasilnya tentu kepemilikan. Namun bukan kepemilikan mutlak. Tapi titipan. Sehingga mudah baginya mendistribusikan apa yang dimiliki. Maka kalau kita mendengar ada sejumlah sahabat yang tidak ragu menyerahkan semua hartanya kepada Nabi SAW, sebenarnya mereka sudah memahami makna sufisme. Bahwa hak Allah bukan lagi 2,5 persen. Tapi 100 persen!

Yang 2,5 persen itu; untuk mazhab yang masih mengakui adanya hak pribadi. Masih setengah Islam sebenarnya. Masih kikir. Masih suka hitung-hitung. Masih takut untuk menyerahkan apa yang dihasilkan dalam bekerja, secara jor-joran di jalan Tuhan. Masih takut miskin kalau terlalu banyak memberi. Padahal secara esensial Allah berjanji, akan mengembalikan apa yang kita beri, 10 kali lipat besarnya. Secara teoritis kita percaya itu. Tapi secara praktis kita ragu. Karena kita “masih merasa memiliki”.

Bahkan ada Sahabat nabi yang terkenal “selalu miskin”. Seperti Imam Ali. Sebenarnya bukan miskin. Ia terkenal pekerja keras. Juga banyak hak yang ia peroleh sebagai panglima dalam perjuangannya. Hanya saja, ia benar-benar merasa tidak memiliki. Sebuah riwayat menyebutkan, seandainya ia dan keluarganya mau menahan 10 persen saja dari harta yang ia peroleh, mereka sudah hidup sangat mewah.

Jadi, itulah sufi sebenarnya. Boleh memiliki apapun. Sebanyak-banyaknya. Tapi menyadari siapa pemilik itu semua. Beberapa Grand Sufi juga dikenal sebagai milioner. Sebut saja Ibnu ‘Arabi, Abdul Qadir Jailani, Abu Hasan as-Syadzili, Ubaidillah Al-Ahrar, dan lainnya. Banyak kisah yang meriwayatkan kekayaan dan kedermawanan mereka.

Sufi sejati ibarat sungai yang senantiasa mengalir. Tidak menumpuk harta untuk memuaskan diri. Tau cara menyalurkan. Sehingga kita temukan, kurikulum utama sufisme (yang merupakan amalan khawas setiap muslim) adalah bersedekah. Bahkan melazimkan lapar (berpuasa) sambil menyerahkan hartanya kepada Allah. Puncak pasrah (taslim/islam) adalah saat menyadari tidak punya apa-apa. Puncak keikhlasan adalah saat “mengosongkan diri”, menyerahkan semuanya kepada Allah.

Itulah hakikat faqir ‘indallah. Zuhud. Tidak merasa memiliki apapun. Hatinya kosong dari segala sesuatu, selain Allah. Kepada orang-orang seperti inilah kita seharusnya bersedekah. Itulah mengapa teungku-teungku yang ‘arif (para mursyid, imam, wali dan rasul) disedekahi. Karena apapun yang ia terima, pasti diberikan kepada Allah. Mereka ‘menolak’ atau ‘tidak menerima sedekah’, yang dalam pengertian lain juga bermakna “tidak dimakan untuk dirinya”. Ringan tangan.

Kepada kaum shaleh seperti inilah bumi harus diserahkan. Kepada orang-orang seperti inilah seharusnya jabatan kepemimpinan di berbagai level diberikan. Karena berapapun besarnya budget yang ia terima, pasti akan didistribusikan di jalan Allah. Bukan untuk memperkuat bisnis pribadi, keluarga dan kelompoknya.

Saya pribadi belum faqir. Masih belajar menghapus kikir. Ampun Tuhan!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

ūüí•powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin