MENYEDERHANAKAN CARA BERTUHAN

Menyederhanakan Cara Bertuhan
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ada sekolah yang mengajarkan teori cara memegang steer selama 1 semester. Dilanjutkan ceramah cara menginjak kopling, 1 semester. Kemudian diskusi cara menekan rem, 1 semester. Diteruskan dengan presentasi cara melihat kaca spion, 1 semester. Dan seterusnya. Kurikulumnya sangat padat. Mungkin lebih 1000 sks. Ada yang menghabiskan waktu sampai 9 tahun untuk mendapatkan sertifikat sebagai “ahli mobil.”

Menariknya, diseberang jalan juga ada sekolah serupa. Metode belajarnya beda. Pada hari pertama, si murid langsung didudukkan dalam mobil. Diajarkan cara pasang sabuk. Menekan gas. Dibimbing sang instruktur yang menemani disamping, mobilpun melaju pelan. Siangnya sudah sedikit kencang. Sore sudah berani balapan. Satu hari, langsung bisa bawa mobil. Tanpa membaca teks.

Keberadaan dua sekolah ini menjadi heboh. Karena masing-masing menyatakan diri sebagai “ahli mobil”. Namun ada sedikit perbedaan. Yang satu sangat ahli bercerita tentang mobil. Satu lagi sangat ahli dalam membawa mobil.

Sekolah kajian mobil melakukan protes. Menuduh sekolah sehari langsung bisa bawa mobil, sebagai sekolah sesat. Bid’ah. Syirik. Sebab, secara teori butuh bertahun-tahun untuk jadi ahli mobil. Butuh ratusan juta rupiah untuk bayar SPP sampai tamat. Harus membaca 1001 kitab untuk menjadi alim dalam bidang mobil. Mana mungkin sehari langsung bisa.

***

Sebenarnya, itu gambaran kita dalam bertuhan hari ini. Agama, pada pokok atau ushul-nya adalah tentang Tuhan. Tentang bagaimana kita “mengenal” Tuhan. Tentang bagaimana kita bisa “kembali” kepada Tuhan. Tentang bagaimana kita dapat “sampai” kepada Tuhan. Tentang bagaimana kita “diterima” oleh Tuhan. Tentang bagaimana kita bisa dekat, akrab, berjalan, dan bercakap-cakap dengan Tuhan Yang Maha Hidup, Maha Mendengar dan Maha Berkata-Kata.

Metode sederhana untuk konek dengan Tuhan, itu diajarkan dalam tasawuf praktis. Melalui metode tariqah (irfan amali), si murid langsung dibimbing oleh seorang Master Spiritual untuk “disucikan” jiwanya, dan “dibawa” kehadapan Tuhan.

Sesederhana itu. Tak perlu baca-baca buku. Hanya perlu kedisiplinan dan mental yang kuat untuk memasuki alam dan pengalaman-pengalaman baru. Makanya dunia sufi sangat dinamis. Seperti mengendarai mobil secara langsung, dan melihat hal ihwal unik sepanjang perjalanan menuju dunia Ilahi. Sehingga, cerita-cerita “wah” (supra-rasional) hanya ada pada ‘supir-supir’ yang melewati berbagai kondisi.

Cerita karamah dan mukjizat, itu cerita tasawuf amali (dunia makrifat). Cerita-cerita ini akan mudah ditertawakan oleh alim syariah, fiqih dan teolog. Karenanya, tidak semua pengalaman spiritual untuk diobral. Sebab, tidak rasional (Baca: “Karamah Auliya”).

Dunia syariat adalah dunia normatif. Dunia fisikal dan lahiriah. Praktis tidak ada pengalaman “luar biasa”. Demikian pula dengan pendidikan tauhid teoritis, bertujuan mengolah otak. Membaca. Mengkaji. Menghafal. Bukan mengeksplorasi dimensi terhalus dari jiwa. Dimensi yang dapat mengaktivasi vibrasi dari Ruh.

Oleh sebab itu, dunia keagamaan teoritis cenderung merasa banyak tau, tapi tidak mengalami. Sementara dunia amali; cenderung mengalami, namun merasa bodoh dan tidak banyak bicara (mungkin karena kurang teori). Jika kedua khazanah ini (syariat dan hakikat) bisa digabung, tentu akan dahsyat sekali.

Dalam hal bertuhan, sufi lebih condong kepada kurikulum awal keislaman, era kenabian. Muhammad sebagai “Mursyid” mampu membuat pengikutnya menjadi orang-orang yang memiliki tauhid hakiki. Tanpa perlu menghafal dan membaca teks sama sekali. Tuhan bisa dijangkau tanpa (formalitas) sekolah dan mengaji.

Mungkin karena itu Beliau disebut sebagai Nabi yang “ummi”. Mendidik generasi awal yang tidak membaca. Secara literal memang tidak ada bahan bacaan. Tidak ada kitab. Dibukukan saja belum. Tapi mereka bisa sampai kepada Allah. Kuncinya, ada “Guru” (imam zaman). Yang sudah kenal dan sudah sampai ke Tuhan.

Tasawuf yang asli berpegang pada metode ini, pentingnya seorang guru yang “wushul”. Guru seperti itu memegang (mewarisi) tugas-tugas kenabian, mempertemukan umat dengan Tuhan. Sejak di dunia. Sampai ke akhirat. Tugas Guru seperti ini tidak membuat kita meraba-raba dalam silogisme berkepanjangan. Tapi menunjukkan: “ini engkau, ini Tuhan”.

Sementara Islam kemudian, adalah Islam yang sudah penuh dengan buku-buku (kitab). Agama mulai ditulis. Cerita-cerita mulai dikompilasi. Dibukukan. Diulas. Diurai. Ditafsir. Alquran mulai dibedah dalam cabangan ilmu. Sekolah mulai berkembang. Penulis mulai bermunculan. Pengikut juga sudah luar biasa banyak. Mereka ingin tau, atau perlu diberi tau apa itu Islam. Perlu alat lain dalam beragama, yaitu kajian dan buku-buku bacaan. Dengan kurikulum yang panjang. Akhirnya, agama mulai disekolahkan.

Maka pada periode ini muncul pemikiran tentang Tuhan dalam aneka corak kalam. Dalam berbagai mazhab tauhid. Jakfariah, Asy’ariah, Maturidiah, Muktazilah dan lainnya. Pengalaman-pengalaman tasawuf juga mulai dirangkum dan dijelaskan. Maka juga muncul bermacam mazhab ontologis dunia spiritual. Wahdatul wujud, wahdatusy syuhud, isyraqiyah, dan lainnya.

Yang rumitnya adalah, kita terjebak dalam bentuk edukasi agama yang terlalu konseptual. Tanpa pernah magang (bersuluk/ berkhalwat) dalam dunia ketuhanan yang aktual. Sehingga, agama yang sebenarnya hanya cara sederhana sambil tutup mulut dan tutup mata bisa “berjumpa” Tuhan, menjadi kepelikan yang luar biasa untuk menguasai naskah-naskah tebal dan berbagai argumentasi tentang Tuhan. Seolah-olah, kalau tidak tamat pesantren, tidak jadi ulama. Kalau tidak lulus UIN, bukan ahli agama. Agama menjadi milik elit. Bukan lagi milik kaum yang “ummi”. Hei, silakan sekolah. Wajib. Tapi pastikan tetap wallahu ‘alam (bodoh).

Jangan kita radikal dengan sedikit ilmu. Konon lagi kalau sudah berani men-frame orang lain, kalau tidak pernah mengaji 1001 macam kitab, tidak tau sifat 20, tidak hafal 99 Asma; kita anggap tidak mengenal Allah. Bertuhan yang sifatnya bebas, universal dan sangat personal; kita ubah menjadi alat pemaksaan politik, identitas kelompok, dan proteksi terhadap pangsa pasar bisnis iman dan akidah. Nafsu kita seringkali lebih dominan dari agama. Perang internal umat Islam (saling usir, sesat menyesatkan, sampai kepada bunuh-bunuhan) di akhir zaman ini adalah perang kitab. Perang akibat beda referensi atau daftar pustaka. Sesuatu yang tidak pernah terjadi pada masa Nabi SAW. Perang yang terjadi akibat tidak seragamnya berbagai persepsi kebenaran dan kecerdasan yang telah dibukukan.

Di akhir zaman ini, sepertinya kita harus kembali kebelakang. Ke masa awal Islam. Ke masa Nabi dan kaumnya yang ummi. Guna menyederhanakan cara Bertuhan. Tanpa kerumitan teks dan hafalan. Kita sudah melangkah terlalu jauh. Sudah terlalu cerdas, mungkin. Saya khawatir, Nabi dan para sahabatnya mungkin akan terkejut kalau sempat melihat jumlah buku dan kitab-kitab tentang ritus agama yang ada di pustaka-pustaka kita, melampaui pengetahuan mereka dimasanya.

Dunia Islam sudah overdosis dalam beragama. Dan kurang gizi dalam menguasai dunia. Kita lebih banyak mengeluarkan fatwa bid’ah dan sesat untuk sesama saudara dalam hal bertuhan (padahal sama-sama bersyahadat), ketimbang fatwa untuk mengalahkan zionisme Israel dan sekutunya. Kita sudah seperti orang-orang stress yang gagal menata dunia, sehingga melarikan diri pada zikir-zikir semu dan kajian agama. Kita para pemimpin juga gagal mensejahterakan masyarakat, lalu “mensucikan diri” dibalik edaran-edaran syariat dan penegakan akidah.

Maka wajar, disaat jamaah subuh makin meningkat. Ceramah fiqh, tauhid dan tasawuf makin padat. Disaat itu pula peta Palestina dihapus oleh Apple dan Google dari peta dunia. Karena mereka tau, semua itu akan kita sikapi dengan semakin memperbanyak kajian tauhid, dan saling serang antar sesama.

Saya mungkin salah satu yang overdosis dan obesitas itu. Ampun Tuhan!

Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin