ANDA BISA MENGENAL WALI, TANPA HARUS JADI WALI

Anda Bisa Mengenal Wali, Tanpa Harus Jadi Wali
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Pertanyaannya, bisakah kita “mengenal” Allah tanpa mengenal para rasul ataupun wali-walinya? Kalau bisa, mungkin tidak ada relevansinya seorang rasul diutus. Sementara dalam Alquran disebut, rasul diutus untuk memperkenalkan Tuhan kepada manusia. Tentu bukan sekedar kenal “nama”. Kalau sekedar tau DIA ada dan namanya adalah “Allah”, itu tinggal baca di kitab-kitab sebelumnya.

Agama bukan sekedar tau setelah banyak baca. Tapi fungsi rasul dan para warisnya (wali-wali Allah), adalah membawa ruhani kita untuk sampai, berjumpa, terkoneksi, atau mengalami kontak dengan Zat, Vibrasi, Gelombang atau Energi-NYA. Itu yang disebut kenal dengan sebenar-benar kenal.

Kita tidak pernah kekurangan orang yang tau, bahwa Tuhan itu memang ada. Sifatnya begini. Perilakunya begitu, dan sebagainya. Tinggal kaji. Teoritis sekali. Namun kita senantiasa butuh sosok “imam zaman” (rasul atau utusan di tiap zaman) untuk aktual mengenalnya. Sudah terlampau banyak Tuhan dalam kitab. Yang di luar kitab, mana?

Sunni maupun Syiah, meskipun ada perbedaan tertentu, sama-sama bersandar pada konsep wilayah (kewalian). Bahkan makna “Syiah” (pengikut) sekaligus arti “Jamaah” dalam Ahlussunah, adalah kepengikutan atau kebersamaan (tawassul) dalam kewalian (kepemimpinan ruhaniah). Sebagai agama batiniah, Islam memiliki spiritual leader. Yaitu mereka-mereka yang mampu menuntun segala Ruhani.

Karena itu dalam berbagai hadis shahih disebutkan: “Makrifat adalah mengenal imam pada zamannya” (Imam Ja’far Shadiq). Hadis lainnya: “Barang siapa mati tanpa mengenal imam pada zamannya, mati jahiliah” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad bin Hambal, dan lainnya). Keras sekali hadisnya. Ini tentu bukan untuk menakut-nakuti. Tapi mengisyaratkan betapa pentingnya bertuhan secara aktual. Bukan imajinatif. “Jahiliah” artinya bertuhan, tapi tidak mengenal, tidak sampai kepada Tuhan (yang asli). Sehingga akhlaknya terganggu.

Kunci mengenal Tuhan adalah mengenal “imam” pada zamannya. Ini petunjuk bahwa sang imam senantiasa hidup, regeneratif. Sebagaimana kata Al-Qur’an, mereka ada disepanjang masa. Banyak ayat-ayat tentang “imam”. Hanya mereka yang dapat memperkenalkan, membawa kita kempali kepada yang sebenar Tuhan.

Maka, siapakah wali (buraq) itu sekarang? Yang kalau kita mengenal Dia, kita akan punya kesempatan mikraj ke hadirat Tuhan. Kalau tidak, kita akan tetap selamanya terkunci dalam kurikulum menghafal nama dan sifat-sifat Tuhan.

Pertanyaan lainnya: “Bisakah kita mengenal wali, sebagai prasyarat makrifat kepada Tuhan?”

Jawaban Pertama: “Tidak”. Sebab, yang bisa kenal wali hanya wali. Dalam hal ini, Pendeta Buhaira dari imperium Romawi (Syams) bisa kita disebut “wali”. Artinya, masih punya warisan Ruhani dari Ruhullah Isa as. Sehingga secara batiniah ia bisa mengenal Muhammad, bahkan jauh sebelum Muhammad menjadi nabi. Diriwayatkan, ia melihat “cahaya” dalam sebuah tenda kafilah dagang yang sedang menuju Syams, dimana Muhammad cilik ada di dalamnya.

Itu jawaban pertama. Wali tidak bisa dikenali, kecuali oleh seorang wali. Dan itu benar. Masalahnya, kalau hanya wali yang kenal wali; maka hanya sesama mereka yang benar-benar bisa bertuhan. Kita bakal tidak akan pernah sampai ke Tuhan. Karena kita tidak “kenal” (percaya dan berguru pada mereka).

Jawaban Kedua: “Bisa”. Orang awam sekalipun bisa mengenal wali. Cukup gunakan kecerdasan akal, sebagaimana dimiliki bangsa Persia. Salman Al-Farisi. Ia mampu mengenal Muhammad sebagai seorang “wali” (nabi) pada masa itu, melalui metodologi pembuktian tertentu. Dalam Al-Qur’an, istilah “wali” (para penolong Allah) juga ditujukan kepada para nabi. Salman bisa mengenal wali karena ia sungguh-sungguh ingin berjumpa dengan wali. Bukan karena ia wali. Bahkan ia seorang majusi. Bagaimana dengan anda seorang muslim, bisa mengenal wali? Kalau tidak, kita bisa lebih buruk dari majusi.

Jadi, syarat utama untuk mengenal wali, walaupun anda bukan wali, adalah punya doa dan hajat besar untuk berjumpa wali. Kalau sudah begitu, alam semesta akan menuntun anda. Walaupun sejuta kilometer jaraknya. Walau harus merangkak dalam badai salju. Pasti ketemu.

Tapi, kalau kita sudah menganggap bahwa kitalah orang paling tau dan paling dekat dengan Tuhan, maka seorang wali disamping rumah sekalipun tidak akan kita ketahui. Sebab, seorang wali tersembunyi dalam terang. Abu Jahal, Abu Lahab dan abu-abu lain pada masanya juga begitu. Merasa paling bertuhan di kampungnya. Sikap seperti itu tidak pernah membawa mereka untuk sampai kepada ruh, kemursyidan atau kenabian Muhammad. Bahkan mereka pula yang menjadi penentang utama. Kecerdasan terkadang justru membuat kita terlempar jauh dari Tuhan.

Jadi, pertanyaan saya, apakah anda seorang wali? Kalau bukan, kenapa masih santai saja? Bangun dan carilah para waris (ruhul muqaddasah) nabi. Kalau tidak ketemu yang Qutub, mungkin bisa ketemu Abdal lainnya. Syukur, jika beruntung bertemu Raja Wali. Anda akan dibawa terbang sampai kepada maqam Kebenaran yang Hakiki (al-Haqq).

So, beragama bukan tentang mengenal Tuhan. Berat sekali itu. Cukup dengan mengenal “wakil Tuhan”. Nanti akan ditunjukkan olehnya (melalui pendidikan ruhiyah yang dibimbingnya), yang mana Tuhan. Begitu sederhananya umat Muhammad pada masa awal Islam. Tak pernah baca apapun, tapi makrifat. Karena ada Muhammad sebagai khalifah Tuhan di tengah mereka. Pun umat-umat nabi terdahulu, banyak yang tidak punya catatan Wahyu. Tapi keramat juga. Karena ada wali (nabi) disamping mereka. Kita di akhir zaman juga bisa begitu.

Maka jangan cepat memutuskan sesat kalau ada orang-orang “aneh” (shaleh) tertentu. Semua nabi membawa ajaran aneh (unik). Ajaran ketauhidan kelas satu. Penuh dengan mukjizat. Dituduh gila. Tapi tidak semua orang gila itu wali. Namun anda tidak bisa membedakan yang mana iblis yang mana malaikat. Jangan mengira semua yang berjubah itu malaikat, dan semua yang kusut sebagai iblis. Jangan-jangan, orang yang anda fatwakan sesat itu seorang wali. Kalau itu anda lakukan, maka wajar kemudian Allah kirim tsunami. Atawa terjadi penumpahan darah di dalam negeri.

Kita telah melihat dalam sejarah, betapa banyak negeri yang hancur akibat bencana, karena mendhalimi para wali (rasul). Khawatir kita, makin banyak fatwa sesat turun dalam satu negeri, makin amburadul negeri itu. Karena kita tidak tau, dengan siapa kita sedang berperang. Sementara Allah berfirman: “Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya” (HR. Bukhari). Ayo kita refleksi atas apa yang pernah terjadi. Semoga Allah curahkan ampun dan rahmat-Nya kepada kita semua.

Pertanyaan terakhir, “Apakah anda wahai Said Muniruddin sudah mengenal wali?”. Mungkin itu pertanyaan anda setelah membaca tulisan ini. Jawabannya, “Ayo kita ngopi!”. Hanya segelas sanger yang bisa menjawab semua ini!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin