THE POWER OF ZIARAH

The Power of Ziarah
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Kalau penuhnya masjid dijadikan ukuran bakal jayanya umat Islam, ragu juga saya. Masjidil Haram penuh sesak 24 jam. Arab Saudi tetap di kaki US dan Israel. Sekalipun kuota haji ditambah tujuh kali lipat biar Haramain tambah padat, dukungan negara-negara Arab terhadap zionisme makin kuat. Tidak tau juga saya, apakah dengan penuhnya masjid di kampung anda, lalu umat Islam tiba-tiba jadi maju.

Saya tidak anti masjid. Saya senang berjamaah. Tapi saya tidak melihat cahaya kemenangan umat muncul serta merta dari sana. Yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Dari masjid kita terpecah. Bukannya muncul fatwa-fatwa jihad ke Palestina, misalnya. Sebaliknya, muncul provokasi-provokasi untuk melawan negara sendiri. Kalau sekedar kritik sah-sah saja. Tapi segala macam dalil sesat, bid’ah, dan pengkafiran terhadap sesama saudara mengemuka dari mimbar-mimbar agama. Atau mungkin itu yang disebut cikal bakal kejayaan kita. Entahlah!

Saya tidak menyuruh anda jadi Syiah. Tak usah! Tapi sesekali berkaca lah dengan negara yang sudah 40 tahun diembargo musuh-musuhnya. Namun makin bercahaya. Baru saja pada 24 Mei 2020 silam mereka menerobos blokade angkatan laut Paman Sam di Atlantik. Tanker-tanker minyak dan barang dari negeri Sinbad si Pelaut sudah tembus ke Latin Amerika, Venezuela, untuk membangun jaringan kemanusiaan dan kekuatan ekonomi baru disana.

Banyak sekali capaian teknologi dan pengetahuan mereka pada masa-masa sulit. Di tengah pandemi Corona, 22 April 2020, mereka juga telah mengorbit satelit militer untuk pertama kalinya. Hal ini sangat menakutkan bagi aliansi lain, karena selain menjadi alat memata-matai, teknologi yang sama dapat digunakan untuk meluncurkan rudal balistik antar benua. Musuh-musuhnya gerah. “Iran perlu dimintai pertanggungjawaban untuk peluncuran itu dan melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB”, sebut Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri Amerika. Iran santai saja.

Inilah satu-satunya negara Organisasi Konferensi Islam (OKI), yang kalau diancam, balas mengancam. Kalau di serang, balas menyerang. Setelah sebelumnya lebih banyak diam. Lihat apa yang terjadi setelah Qasem Sulaimani dihabisi, jenderal Iran yang gigih memotong ‘kaki-kaki’ ISIS dari Irak dan Suriah. Pangkalan militer US di Irak, Ainul Asad, rata dengan tanah (8/1/2020). Jumlah korban disembunyikan. Trump kehabisan akal. Tapi Iran juga sendirian, dibayangi Rusia dan China (rival utama Amerika).

Iran. Makin keras dipalu, makin maju. Makin diarit makin bangkit. Kok bisa? Sementara pada saat hampir bersamaan, negara-negara Arab termasuk Uni Arab Emirates (UEA) yang baru saja pada 13 Agustus 2020 dicucuk hidung oleh Trump melakukan normalisasi hubungan dengan Israel.

Menilik negeri para ulama (ayatullah) ini, semangat perlawanan dan visi kemenangan justru ada pada penuh sesaknya makam leluhur dan ideolog-ideolog mereka, khususnya imam-imam suci. Itu alasan mengapa Karbala tetap hidup. Dan uniknya juga, makam para imam ini berada dalam masjid. Ziarah yang bernilai spiritual, yang melampaui parade atau karnaval, menjadi kekuatan yang menghidupkan sel-sel kejuangan.

Penuhnya masjid-masjid Syiah, dan juga masjid-masjid Sunni, tidak menjadi masalah bagi setan manapun. Yang paling berbahaya, kalau pusara para imam dan pejuangnya sudah dipenuhi orang-orang. Inilah ‘syirik’ yang mesti dibasmi. Sebab, kaum muslim akan ‘menyembah’ (mengambil spirit) dari orang yang diziarahi. Pertautan batin dengan figur panutan menjadi energi untuk melawan ketidakadilan. Itulah mengapa penuhnya masjid-masjid Syiah tidak menimbulkan keributan. Tapi penuhnya Karbala (mencapai 15-20 juta peziarah setiap bulan Muharram) menjadi sorotan dunia. Lebih heboh dari penuhnya Mekkah dan Madinah pada musim haji. Berita-berita negatif muncul. Juga dibuat rusuh. Sekalian di bom.

Karena alasan ini, Belanda tak ragu membangun dan memperluas Masjid Raya Baiturrahman, dalam estafet panjang menundukkan Aceh (1873-1911). Pemerintah Kolonial ikhlas menambah jumlah kubah masjid yang terletak di pusat Kutaraja. Supaya rumah ibadah ini dipenuhi jamaah. Sebab, dalam masjid orang tidak bicara perang. Bahkan diharamkan membahas politik. Di masjid kita mencari damai. Melupakan keributan.

Pada saat yang sama; makam para ulama, raja dan pejuang diratakan Belanda dengan tanah. Sebab, spirit perlawanan umat Islam ada pada ratapan di tembok makam. Bukan di lantai masjid. Menurut sebuah peta lama, Kerkhoff itu di bawahnya terkubur jasad para ulama, raja dan banyak intelektual Aceh. Tapi kemudian di atasnya ditanam mayat-mayat tentara Belanda. Situs yang seharusnya menjadi salah satu spirit umat, dirubah jadi makam marechaussee.

“Dan bagi tiap-tiap kalian ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya” (QS. Al-Baqarah: 148). Kalau ingin menghancurkan suatu kaum, hancurkan situs-situs bersejarahnya. Hancurkan kiblat-kiblat ruhaniah mereka. Putuskan hubungan emosional dengan para pendahulu mereka. Hilangkan jejak kejayaannya. Makam adalah sumber memori paling kuat bagi generasi kemudian. Bukti fisik keberadaan mereka.

Di Aceh, makam-makam suci para habaib, ulama, raja dan pejuang; banyak yang sudah jadi semak, bahkan tempat pembuangan sampah. Jadilah kita bangsa tunggang langgang. Arab Saudi sejak munculnya wahabisme juga agresif ‘menertibkan’ semua situs tempat bersemayamnya jasad-jasad suci. Seperti Pekuburan Baqi’, tempat peristirahatan terakhir para kerabat dan sahabat Nabi. Awalnya diketahui jelas siapa shahibul makam. Di bawah Bani Su’ud, semuanya dibongkar. Kini hanya tersisa batu, tanpa nama dan identitas.

Masjid itu kiblat vertikal, tempat kita bertuhan. Makam para wali kiblat horizontal, tempat kita menempa spirit sosial. Tuhan tidak pernah turun ke bumi untuk mengasah pedang dan pena. Ia sibuk di langit sana. Ia justru mengirim para nabi, rasul, imam, wali, atau khalifah-khalifah suci; sebagai pancaran-Nya. Mereka adalah Kalam-Nya. Ruh-Nya. Dhahirnya Dia. Sebagaimana firman Tuhan, para syuhada ini (orang-orang yang sudah sampai pada makam menyaksikan Allah) tidak pernah mati. Hidup, dan masih memperoleh rizki. Maka baik-baiklah dengan mereka. Biar kebagian rizki (syafaat-Nya).

Kalau kita gagal berkiblat kepada wujud-wujud yang maha hidup dan nyata ini, kita akan kehilangan elan vital dalam perjuangan. Sebab, jihad butuh ketauladanan. Makrifatullah adalah mengenal para wali (pemimpin zaman). Islam dan leadership tidak bisa dipisahkan. Patron suci, para utusan Tuhan, senantiasa hadir sepanjang zaman.

Inilah dua kiblat yang tidak boleh dipisahkan. Kiblat ketuhanan dan kiblat kerasulan. Maknanya, ada dua yang kita ‘sembah’ (syahadati). Pertama nilai-nilai suci (Allah) itu sendiri. Kedua, ketauladanan dan kepengikutan kepada ruh-ruh suci (nabi dan kewarisan para wali). Yang terakhir ini merupakan alasan malaikat dan iblis disuruh sujud, selain kepada Allah, juga kepada Adam. Ada (cahaya) Tuhan dalam dirinya.

Makanya, banyak masjid yang di dalamnya ada makam mujtahid (wali, pembaharu, pejuang). Bahkan langsung di dalam masjid. Di Syiah rata-rata begitu. Dalam Sunni juga banyak ditemukan hal serupa. Makam Nabi SAW juga berada dalam Masjid Nabawi. Sampai saat ini tidak ada yang bongkar, atau menyebutnya syirik. Masjid itu makam. Karena Tuhan (masjid) dan  wakilnya (makam) tidak terpisah. Allah senantiasa bersama kekasih-Nya.

Keyakinan umat kepada Tuhan memang tidak bisa diganggu. Tapi, keyakinan kepada para wali-wali Tuhan bisa diredupkan. Melalui pembongkaran makam-makam suci. Pensyirikan ziarah. Pembid’ahan tawassul, dan sebagainya. Itulah penyebab munculnya “buih” di lautan. Masjid makin ramai. Subuh makin padat. Tapi taring kita terhadap kedhaliman global makin tumpul. Tersisa sedikit yang militan untuk menghadapi setan. Yaitu mereka yang masih memenuhi makam-makam syuhada. Mereka merayakan hari lahir dan kematian figur-figur nilai. Membaca doa dan syair-syair kepahlawanannya sepanjang masa.

Selebihnya, kalaupun ada dari kita yang masih tersisa beraninya, ya dengan jadi teroris. Membunuh siapa saja yang tidak sepaham dengan mereka. Bahkan situs suci para wali ledakkannya. Makam Nabi Yunus as di Mosul Irak, pada 24 Juli 2014 diluluh lantakkan oleh ISIS, dengan dalih pemurnian agama. Para sufi dianggap mempraktikkan klenik lalu dihabisi, termasuk Sulaiman Abu Haraz di Sinai dan Ramadhan Al-Buthi di Suriah. Begitu stress-nya umat Muhammad di akhir zaman. Tidak mampu lagi membedakan antara iblis dengan malaikat. Antara dukun dengan sufi.

Saya tidak mendakwahkan kita untuk meninggalkan masjid. Sebaliknya, penuhi masjid. Tapi, jangan sampai hati kita “kosong”. Isi dengan ruh perjuangan para nabi dan wali-wali. Bertawassullah kepada para tali Allah. Sebab, Nabi berkata: “Di akhir zaman, masjid-masjid penuh, tapi kosong”. Penuh fisik orangnya. Tapi ruhul muqaddasah-Nya tidak ada.

Itulah yang dilarang Nabi: Shalat di atas ‘kuburan’ (HR. Bukhari dan Muslim). Atau menjadikan ‘rumah’ (“hati” tempat bersemayamnya Allah) sebagai ‘kuburan’ (HR. Bukhari dan Muslim). Engkau shalat, tapi hatimu ‘mati’. Emang siapa yang sholat di atas kuburan. Sholat ya harus di samping kuburan. Tapi beda dengan Masjidil Haram, ada riwayat yang menyebutkan, bahwa keliling Kakbah itu penuh dengan makam para nabi dan wali-wali (jumlah nabi mencapai 124 ribu, sebagian besar makamnya tak diketahui). Di atasnya kita shalat. Sah-sah saja, bahkan diganjar 100 ribu kali masjid lainnya. Karena dipenuhi makam para nabi, maka vibrasi ketuhanan diseputar itu tinggi sekali.

Sebagai penutup, kami ingin menegaskan. Masjid itu memberi kecerdasan spiritual (spiritual quotient). Karena di bawah kubahnya kita melupakan semua, dan hanya mengingat-Nya. Sementara di sekolah-sekolah kita memperoleh kecerdasan intelektual (intellectual quotient) melalui kajian pustaka dan diskusi-diskusi terarah. Tapi di makam para nabi dan auliya kita akan sadar bagaimana sejarah kita, apa yang harus kita lanjutkan, dan kemana kita akan kembali. Inilah yang memantik kesadaran sosial (social quotient). Ini pula yang akan menggerakkan, membuat kita berani hidup sekaligus mati (adversity quotient).

Kita semua orang cerdas. Tapi kecerdasan kita terpenjara dalam tulisan-tulisan berstandar internasional. Tidak membawa  perubahan mendasar bagi masyarakat, kecuali bagi diri kita sendiri (naik pangkat dan gaji, dari asisten ahli ke guru besar). Masyarakat tetap dalam keadaan stagnan. Miskin, bodoh dan tertindas.

Itu terjadi manakala kecerdasan kita kehilangan “ikatan jiwa” (ruhiyah reference) dengan arwah para nabi dan wali-wali. Otak dan kalbu kita memang hidup, tapi tidak mampu bergerak. Mati suri. Tidak ada perlawanan terhadap kejumudan dan penindasan. Itulah fenomena masjid dan kampus yang penuh. Tapi tidak memberi kejayaan bagi umat.

Pada tingkat birokrat pengelola anggaran, situasinya bisa lebih parah lagi. Saban hari menilep uang. Karena mereka lupa siapa leluhurnya. Bahkan tidak tau dimana makam mereka, konon lagi menggali kebaikan-kebaikannya. Ya itulah, fisik kita bolak balik haji dan umrah. Tapi korup (kehilangan pertalian ruh dengan yang maha suci). Kalau sempat Allah buka mata batin kita saat berada di masjid, mungkin yang terlihat adalah jamaah dalam aneka wujud hewan. Astaghfirullah. Was-was kita, dengan keramaian tanpa ruh. Rumah ibadah bisa berubah jadi kebun binatang.

Wajah saya sendiri pun jangan-jangan juga belum sempurna dalam bentuk manusia!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin