REFOCUSING KESADARAN: DARI “AKU BERPIKIR” KE “AKU DIBERI TAU OLEH TUHAN”

Refocusing Kesadaran: Dari “Aku Berpikir” ke “Aku Diberi Tau oleh Tuhan”
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ada dua level kesadaran manusia. Pertama, sebagai “binatang” yang berakal (makhluk rasional). Kedua, sebagai “manifestasi Tuhan” yang supra-rasional (intuitif). Kita harus belajar melakukan refocusing, atau mungkin juga evolusi, dari level pertama kepada yang kedua. Pada tingkatan awal, kita yang aktif berpikir (“aku berpikir”). Disini, kita bergerak dan berpikir menurut maunya ego kita. Sedangkan di level puncak, Tuhanlah yang sudah memikirkan melalui kita (“aku dipikirkan”/”aku diwahyukan”). Kita telah menjadi wadah tempat Tuhan bergerak dan berpikir.

Pertama, manusia sebagai “binatang” yang berkesadaran (berpikir/berakal)

Pada tingkatan paling rendah, manusia persis seperti yang didefinisikan filsuf Perancis bernama Rene Descartes (1596-1650): Cogito, ergo sum. I think, therefore I am. “Aku berfikir, maka aku ada”. Filsuf muslim juga mengatakan hal serupa: al-insanu hayawanun nathiq (الانسان حيوان ناطق). Manusia adalah “binatang”, yang berakal. Berakal (berpikir) adalah bentuk kesadaran yang membuat kita “ada” (eksis) sebagai manusia.

Kita semua memang binatang. Fungsi-fungsi biologis kita 100 persen seperti umumnya hewan. Hanya karena ada akal, punya kemampuan berpikir, maka kita disebut manusia. Coba kalau hilang akal, kita menjadi binatang murni (yang hanya punya insting alamiah dan nafsu). Seandainya seekor monyet punya daya untuk berpikir, ia juga akan menjadi manusia. Anjing sekalipun, kalau punya nalar, sah kita sebut manusia.

Maka, tugas kita sebagai manusia adalah peutimang akai (bahasa Aceh: mengurusi akal). Tidak kurang dari 100 ayat yang menekankan urgensi tafakkur, ta’aqul dan tadabbur. Wajib belajar 12 tahun (SD, SMP dan SMA), ditambah 10 tahun kelanjutannya (S1, S2 dan S3); tujuannya untuk mendidik akal, bukan untuk berjumpa Tuhan. Pesantren 7 tahun tujuannya juga itu. Kalau gagal cerdas (rasional), kita akan menjadi binatang beneran. Bahkan lebih rendah dari itu.

Urgensi syariat juga begitu. Hanya diperuntukkan bagi kaum yang berakal. Yang tidak berakal (hilang akal), boleh suka-suka. Hukum-hukum dan perintah agama, itu mulai berlaku sejak aktifnya fungsi-fungsi akal (baligh). Syariat itu basisnya “akal” (argumentasi rasional). Penuh debat, ijma dan qiyas. Sehingga melahirkan banyak pemikiran, school of thought (mazhabs). Berbeda dengan hakikat; ilmu rasa, ilmu diam. Pada kadar tertentu, ilmu ini dipenuhi hal-hal mutasyabihat, bahkan ‘irrasional’ (supra-rasional). Syariat tujuannya mengelola akal, sampai dia “tunduk” dalam dimensi hakikat (Wahyu). Sampai dia melihat Wajah Tuhan.

Kata-kata “aku berpikir” (maka aku ada) menunjukkan ego atau keakuan. Sekaligus kemandirian kita sebagai makhluk yang bebas (terlepas dari Tuhan). Disatu sisi, akal ini hebat. Ia bersama daya eksperimentasi dan observasi mampu berkreasi tanpa batas. Peradaban dibangun dengan ini. Sekaligus juga hancur oleh sisi buruknya, ketika nafsu menunggangi. Sebab, sesuatu yang tanpa batas selalu membawa kepada anarkhi. Bahkan membuat jiwa kita semakin tidak bertepi. Resah. Gelisah. Jauh dari bahagia. Akal dan proses berpikir membawa kita kepada sesuatu yang tidak berujung. Positivisme, skeptisisme, dan isme lain yang menihilkan Tuhan; juga lahir dari rasionalitas (bentuk-bentuk kecerdasan yang tidak ada akhir). Sementara kita juga butuh kepastian. Kesempurnaan. Fitrah. Sesuatu yang absolut. Yang Haqq.

Kedua, manusia sebagai manifestasi “Tuhan” (makhluk yang telah kehilangan akal, berdimensi wahyu/supra-rasional)

Oleh karenanya, akal harus diup-grade untuk merasakan sisi lain dari kesadaran. Dari kesadaran “aku berfikir” (aku dalam “a” kecil), ke kesadaran “AKU berfikir” (“A” besar, dalam artian Tuhan itu sendiri yang berfikir). Akal harus ditenggelamkan (dicelup) dalam samudera kesadaran ilahiyah, untuk menjangkau kebenaran yang lebih tinggi. Untuk merasakan bahagia (merdeka). Proses mendewasakan akal adalah proses perjalanan kembali, menuju, menemukan, atau berjumpa Tuhan. Sekilas pernah kami bahas tentang ini dalam artikel berjudul “Posisi ‘Aqal dalam Hukum Islam”. Artikel yang sedang anda baca ini memiliki pesan yang sama, dengan uraian berbeda.

Dalam Islam, metode penyempurnaan jiwa (penyucian jiwa) adalah usaha membawa akal yang liar, yang mungkin hanya tau bahwa Tuhan itu ada, kepada bentuk-bentuk pengalaman pertemuan dengan-Nya. Maka dikenal adanya metode “perjalanan jiwa” (dalam berbagai istilah juga disebut mikraj, salik, irfan, atau tariqah). Semua orang shalih menempuh jalan ini melalui bimbingan para buraq (guru spiritual). Sampai menjadi nabi (rasul).

Apa itu nabi atau rasul?

Nabi atau rasul adalah orang-orang yang sudah ‘kehilangan’ akal. Bukan dalam artian bodoh. Malah super-cerdas. Karena apa yang dikerjakan, bukan lagi kehendaknya. Apa yang diucapkan, bukan lagi hasil pemikirannya. Dia tidak lagi pada posisi Rene Descartes, yang masih sibuk “berpikir” untuk eksis. Ia sudah berada pada posisi selalu “dipikirkan” oleh Tuhan. Ia sudah dibahani. Pengetahuannya “diberi”.  Sehingga setiap yang keluar dari mulutnya adalah “wahyu” (ucapan Tuhan):

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ • إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan” (QS. An-Najm: 3-4).

Tindak tanduknya “tauladan Agung” (representasi dari gerak Tuhan, akhlaknya Allah):

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang Agung” (QS. Al-Qalam: 4).

Segala sesuatu yang keluar dari sosok yang ‘kehilangan’ akal akan bernilai suci. Mereka telah menjadi representasi Tuhan di muka bumi. Khalifah-Nya. Tajalli-Nya. Ruh-Nya. Cahaya-Nya. Kalam-Nya. Mereka bukan Tuhan yang Maha Batiniah itu. Tapi Tuhan menjadi “Dhahir” dengan adanya mereka. Maka wajar jika Allah bershalawat kepada unsur Qadim ‘Diri-Nya’, yang ada dalam Wujud Muhammad itu. Mana mungkin Allah dan para malaikat bershalawat kepada unsur-unsur baharu manusia. Begitu juga anda, tidak pantas ‘beribadah’ (bershalawat) kepada Muhammad, atau siapapun yang tidak ada unsur Tuhannya disitu.

Adam sekalipun ‘disembah’ (disujudi) setelah ada kesadaran Ilahiyah (Asma) dalam dirinya. Butuh proses panjang bagi Adam untuk meng-upgrade kesadaran akalnya sebagai homo sapiens (binatang berakal), untuk menjadi homo deus dengan unsur-unsur divinity. Ia bahkan mampu melampaui derajat malaikat. Padahal, sebelumnya Adam juga dikenal sebagai makhluk pendosa. Penjamah ‘khuldi’. Itu dimensi biologis, nafsu, dan syahwat kebinatangan kita semua sebagai manusia. Kita semua Adam. Punya potensi salah. Tapi akan berbeda ketika segala hasrat dan akal rendahnya dituntun untuk bertaubat sampai mencapai makam yang sempurna (kamil mukammil).

Sebagaimana kita semua; Muhammad itu juga Adam, makhluk biologis. Namun mujahadah spiritual dan amal shaleh yang ia lakukan sejak muda, telah membuat dimensi “aku berpikir” dalam dirinya; mencapai maqam liqa’ (terhubung) dengan Tuhan. Sehingga suami Sayyidah Khatijah ini berubah menjadi Logos atau wujud dari Kesadaran Tuhan (“aku diwahyukan”): “.. Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku..” (QS Al-Kahfi: 110).

Wahyu ataupun hadis, itu bukan produk akal “iseng-iseng berpikir” Muhammad. Kalau itu murni hasil pemikiran “akal binatang” Muhammad, maka anda bisa membuat sebuah cabang ilmu baru untuk menyeleksi yang mana dari Muhammad yang benar-benar berasal dari Tuhan, dan yang mana dari “dimensi binatang”-nya Muhammad (sehingga tidak mesti ditiru). Kenyataannya, keseluruhan ucapan, gerak dan diam Muhammad disebut “sunnah” (sumber hukum utama dalam Islam).

Karena, Muhammad telah ‘kehilangan’ dirinya. Sehingga, aktual dimensi ilahiyahnya. Dalam bahasa lebih simple, aqal (kejeniusan) Muhammad telah terhubung dengan ‘Aqal (kesadaran) Tuhan. Sehingga apapun yang ia omongkan dan pertontonkan, otomatis bernilai suci (maksum). Kita bisa saja meniru Muhammad. Tapi belum tentu menjadi Muhammad. Bahkan bisa menjadi setan. Tergantung level kesadaran yang kita gunakan dalam meniru (menauladani) beliau. Kalau isi dalam kita masih bersetan, maka jenggot dan jubah pun bisa ikut bersetan. Sholat sekalipun, bisa digerakkan oleh setan.

Inilah pentingnya makrifat (mengenal atau terkoneksi dengan Allah). Makrifat adalah awal beragama. Makrifat merupakan awal dari fananya kita dalam dimensi (kesadaran) ketuhanan yang maha tinggi. Awal dari leburnya aqal yang dibayangi nafsu ke dalam ‘Aqal al-Ilahi yang maha membimbing dan menunjuki (hadi dan laduni). Makna makrifat hanya bisa dipahami secara benar oleh orang-orang yang sudah mengalami. Secara teoritis siapa saja boleh bicara. Kajian tasawuf tentang makrifat banyak sekali. Tapi bagaimana pengalaman nyata “bertutur” dan mendapat “wahyu” (ilham) secara langsung dari Allah, itu hanya para nabi dan ahli sufi yang tau.

Nah! Untuk memperoleh kesempurnaan sebagai makhluk berjiwa, kita harus mengupayakan “refocusing kesadaran”. Dari bentuk-bentuk kecerdasan yang muncul dari “aku berpikir”, ke model-model pengetahuan “aku dipikirkan” (diberi wahyu/ilham). Dari olah akal murni (hushuli), ke olah jiwa dan rasa (hudhuri). Sehingga nalar kebinatangan kita tercelup (sibghah) dalam kesadaran Tuhan.

Inilah yang membuat Muhammad sangat unik. Disatu sisi, nalar biologis kemanusiaannya sangat bagus. Meminjam istilah neuroscience dan brainwave, gelombang Beta dari kesadaran intelektual Muhammad sangat tinggi. Genius. Logis. Kritis. Disaat bersamaan, ia juga berada dalam kondisi sangat intuitif. Dalam nazam Aceh dikatakan: Nabi hana teungeut, yang teupet cit aneuk mata. “Ia tidur, tapi tidak pernah tertidur”. Ini menggambarkan kondisi Theta dari jiwanya. Selalu dalam keadaan tenang. Selalu dalam posisi meditatif (zikir). Sehingga ruhaninya senantiasa dalam “mimpi”, terhubung dengan dunia “visi” (revealation/wahyu).

Ini yang disebut “tercerahkan” (enlightened). Sebuah kondisi ketika kecerdasan alam sadar intelektual (conscious mind) bertemu dengan kecerdasan bawah sadar ruhaniah (subsconscious mind). Maka wajar kalau perilaku ‘iseng’ (subscounscious) Nabi juga bernilai logis (conscious). Atau sebaliknya, produk pemikirannya (consciousness) adalah juga titah Tuhan (subconsciousness). Semua yang berasal darinya menjadi bernilai suci. Karena ruhani dan akal, keduanya hidup. Saling mengafirmasi. Apa yang ia pikirkan selalu terkonfirmasi ke alam Rabbani. Bahkan, pengetahuan-pengetahuan muncul sebelum sempat ia pikirkan. Ia sudah mencapai bentuk-bentuk pengetahuan yang “diberi”, bukan lagi “dicari”. Unsur langitnya (Muhammad Rasulullah) lebih aktif daripada unsur buminya (Muhammad bin Abdillah). Qudrah iradah Allah yang mendominasi, bukan hawa nafsunya lagi.

Untuk mencapai kesadaran seperti ini, sebagaimana sering disampaikan Abuya Sayyidi Syeikh Ahmad Sufimuda, kita harus meniru para nabi sebelum mereka menjadi nabi. Mencari tau, pendidikan apa yang ditempuh Muhammad “Sang Pemikir” sebelum jadi nabi dan rasul. Sehingga setelah lulus dari riyadhah Hira’-nya itu, ia mampu “menghadirkan” (mencapai kesadaran Tuhan) setiap hari. Kita mesti menekuni kembali metode-metode esoteris warisan agung para nabi, bagaimana mereka mampu ‘mematikan’ kesadaran akal, guna ‘melihat’ Tuhan. Karena Tuhan memang tidak bisa dijangkau dengan akal pikiran. Seperti tersebut dalam Al-Baqarah 125, ada detil cerita masa belia Muhammad yang hilang dari dunia peribadatan Islam. Tentang bagaimana teknik-teknik fazkuruni (mengingat Allah), sehingga pada usia 40 ia berada pada posisi adzkurkum (selalu diingat oleh Allah).

Surah Al-Kahfi 110 adalah refleksi bagaimana seorang manusia biasa (basyar/being) mampu mencapai alam kesadaran ketuhanan (god-like/becoming). Ada bentuk-bentuk amal shaleh dan metodologi liqa’ yang ia warisi. Sunnah yang misterius ini yang harus anda cari, kalau mau sembuh dari alam pemikiran yang penuh virus. Sumber penyakit kita semua adalah pikiran. Sumber kerusuhan antar mazhab (ideologi) juga karena perbedaan penafsiran (pemikiran). Maka untuk mencapai dunia yang lebih arif, kita harus bersedia melakukan refocusing kesadaran. Dari egosentrisme “aku berpikir”, kepada bentuk kepasrahan intelektual: “aku diberi tau oleh Tuhan”.

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan (konek) dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah mempersekutukan apapun dalam beribadat kepada Tuhannya” (QS. Al-Kahfi: 110).

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin