KUPIAH MEU-QUTUB

Kupiah Meu-Qutub
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

SUATU ketika Dek Laili melihat Bang Idris memakai kupiah baru. Kupiah dengan campuran warna merah, kuning, hijau dan hitam ini diketahui sejak dulu diproduksi oleh para pengrajin dari Desa Tungkop, Kecamatan Indrajaya, Pidie. Namun menjadi populer setelah diiklankan oleh “artis” dari Meulaboh, Teuku Umar (1854-1899). Sehingga belakangan juga dinamai “Kupiah Teuku Umar”.

“Kupiah apa itu bang?”, Tanya Dek Laili sambil melihat ke arah kepala Bang Idris.

“Ooo.. ini Kupiah Meukutop”, jawab Bang Idris.

“Apa itu Kupiah Meukutop?”, lanjut Dek Laili penasaran.

Melihat wajah teduh nan cantik Dek Laili yang penuh rasa ingin tau, mulailah Bang Idris menjelaskan:

“Kupiah Meukutop adalah kupiah yang mengartikulasi semangat “qutub” (kutub), kewalian atau kepemimpinan yang suci, kepemimpinan para syuhada atau orang-orang yang menyaksikan dunia Ilahi.  “Meukutob” atau “Meukutop”, artinya “seperti kutub”, meniru dan menauladani para Kutub. Kutub adalah para wali yang menjadi simpul atau poros keagamaan (“pasak bumi”). Mereka biasanya juga punya atribut-atribut khas. Salah satunya kupiah. Dalam dunia sufi, para wali terkadang tampil dengan keunikannya, dengan simbol-simbol leadershipnya. Peci atau kupiah adalah salah satunya. Maka, sebagai bentuk apresiasi adat atas kewujudan mereka, dibuatlah Kupiah Meukutop oleh para indatu kita. Siapapun yang memakai kupiah ini, diharapkan mewarisi semangat para ‘arif Rabbani”, terang Bang Idris.

“Yang ada di kupiah itu simbol apa, kok mirip huruf “Lam”?, tanya Dek Laili lagi.

Bang Idris kembali menjelaskan:

“Itu bukan huruf “Lam”. Ada garis yang menghubungkan kedua ujungnya. Itu huruf “H” hijaiyah, yang diambil dari ujung tulisan Allah. “H” itu representasi dari “Hu”, Huwallah. Dia Allah. Para sufi atau kutub sering mencapai level trance (fana) dalam zikir-zikir mereka. Nama panjang dan formal “Allah”, pada titik tertentu juga didekati dengan irama “Hu”. “H” yang menjadi simbolisme Allah inilah yang menutupi atau melingkari dimensi akal. Menjadi simbolisme daya ingat secara total kepada Allah. Sekaligus daya intelektual yang diwarnai dimensi ketuhanan. Empat tingkatan pada kupiah secara maknawi juga menggambarkan tahapan perjalanan jiwa dari syariat, tarekat, hakikat dan makrifat”, Bang Idris menguraikan.

“Ooo.. begitu. Jadi kenapa Kupiah Meukutop mulai populer lagi di Aceh?”, Dek Laili kembali bertanya.

“Nyan tanda-tanda alam bahwa Wali Kutop kana di Aceh!”, Jawab Bang Idris dalam bahasa Aceh, sambil tersenyum. Entah bercanda, entah serius. Dek Laili pun ikut tersenyum.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin