MENULIS DI LUAR PROFESI, TANPA KUTIPAN DAN EYD PULA!

Menulis Di luar Profesi, Tanpa Kutipan dan EYD Pula!
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. “Pak Sayed, tulisannya bagus-bagus. Tapi kenapa minim, bahkan hampir tidak ada kutipan?”, tanya seorang kolega. Seorang kolega lain malah lebih ekstrim, menyebut artikel-artikel kami “sama sekali tidak berkualitas”, karena nihil kutipan. “Tidak mencerminkan komunitas ilmiah”, sebutnya.

Bingung juga saya harus menjawab apa untuk pertanyaan di atas. Sebab, tulisan-tulisan saya adalah ide-ide (saya menyebutnya sebagai khatir dari alam tertentu) yang muncul secara spontan. Yang memaksa saya untuk menulisnya. Tidak diawali dengan membaca ini dan itu. Boleh jadi, apa yang saya tulis ada kaitan dengan referen tertentu. Kalau ingat, saya buat quote-nya. Kalau tidak, ya polos begitu saja.

“Saya tidak suka mengutip, ibu. Perilaku mengutip sudah saya tinggalkan. Karena tidak bagus dan juga dilarang oleh negara. Saya lihat banyak yang kena OTT gara-gara suka mengutip”, jawab saya seenaknya. Ditanya “kutipan ilmiah”, malah saya bawa lari ke “kutipan liar”. Itulah saya. Sering tidak fokus pada sebuah pertanyaan. Susah serius. Tapi kolega saya itu tertawa.

“Anggaplah tulisan-tulisan saya sebagai resume dari sesuatu, sehingga tidak perlu kutipan-kutipan”, saya kembali bercanda. Dalam sebuah tulisan ilmiah, ringkasan sebuah temuan (pengetahuan), memang tidak lagi dibumbui kutipan-kutipan.

“Kemudian, kenapa tulisannya tidak dirujuk sepenuhnya kepada standar ilmiah, EYD-nya juga dibenarkan dong!”, saran beliau lagi. Beginilah cara berpikir orang kampus yang baik. Menulis harus dalam kerangka baku. Risih untuk populer. Sehingga opini orang cerdas sering di reject oleh surat kabar lokal. Bahkan harus diurut kembali oleh editor media masa, agar gaya bahasanya sesuai dengan lidah awam.

Sebenarnya saya juga bingung, apa lagi yang harus saya jawab terkait ketaatan pada EYD. Dan jawabannya juga sudah pasti tidak serius: “Otak penurut saya sering terganggu ibu, sehingga suka menulis diluar keabsahan ejaan”, balas saya sekenanya. Jiwa ‘memberontak’ saya terhadap aturan memang tinggi. Mungkin juga dipengaruhi oleh otak imajinatif saya yang lebih dominan, daripada sisi analitisnya. Saya lebih suka melawan pakem “logis”, guna menyesuaikan tulisan dengan “rasa”. Mungkin karena itu pula jiwa radikal-sufistik saya lebih hidup, daripada sisi kepatuhan pada aturan-aturan klasik yang rigid.

Bukan kami menolak tulisan “formal”. Mahasiswa di kampus kami bimbing dalam regulasi ketat penulisan ilmiah skripsi. Tapi, di luar itu, kami ingin “amburadul” saja. Namun kreatif. Yang penting pesannya sampai. Konon lagi, isinya lebih banyak tentang Cinta. Maka ragam bahasanya pun pasti akan cenderung banyak dosa, syirik dan bid’ah dalam perspektif “syariat jurnalistik”.

“Pak Sayed kan orang ekonomi-akuntansi, tapi kenapa lebih banyak menulis tentang sufisme dan spiritualitas?”, ini pertanyaan terakhir yang tak kalah berat. “Ini persoalan wahyu, ibu. Lihat Yusuf, meskipun ia seorang akuntan ekonomi dan keuangan, ia juga berprofesi sebagai nabi”, jawab saya makin ngawur. Maka, sebelum diskusinya semakin ngawur, tulisannya kita cukupkan sampai disini. Sebenarnya, platform saidmuniruddin.com sengaja kami buat untuk menguatkan jiwa dakwah dan dedikatif kami terhadap tema-tema leadership dan sufisme yang sudah tumbuh sejak mahasiswa.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

ūü핬†powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin