HIJRAH MENJADI HAMBA ALLAH

Hijrah Menjadi Hamba Allah
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Belakangan marak fenomena “hijrah” para artis. Yang paling kentara adalah berubahnya penampilan, dari tidak berjenggot menjadi berjenggot. Well, kita tidak bisa melarang seseorang untuk tampil dengan gaya yang disukainya. Hak asasi masing-masing, untuk berjenggot atau tidak. Tapi, jika “memelihara jenggot” dipahami sebagai simbol atau bahkan substansi dari hijrah (ikut sunnah), itu termasuk yang mau kita diskusikan.

Hakikat hijrah adalah “berpindah”, melakukan gerak dhahir dan batin untuk menjadi hamba Allah. Tak ada kehidupan yang lebih baik selain menjadi hamba Allah. Tapi menjadi “hamba” bukan pekerjaaan mudah. Tidak sesederhana menyumbang Rp 5000 lalu menulis namanya sebagai “Hamba Allah”. Menjadi hamba Allah adalah menjadi sosok yang harus memberikan semuanya kepada Allah, sehingga tak tersisa apapun lagi bagi dirinya. Sesuatu yang saya sendiri belum mampu melakukannya.

Apa itu “hamba”?

Hamba itu “budak.” Hamba Allah, artinya budaknya Allah (‘abdullah). Untuk berprofesi sebagai budak, akan membuat anda tidak sempat mandi, karena sibuk melayani Allah. Juga harus kekurangan tidur, bangun malam-malam, untuk menemani Dia yang tak pernah tidur. Perhatikan bagaimana kehidupan ibu-ibu yang gigih merawat anak-anaknya. Atau seorang ayah yang mati-matian berusaha untuk keluarga. Atau kondisi para pembantu yang pontang-panting mengurusi majikan. Mirip-mirip tak sempat mempermak dirinya lagi. Sudah ‘hilang’ dirinya. Semuanya tentang Tuhannya.

Maka beda antara menjadi “artis” dengan menjadi “budak”. Artis fokus  pada “how to exist”. Budak, “how to give”. Artis sibuk dengan penampilan. Budak, pada pelayanan. Artis hidup dengan baju baru, parfum mahal, show, dan gaya. Budak tampil sederhana, apa adanya. Maka curiga juga kita dengan para budak (abdi) yang kian hari penampilannya makin kece dan parlente, sementara negaranya semakin bangkrut. Dari mana itu uangnya? Hanya KPK dan PPATK yang bisa menjelaskannya.

Pun saat pergi sholat ke masjid dengan pakaian-pakaian bersih nan mewah, sebenarnya kita tidak sedang sungguhan menjadi budak Allah. Kita sedang memerankan diri sebagai artis. Begitu anggunnya penampilan kita sehari-hari. Kalau sempat Allah itu berwujud, lalu kita didudukkan disamping-Nya, mungkin kalah penampilan Allah. Tapi ini tidak menjadi dalil bahwa ke mesjid tidak boleh memakai baju bagus. Jangan. Pakai saja. Tapi jangan lupa hakikat kita sebagai budak, sehingga punya rasa malu dihadapan Allah.

Oleh sebab itu, alasan Nabi SAW memiliki jenggot demikian lebat, selain tradisi Arab memang begitu, bukan karena itu wajib ditumbuhkan atas perintah Tuhan. Jenggot memang sesuatu yang tumbuh dengan sendirinya (fitrah). Bahkan tak sempat selalu dipotong (kecuali sekedar dirapikan), karena sibuk mengurusi Allah. Kira-kira begitu. Beda dengan sebagian kita, jenggot sudah menjadi bagian dari fashion. Sengaja ditumbuhkan. Biar mirip Nabi.

Kita menganggap jenggot sebagai bagian dari jati diri yang “shalih”. Sengaja kita pelihara sebagai bagian dari lifestyle islami. Sementara Nabi, jenggot itu tumbuh pada wajahnya sebagai bagian dari kepribadian “muslih”. Tumbuh sendiri dalam kesibukannya mengurusi masalah-masalah umat. Dan memang standar kelaki-lakian orang Arab, juga sejumlah suku bangsa lainnya, ya dengan berjenggot.

Maka kalau kita serius memilih hijrah untuk menjadi hamba sahayanya Allah, kita bakal lupa dengan fashion. Mungkin karena itulah pada kurun tertentu muncul sekelompok ahlus shuffah dengan penampilan wol kasar. Mereka ini ahli ubudiyah. Pekerja keras. Telah meninggalkan rumah. Tidur di beranda masjid Nabi. Kesalehan sosialnya tinggi. Hidup dalam panas. Menolong orang-orang. Wajar sekali fashionnya amburadul. Bersahaja. Bagi mereka, wajah Allah ada dalam gubuk-gubuk kumuh. Dalam tangis dan lapar kaum fuqara. Bagaimana mungkin mereka hadir ke tengah kaum papa dengan penampilan elit ala raja.

Bagi orang-orang semacam Abu Dzar Al-Ghiffari, Tuhan adalah Rabbul mustad’afin. Allah itu Tuhannya orang-orang lemah. Maka berpenampilan seperti orang-orang lemah adalah juga ciri khas sufi pada kurun itu. Selain juga sebagai bentuk protes kepada kekhalifahan Islam yang istana-istananya sudah dipenuhi kemewahan dunia. Mungkin mirip-mirip dengan kita para birokrat dan dewan sekarang. Saban hari berpenampilan mewah, duduk dalam AC dan mobil mewah. Asik bicara program dengan berbagai kepentingan tersembunyi. Sementara angka kemiskinan tak bergerak turun.

Berpenampilan indah dalam kondisi seperti ini adalah bid’ah. Karena itu indikasi adanya “jarak” antara kita dengan rakyat. Kalau saban hari masuk rumah reyot, mungkin baju pun harus kita sesuaikan. Cukup dengan kaos sederhana saja. Bukannya sufi tidak mampu bergaya dengan baju indah dan mahal. Tapi yang ditemui dan dilayani mereka adalah Allah dalam wajah-wajah rakyat jelata. Maka untuk apa dasi dan jam tangan mewah.

Saya tidak mengajak anda untuk meninggalkan fashion santai dibawah AC (office-oriented). Tidak. Tapi berpikirlah untuk memperbanyak kerja di bawah terik, membantu Tuhan secara nyata di lapangan-lapangan terbuka (kesalehan sosial). Sebab, bukan mustahil bagi Muhammad memiliki baju megah sekelas raja-raja Romawi dan Persia. Mungkin satu atau dua lembar ia punya. Tapi pakaian-pakaian yang pernah dipakainya, yang masih terdisplay di musium-musium peninggalan Islam (i.e., Topkapi Turki), terlihat sangat sederhana. Ini menunjukkan bahwa ia sangat dekat dengan rakyatnya. Ini menunjukkan ia memang budak dari Allah ta’ala.

Saya sepakat. Kita harus hijrah. Dari artis yang sibuk mengurusi ke-aku-an diri dalam berbagai merek busana, ke budak Allah ta’ala yang tinggi ibadah sosialnya. Kita harus memperbanyak kerja keras. Harus keluar keringat. Letak sehatnya disitu. Covid-19 ini sendiri mirip-mirip utusan Tuhan, yang memaksa kita untuk hijrah, mengisolasi diri dari banyaknya gaya. Corona juga memaksa kita hijrah, untuk berjemur saban hari di bawah panas. Virus ini memang telah memaksa kita hijrah, dari satu bentuk perilaku kepada perilaku lain; yang harusnya lebih bersih dan merendah dihadapan Tuhan.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi (menjadi budak-budakKu)” (QS. Adz-Zariyat: 56)

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin