PERANG SAUDARA

Perang Saudara
Oleh Said Muniruddin I Rector I The zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Apakah ada nabi selain Muhammad, yang hampir seluruh keluarganya dibantai sedemikian sadis dan masal,  lalu diarak dan dipermalukan; oleh umatnya sendiri?

Tidak ada!

Meskipun pahit, kita harus menerima kenyataan. Bahwa tidak ada umat yang lebih bobrok moralnya, selain dari umat akhir zaman. Yaitu umat Muhammad, yang begitu berani dan tanpa rasa bersalah menghabisi keluarga Nabinya sendiri.

Pembunuhan para nabi, ada dilakukan oleh umat-umat sebelumnya. Yahudi melakukan itu (Qs. 2:61, 2:87, 2:91, 3:21, 3:112, 3:181, 3:183, 4:155, 5:70). Tapi membantai seluruh keluarga nabi, itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Nabi Muhammad SAW juga selalu dicari untuk dibunuh, walaupun gagal. Namun puluhan anggota keluarganya berhasil dicabik-cabik di Karbala, 50 tahun setelah wafatnya. Bukan orang kafir yang melakukannya. Tidak ada orang kafir yang berani mendekat untuk membunuh keluarga Nabi Muhammad. Cuma orang Islam yang berani!

Semua kekejaman yang terjadi pada tahun 680 M/61 H itu dilakukan oleh mereka yang mewarisi kalimat syahadat dari Muhammad. Oleh sebuah sistem khilafah. Oleh (pasukan) Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan, yang notabene juga Quraiys. Bahkan punya hubungan saudara dengan Nabi SAW. Silsilah mereka bertemu pada Abdu Manaf, yang punya dua putra: Hasyim dan Abdu Syam. Dari Hasyim lahir Abdul Muthalib, kemudian Abdullah, lalu Muhammad. Sementara Abdu Syam punya anak Umayyah, seterusnya Harb, kemudian Abu Sufyan.

Orang-orang seperti Yazid inilah yang ingin dilawan oleh Husain (626-680 M/ 4-61 H). Orang-orang fasik semacam Yazid lah yang ingin diberitahukan Husain, bahwa mereka telah ada sejak awal sejarah manusia, dan akan selalu muncul sepanjang masa. Itulah perang terbesar dan tersulit. Perang saudara. Perang melawan setan yang sudah berganti wujud dalam jubah, jenggot, dan bendera tauhid. Lebih mudah melawan kafir yang beda atribut, daripada melawan kejahatan orang-orang munafik (se-agama).

Perang agama, sejak awal adalah perang saudara. Perang nafsu, harta dan kuasa. Perang antara ketauhidan (orang-orang ikhlas) melawan kapitalisme (orang-orang riya), dalam satu keluarga. Habil dan Qabil, itu adik abang. Tapi Qabil tidak ragu membunuh adiknya Habil, untuk merebut keindahan dunia (Iqlima). Namun, sekejam-kejamnya Qabil, ia masih menyesal dan mau belajar mengkebumikan mayat sang adik setelah dibunuhnya. Sementara mayat cucu dan cicit Nabi beserta keluarga dan pengikutnya, dibiarkan terlantar selama 3 hari di gurun pasir, sampai kemudian datang kabilah bani Asad untuk mengurusi fardhu kifayahnya.

Musa dan Firaun, itu hubungan saudara (tiri). Disini ada perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan, Fir’aun yang memerangi Musa dan tenggelam di laut Merah adalah Ramses II (ayah tiri yang mengadopsi Musa). Pendapat lain menyebutkan, yang melawan dan didakwahi oleh Musa adalah Merneptah, saudara tiri Musa di istana, anak dari Ramses II. Bagaimanapun, “pertikaian agama” zaman itu, terjadi dalam satu istana. Antar sesama mereka yang makan di satu meja, atau mungkin juga tidur pada ranjang yang sama. Semua hubungan itu tidak menyurutkan niat Fir’aun untuk menghabisi Musa yang berani memprotes perbuatan taghut (dhalim) dan menyerunya untuk kembali kepada ketauhidan yang asli.

Isa dengan Bani Israil, itu satu kesaudaraan. Satu kaum. Ahli famili. Tapi lihatlah bagaimana Isa di fitnah oleh para Ahli Kitab (imam-imam Yahudi) pada masanya. Sehingga ia harus berpindah-pindah tempat, karena kekuatan asing Romawi terus melacak dan berusaha menghukumnya. Bukan musuh dari seberang lautan yang menghentikan dakwah Isa. Tapi orang-orang yang keras beragama dari pemuka kaumnya sendiri. Padahal, Isa datang untuk menerangkan kembali tentang Taurat dan agama yang sudah kehilangan ruh (diselewengkan) pada masanya. Bukan membawa agama baru. Juga bukan untuk mendirikan negara atau merebut kuasa.

Jika Al-Quran begitu banyak mengisahkan tentang konflik berdarah yang terjadi antara sesama saudara pada nabi-nabi terdahulu, maka haruskah kita berhenti membaca ayat-ayat dan melupakan kisah-kisah yang menyakitkan itu? Tentu tidak. Karena Al-Qur’an itu petunjuk bagi kita semua. Lalu, jika sejarah Islam paska kenabian juga ikut menyajikan kisah perang antara yang hak dan yang batil, yang ternyata juga terjadi antara sesama saudara, maka haruskah kita belajar melupakan kisah jihad teragung seperti itu? Tentu tidak. Karena itu ayat (petunjuk sejarah) yang paling dekat dengan kita.

Semua gerakan kenabian adalah perang aqidah, perang saudara. Perang aqidah bukanlah perang antara agamawan dengan ateis. Bukan. Tapi antara sosialis dengan kapitalis. Dua-duanya bertuhan. Hanya beda orientasi. Satu berpihak pada mustadafin, satu lagi mengakumulasi power untuk nafsu. Komunis sekalipun, orientasinya kuasa sumberdaya. Kapitalis juga. Aidid dan Muso itu bertuhan. Juga Sukarno. Pun Suharto, memiliki gelar “haji” dan “muhammad” diawal namanya. Tapi bagaimana brutalnya Orde Baru, menjadi sisi gelap dari pembangunan Indonesia. Tidak perlu takut untuk terus-menerus membicarakan berbagai kasus pembantaian dalam sejarah kita, agar menjadi pelajaran bagi semua. Meskipun ada pihak-pihak yang ingin kisah-kisah sedih itu “ditutup”. Padahal, melalui tetes air mata dan aksi melawan lupa, semangat kejuangan senantiasa hidup.

Itulah perang Muhammad. Perang Husain. Yang hampir seluruhnya adalah perang melawan klan kapitalis di wilayahnya. Makanya ayat-ayat muamalah yang bertujuan meluruskan sistem ekonomi, jumlahnya banyak sekali. Semua berpunca pada ketauhidan. Suku Quraisy sebelum Muhammad merupakan suku yang percaya adanya Tuhan. Kakbah itu pusat ketuhanan suku Quraisy, juga bagi suku-suku lainnya. Hanya saja ada nilai-nilai luhur yang terganggu karena kerakusan sekelompok orang. Itulah alasan kenapa Tuhan senatiasa mengutus para nabi, imam dan wali-wali (para mujaddid). Tujuannya untuk “memperbaharui” agama yang cenderung diselewengkan. Karena tidak harus menunggu 1400 tahun; belum se-abad nabi pergi, agama ini sudah dirusak oleh para penguasa dan para alim pendukungnya.

Itulah perang Husain. Perang paling sulit. Perang melawan saudara-saudara kapitalis dan agamawan palsu. Perang melawan fir’aun dan bal’am-bal’am baru. Perang melawan setan yang merasuki sejumlah trah yang menguasai tanah-tanah Islam. Itulah perang aqidah. Perang satu agama. Perang satu Tuhan. Yang satu Tuhannya asli, satu lagi palsu. Itulah perang paling berat. Dan sampai hari ini, perang itu terus terjadi. Perang melawan setan yang memakai baju dan label Tuhan yang sama. Tapi menindas. Korup. Eskploitatif.

Sejarah perjuangan kita tidak melulu tentang memori melawan kafir VOC dan Belanda. Perang paling aktual adalah perang dengan korporasi dan para pejabat kita sendiri; yang telah mengeruk hasil bumi, APBN dan APBD; melebihi jumlah yang pernah diambil Belanda. Dan menyisakan kemiskinan bagi bangsanya. Perang kita adalah perang melawan kebusukan agama. Perang melawan kebusukan politik yang berlindung dibalik kesucian UUD 45 dan Pancasila.

Itulah spirit Karbala. Setiap 10 Muharram, kesadaran kita selalu di refresh. Bahwa perang sesungguhnya adalah “perang saudara”. Musuh sebenarnya sangat dekat. Mengalir dalam “nadi”. Dalam tubuh persaudaraanmu sendiri. Dalam wujud ISIS yang sangat islami. Mudah melawan Belanda yang berbeda warna kulit dan bendera. Perangnya jelas dan straight forward. Tapi sulit melawan mafia yang seiman dalam satu Republik. Karena sifatnya laten, dalam satu selimut. Mudah menentang zionisme yang punya simbol Bintang David. Namun sukar sekali membebaskan Baitul Maqdis melalui penyatuan aristokrat-aristokrat Arab yang sangat beragama itu, namun masih cinta dunia dan takut mati. Malah menyetujui Jerussalem menjadi Ibukota Zionis, dan mulai giat melakukan normalisasi dengan penjajah saudaranya.

Spirit Karbala inilah yang membuat figur sederhana semacam imam Khumeini (1902-1989) mampu menjatuhkan saudara Persia seagamanya, Syah Muhammad Reza Fahlevi (1919-1980). Sekaligus para pendukung baratnya. Sudah 40 tahun Republik Islam Iran bertahan, dan terlihat semakin kuat dan berani. Yang susah dihadapi dalam pembebasan Palestina cuma saudara-saudara Arab kita yang berjenggot dan berjubah itu, yang sangat menguasai ilmu tentang kemurnian tauhid, tapi pekerjaannya melayani nafsu kapitalistik US dan Israel.

Perang abadi dalam agama, adalah “perang saudara”. Yaitu amar makruf nahi munkar terhadap apa sedang dilakukan saudara-saudaramu. Bukan hanya tentang membantu kebaikan yang sedang dikerjakan saudaramu, tapi juga mencegah meluasnya keburukan yang sedang mereka pertontonkan. Karena itulah slogan: “Setiap hari adalah Asyura, setiap tempat adalah Karbala” selalu relevan. Inilah yang setiap tahun diingatkan. Labbaik ya Husain, Labbaik ya Rasulullah!

Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin