MAKRIFATNYA SEORANG YOUTUBER

MAKRIFATNYA SEORANG YOUTUBER
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ini kisah nyata. Ada seorang Youtuber. Ia suka merekam tingkah laku anaknya yang sedang tumbuh dan lucu-lucunya; kemudian ia up-load ke Youtube.

Pada suatu hari, ia kembali membuat video edukasi tentang anaknya. Setelah selesai di edit dan hendak di up-load ke Youtube, tiba-tiba Allah menegurnya. Ia tidak diperbolehkan mengup-load video tersebut. Padahal itu cuma video biasa. Tidak ada content berbahaya, ataupun melanggar aturan komunitas. Bahkan bernilai edukasi. Ia terkejut dan bingung, kenapa Allah tidak memberinya izin untuk mengup-load video tersebut.

Setelah beberapa waktu kemudian, ia kembali memohon izin kepada Allah untuk mengup-load video itu. Lagi-lagi, Allah melarangnya. Ia semakin bingung. Apa salahnya. Ia menunda mengup-load video itu. Karena ia seorang mukmin, maka sudah sepantasnya melakukan sesuatu setelah ada izin dari Allah.

Disitulah ia kemudian merenung, mencoba memahami apa problemnya. Ia memohon petunjuk Allah, apa kelirunya. Ia pun diberi ilham (pemahaman). Ternyata, kekeliruannya hanya sedikit. Ia punya “rasa bangga” terhadap tingkah laku anaknya itu sebesar zarrah. Kebanggaan inilah yang tanpa ia sadari sebenarnya ingin ditunjukkan kepada orang-orang. Ia mulai memahami, ternyata kebanggaan yang ia miliki itu berbalut dengan ‘secuil’ unsur riya. Secuil saja, halus sekali. Namun cudah cukup besar untuk membuat Allah murka.

Mulailah ia beristighfar, sebagaimana diajarkan Gurunya. Lalu meluruskan niat, dan berusaha lebih ikhlas dalam tindakannya. Ia mencari motivasi yang lebih suci dalam mengup-load video tersebut. Ia mulai “mengosongkan diri”, menyerahkan semua kemampuan dan perkembangan anaknya itu semata-mata hanya karena qudrah iradah Allah. Lalu ia fokuskan postingan video tersebut sebagai bentuk rasa syukur, dan ia pun bersedekah kepada Rasulullah atas hasil karyanya itu. Bahwa semata-mata semua ini terjadi karena syafaat-Nya.

Seketika itu pula Allah “hadir”, dan mengizinkan ia mengup-load video tersebut. “Alhamdulillah!!”, teriaknya lantang dan bahagia, sambil mengusap wajah. Tidak ada yang lebih bahagia, selain merasakan kehadiran Allah.

***

Saudara-saudara sekalian, kita tidak menyangka, di zaman modern seperti ini, Allah masih bisa diajak “bercakap-cakap”. Oleh Youtuber pula. Kita tidak bisa menilai manusia secara lahiriah. Memang terkadang, ada orang yang terlihat sangat beragama, tapi tidak memiliki “akses” kepada Allah. Tidak ada kontak dengan Tuhan. Sementara, ada orang-orang yang tidak kita duga, tidak punya penampilan sebagai alim ulama, tapi justru memiliki “jaringan” dan “koneksi” dengan Allah SWT. Orang ini mengetahui “pintu-pintu langit”, “jalan rahasia”, atau berpegang pada “tali” (sanad ruhaniah) yang memang tersambung kepada-Nya.

Saudara-saudara sekalian, mengaku bertuhan itu satu hal. Didatangi oleh Tuhan, itu hal lain lagi. Allah itu secara teoritis memang “maha hidup”. Tapi, ketika Dia benar-benar hadir dalam diri kita, disitulah ia “nyata” hidup. (Berpura-pura) bicara dengan Tuhan itu biasa. Tapi, kalau Dia yang berbicara dengan kita, itu baru luar biasa. Tidak perlu menjadi nabi. Cukup dengan menjadi orang shalih saja, Allah sudah berkenan hadir.

Dalam khazanah kaum arif dan para nabi, perjalanan ruhani baru dimulai ketika Allah sudah berkenan hadir secara aktif dalam diri kita. Ketika Dia sudah mulai berbicara secara laduniah dengan kita. Ingat, Allah belum membisu. Sampai kiamat pun Dia tetap memiliki sifat “berkata-kata” (kalam/mutakallimun). Ia berbicara dan memberikan ilham dengan beragam “teknik” dan “bahasa”. Karena itulah wahyu (kalam ilahi) hadir dalam aneka rupa.

Al-Quran menyebut “hubungan aktif” seorang hamba dengan Tuhannya  sebagai “radhiyatan mardhiyyah”. Ridha dan diridhai. Anda berbicara dengan Allah. Allah pun bersedia berbicara dengan Anda. Anda berlari ke arah-Nya, Dia pun berlari ke arah Anda. Anda menyebut-Nya, Dia pun menyebut Anda. Tidak hanya para nabi, maqam “aktif” dalam bertuhan ini dapat diperoleh oleh siapapun yang “jiwanya sudah tenang” (nafsul muthmainnah):

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ – ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ – فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ – وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS. Al-Fajr: 27-30).

Empat ayat ini bukan semata-mata tentang panggilan maut (kematian jasadi). Melainkan tentang rujuknya jiwa kita dengan Allah saat kita masih hidup, atau disebut dengan “mati sebelum mati” (kematian iradhi). Jiwa yang tenang diperoleh setelah “matinya” unsur-unsur ananiyah (tercela/syaithaniyah).

Dengan demikian, “jiwa yang tenang” (QS. Al-Fajr: 27) adalah jiwa yang telah diolah. Telah disucikan. Telah dibersihkan dengan ruhani Rasulullah. Ruh (jiwa) rendah kita hanya bisa disucikan dengan Ruh yang lebih tinggi, yaitu Ruhul Quddus (Ruhul Muqaddasah Rasulullah). Hanya jiwa yang telah melewati proses tazkiyah seperti ini yang akan “kembali” (tersambung/rujuk) dengan Allah. Sehingga memungkinkan bagi anda untuk berkomunikasi dengan Allah, dan Allah pun bersedia membalas komunikasi anda. Anda berusaha mendatangi-Nya, Dia pun menghampiri anda. Anda mengingat-Nya, Dia pun mengingat anda. Anda merasa telah berbuat baik, lalu Allah bersedia mengkonfirmasi bahwa itu baik atau tidak.  Relasi hamba dengan Tuhan yang sudah sudah timbal balik seperti ini, disebut: radhiyatan mardhiyyah (QS. Al-Fajr: 28).

Pada capaian hubungan yang “aktif” seperti inilah seseorang pantas disebut sebagai “hamba” (‘ibadi- QS. Al-Fajr: 29). Jadi, “hamba” itu levelnya memang sudah tinggi sekali. Sudah makrifat. Sudah mengenal dan dikenal oleh Allah. Beda dengan pemahaman umum kita, hamba adalah manusia rendah dan penuh dosa. “Hamba” itu manusia suci, jiwanya tenang, terkoneksi dengan ruh para wali (sudah memiliki unsur-unsur keruhanian rasulullah). Hamba adalah golongan manusia yang “sudah bersama Allah”. Dianalogikan sebagai “berada dalam syurga” (QS. Al-Fajr: 30). Kondisi kejiwaan seperti inilah yang harus kita capai.

Yang paling ditakutkan oleh seorang sufi adalah, hilangnya kontak dengan Allah. Ketika Dia diseru, Dia tidak lagi mau bertemu. Doa-doa yang sebelumnya makbul, kini tertolak. Tidak tertutup kemungkinan, kondisi jiwa yang sudah dalam keadaan “sebaik-baik bentuk” (ahsani taqwim, QS. At-Tin: 4); terjatuh dalam keadaaan yang “serendah-rendahnya” (asfala safilin, QS. At-Tin: 5).

Bayangkan, bagaimana akhir dari kehidupan Syeikh Barsisa seorang ahli ibadah. Atau Bal’am bin Baura yang pandai bercakap dengan Tuhan. Keduanya tergelincir dan putus makrifat. Iblis, itu juga makhluk yang bisa berbicara dengan Tuhan. Tapi kemudian menjadi tercela. Maka, untuk mencapai kontinuitas “pahala” (jiwa yang tenang/selalu bersama Allah/senantiasa berada di ‘syurga’); Al-Quran mengingatkan kita untuk senantiasa menjaga keimanan dan praktik-praktik kebajikan (QS. At-Tin: 6). Menjaga zikir dan amalan-amalan yang menyertainya.

Alhamdulillah. Di akhir zaman ini, masih ada diantara umat Muhammad yang mampu berkomunikasi dengan Allah. Seorang Youtuber pula. Bagaimana dengan kita?

Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin