ILLA BI SULTHAN

Illa Bi Sulthan
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Allah SWT berfirman:

يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ فَانْفُذُوْاۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍۚ

“Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan(QS. Ar-Rahman: 33)

Ayat ini dipahami secara beragam.

Pertama, tafsir klasik. Sebagian mufassirin (terutama para pemikir tekstual dan klasik) cenderung menerjemahkan sebagai tantangan Tuhan untuk kita yang ingin “lari” dari tanggungjawab akhirat, hukum-hukum, dan kekuasaan Allah. Kemanapun kita lari, pasti tidak bisa menghindar dari takdir-Nya (kematian misalnya). Kecuali dengan kekuatan Tuhan, dan itupun tidak mungkin kita dapatkan. Intinya, kita ini lemah. Tidak bisa terbang melewati batas langit dan bumi, serta tidak bisa lari dari Tuhan. Tafsir ini sangat normatif dan terkesan biasa saja, “datar”. Kita tidak akan mengomentari ini.

Kedua, tafsir saintifik. Ada mufassirin lain yang berani melakukan bid’ah, dengan membawa maknanya kepada penguasaan ilmu dan teknologi, sebagai syarat untuk menembus penjuru langit dan bumi. Para penafsir ini sudah berada pada zaman sains dan teknologi dan terpengaruh dengan “kompetisi” penaklukan ruang angkasa sebagai ukuran kemajuan manusia. Butuh akumulasi ilmu selama ribuan tahun bagi manusia untuk mampu terbang melewati batas-batas gravitasi. Pun untuk tembus lebih jauh lagi, memerlukan kemampuan saintifik yang lebih advance. Disatu sisi, Al-Quran memiliki pesan-pesan kuat untuk memahami dan menguasai alam semesta. Disisi lain, adalah fakta, negara-negara penguasa teknologi mengukuhkan dirinya sebagai adidaya dunia.

Masalahnya, tantangan terbesar kita bukan untuk menemukan apa yang ada di perut bumi; ataupun apa yang eksis di luar angkasa yang berjarak miliaran tahun cahaya. Bagi saintis murni materialis, mungkin, iya. Tapi bagi kita yang beriman (memiliki hipotesis tentang adanya Tuhan), ujung pencarian adalah pembuktian, penemuan, atau perjumpaan dengan Tuhan. Lihatlah bagaimana kisah sebagian saintis. Setelah berpuluh tahun menelusuri semua sisi semesta dengan ilmu fisika dan matematikanya; pada ujungnya tumbuh kerinduan untuk melihat Wajah Tuhan. Seperti kisah Ibrahim “the observer”; ada Wujud lain yang di cari, di luar objek-objek langit semacam bintang, bulan dan matahari (QS.).

Maka, “teknologi” apa yang mampu membawa kita ke hadapan-Nya? Pertanyaan ini membawa kita kepada tafsir selanjutnya.

Ketiga, tafsir metafisik. Jadi, silakan “menembusi” penjuru langit dan bumi dengan teknologi apapun yang kita punya. Pasti tidak bisa mencapai ujung dari semesta. Ya bagaimana bisa, toh langit itu tidak ada batasnya. Dan aneh juga kalau tugas untuk menciptakan teknologi angkasa ikut diamanahkan kepada kelompok Jin (“Ya Maksyaral Jinni”), yang kita tau dia itu makhluk gaib. Memang pesawat apa yang perlu diciptakan jamaah Jin untuk melakukan penerbangan ke luar angkasa bersama manusia? Kita tau, Jin itu bukan makhluk yang dibebankan untuk melakukan riset, berkreasi, dan mengembangkan teknologi seperti manusia. Atau jangan-jangan, kehidupan Jin juga seperti manusia, ada profesor dan doktor-doktor Jin yang sibuk meneliti di laboratorium dan bekerja di pabrik-pabrik pesawat ulang alik mereka?

Secara lahiriah (duniawi), kita tidak menolak, kejayaan di bumi memang mudah diperoleh dengan penguasaan teknologi. Kita harus berusaha mencapai itu. Tapi, kejayaan batiniah (ukhrawi) tidak ditentukan oleh kemampuan spaceship. Maka, perlu penguasaan teknologi lain untuk menembus “langit”.

Ingat, yang dimaksud “langit” tidaklah selalu dalam pengertian lahiriah. Ketika disebut malaikat sebagai penduduk langit, jangan menoleh ke awan. Pun ketika, dikatakan syurga ada di langit, jangan melihat ke arah planet di ketinggian sana. Lebih gawat lagi kalau dikatakan Tuhan ada di langit, itu bukanlah sebuah “tempat” yang memiliki jarak sekian tahun cahaya dari bumi. Kita cenderung memahami “langit” dalam gambaran lokasi berwujud fisik material.

Dalam banyak kasus, “langit” adalah adalah sebuah dimensi spiritual. Ada banyak wujud gaib (aspek-aspek ontologis keimanan) yang tidak kasat mata, dan semua itu ada. Keberadaannya ada pada dimensi “langit” (batiniah). Ketika Nabi SAAW melakukan perjalanan (mikraj) ke Sidratul Muntaha untuk berjumpa Allah SWT, orang awam memahaminya sebagai penerbangan “antar tempat” (space journey). Sementara kaum arif atau para sufi yang sering mereplika pengalaman Nabi SAW tersebut, mengatakan bahwa itu hanyalah perjalanan “antar dimensi” (dimentional journey).

Sampai disini kita baru paham. Secara lahiriah (sebagaimana tafsir teknologis dalam space journey), kita tidak mampu melakukan penerbangan ke luar angkasa, “illa bi sulthan”. Kecuali dengan “sulthan”. Ada wasilah, teknologi atau ‘kendaraan’; yang dapat membawa kita “secara langsung” ke bulan. Tidak bisa kita terbang dengan diri kita sendiri. Harus ada “wasilah” (teknologi atau kekuatan) yang menyambungkan. Itu secara saintifik.

Begitu juga dengan dimentional journey dari “bumi” (aspek lahir) ke “langit” (aspek batin). Cobalah anda pergi menghadap Tuhan, pada sebuah dimensi yang sangat spiritual itu. Fanfuzuu, laa tanfuzuuna. Tidak bisa. Tidak akan pernah tembus. Tidak akan pernah konek. Tidak akan sampai pada Wajah Ar-Rahman. “Illa bi sulthan”. Kecuali dengan “washilah” (sebuah ‘kendaraan’, buraq atau teknologi spiritual) yang dapat menembuskan anda secara langsung ke alam Rabbani. Baik jamaah Jin maupun manusia, akan mampu menembusi secara langsung ke sisi-Nya, melalui sebuah wasilah. Sulthan. “Teknologi” inilah yang harus anda temukan. Kekuatan inilah yang harus anda olah melalui serangkaian riyadhah.

Para nabi, rasul dan wali-walinya adalah orang-orang-orang paling sukses di dunia. Bukan karena mereka menguasai sains dan teknologi luar angkasa. Melainkan karena bisa menjangkau “langit”, mampu menembusi dimensi paling rahasia dari segalanya. Kami tidak menyuruh anda untuk jadi dukun dan melupakan teknologi saintifik. Jangan! Tapi paling tidak, jadilah seperti nabi, ‘bodohdanmiskin (tidak bisa baca tulis dan tidak punya jet pribadi), tapi tembus ke langit. Begitu mudah dan murahnya biaya untuk menemui Tuhan!

Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin