KUNCI SUKSES: KOMUNIKASI!

Kunci Sukses: Komunikasi!
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Untuk lulus kerja, saat ujian wawancara misalnya, kemampuan berkomunikasi selalu menjadi top list dari komponen leadership skills yang dicari dari seorang pelamar. Apapun posisi anda dalam perusahaan, baik lower, middle ataupun top manajer; anda harus cakap berkomunikasi. Apakah berkomunikasi dengan pimpinan, rekan, ataupun bawahan.

Perusahan-perusahaan sukses, itu dibangun melalui data dan informasi. Sehingga; kemampuan melaporkan, membicarakan, membahas, atau mengkomunikasikan berbagai situasi dan kondisi kepada internal stakeholders sangat esensial dalam rangka pengambilan keputusan dan pertumbuhan bisnis. Begitu juga saat performa bisnis ingin diberitahukan kepada eksternal perusahaan, apakah untuk tujuan-tujuan persuasif marketing maupun public relation lainnya (lobby and negotiation); kemampuan komunikasi juga sangat vital.

Jika anda ahli berkomunikasi, itu menunjukkan kepribadian anda yang supel, luwes, pandai bergaul, atau mudah menyesuaikan diri. Ini interpersonal skill paling utama, yang juga disebut “human skill” (selain conceptual dan technical skills). Apapun kecerdasan teoritis-akademis dan skil praktis-pragmatis yang anda kuasai; anda harus mampu berbicara (verbal ataupun non verbal). Anda mesti berbagi. Anda harus berkomunikasi. Karena baik kehidupan sosial maupun bisnis kita, dibangun melalui interaksi-interaksi, kolaborasi, atau komunikasi; untuk mencapai profit dan kebahagiaan.

Jadi, kemampuan komunikasi menjadi pra-syarat kesuksesan keorganisasian kita. Selanjutnya hanyalah bagaimana cara membangun komunikasi yang efisien dan efektif, antara komunikator (penyampai pesan) dengan komunikan (penerima pesan). Yang penting pesannya sampai, dan mendapat balasan (feedback). Untuk itu harus dikuasai “bahasa” yang tepat, “channel” penyampaian yang benar, sampai kepada “seni” (adab) penyampaian pesan.

Itu untuk urusan bisnis duniawi. Untuk urusan akhirat juga begitu. Komunikasi kuncinya!

Apa yang disebut “agama”, sesungguhnya hanyalah ilmu untuk mengenal “Komunikan” (mitra bicara kita, Allah). Serta menguasai metode dan media (teknis teknologis) untuk berkomunikasi dengan-Nya. Sampai kemudian kita tau benar bahwa kita sedang berbicara dengan Allah, serta mengetahui benar bahwa Dia sedang berbicara dengan kita. Dia mendengar kita, kita mendengar Dia. Kita tau apa pesan balasan dari-Nya. Makin jelas terdengar, makin efektif komunikasi kita dengan-Nya.

Misalnya, pagi-pagi kita pergi ke warung kopi. Lalu, sebelum ngopi kita ngobrol sejenak dengan Allah: “Ya Allah, saya mau ngopi nih. boleh ya?”. Kalau anda mendengar Allah menjawab: “Ya, silakan”; atau mungkin malah mendengar larangan: “Jangan!”; itu pertanda anda telah mampu berkomunikasi dengan Allah. Kalau sudah pada level ini, berarti anda sudah menjadi “hamba Allah”. Hamba Allah artinya orang yang sudah mampu mendengar Kalam Allah, mampu mengakses apa perintah atau petunjuk dari Allah (hidayah); lalu patuh terhadap apapun pesan-Nya.

Kalau belum mampu mencapai level “komunikatif” seperti itu, kita belum menjadi hamba-Nya. Sehingga, semua yang dilakukan masih spekulatif. Walaupun selalu minta izin Allah dengan basa-basi “insyaAllah” untuk melakukan sesuatu, tapi kita tidak pernah benar-benar minta izin dan mendengar apa jawaban dari-Nya: boleh atau tidak. Semua murni keinginan (nafsu) kita, yang kita sangkut pautkan dengan Allah.

Kalau urusan ngopi yang kecil saja etisnya meminta izin Allah terlebih dahulu (sebagai bentuk keakraban/taqarrub), urusan penting lainnya seperti i.e., shalat, puasa, haji, muamalah, dan jihad; harusnya juga demikian. Jangan merasa bahwa Allah senang dengan keindahan ibadah-ibadah kita, padahal kita tidak pernah berkomunikasi untuk mengetahui apakah Dia ridha atau tidak. Terkait ini Allah SWT berfirman:

.. ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“.. Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 216)

Kuncinya adalah, kita harus belajar berkomunikasi dengan Allah, untuk mengetahui apa yang benar-benar baik dan buruk menurut Dia, secara aktual (hak). Bukan baik atau buruk menurut bacaan, ataupun ilmu tafsir kita (rasional-spekulatif). Apa yang baik dan buruk, secara umum sudah ada dalam tekstual Kitab. Tapi secara khusus dan aktual (confirmed), anda harus punya kemampuan berkomunikasi dengan Allah. Karena, Dialah tempat kita bersandar. Kita percaya Kitab Suci. Tapi mempercayai Allah yang Maha Hidup, itu di atas segalanya. Dia itu sumber dari segala sumber informasi. Maka harus dipelajari juga ilmu untuk konek dengan-Nya.

Dan ilmu komunikasi secara langsung dengan Allah, itu ada sama para pewaris nabi (yang otoritatif, heavenly licensed, khawasul khawas). Jangan remehkan para imam atau wali di tengah umat ini, meskipun penampilannya biasa dan secara biologis wujudnya sama dengan kita. Mereka bukan nabi, tapi lebih tinggi derajatnya dari nabi-nabi Bani Israil (Hadist). Mereka inilah yang di akhir zaman sekalipun, masih mampu mengajarkan ilmu komunikasi dengan Allah (laduni), yang merupakan inti dari segala ilmu samawi. Sebab, semua nabi (dan syarat menjadi nabi, demikian juga wali) memiliki kemampuan transcendental communication ini. Maka, kita semua yang ikut nabi dan para waris utamanya (yang tali spiritualnya tersambung ke langit), harusnya juga begitu.

Maka jangan lagi kita berpura-pura shalat (berkomunikasi dengan Allah), padahal kita tidak pernah mendengar Dia menjawab do’a (pesan-pesan) kita. Untuk anak-anak bolehlah, karena lagi belajar bicara dengan ‘Hp palsu’ yang tidak punya sinyal (pesan) masuk ataupun keluar. Tapi kita yang sudah dewasa, segera ganti ‘Hp’ (infrastruktur spiritual) yang asli. Yang paling menantang memang proses menemukan channel yang benar (wasilah yang benar-benar memancarkan sinyal/frekuensi ilahiah).

Allah memang Maha Mendengar, sejauh channel (saluran) komunikasi kita benar. Dia memang (masih) Maha Berkata-Kata, sejauh channel (frekuensi) komunikasi kita mampu menangkap kata-kataNya. Maka cari channel (teknologi dan frekuensi spiritual) yang benar, agar kita tidak lagi bicara sendiri; lalu merasa Allah mendengarkan. Karena inilah yang disebut do’a dan amalan (pesan) yang tertolak. Tidak sampai kepada-Nya. Tidak menarik perhatian-Nya. Tidak dijawab.

Apa yang kita pahami bahwa Allah itu maha “jauh” ataupun maha “dekat”, sebenarnya hanya persoalan komunikasi.  Silakan anda memahami bahwa Dia berbeda dengan kita, ada dimana-mana, ada di Arasy; ada di dunia, ada di akhirat, ada bersama kita, dan sebagainya; itu hanya persoalan komunikasi. Ketika kita mampu berkomunikasi dengan-Nya, dimanapun Dia berada; Dia “dekat”. Ketika akses dan keneksinya putus, Dia “jauh”. Efektifitas teknologi komunikasilah yang membuat sesuatu menjadi jauh atau dekat. Teknologi komunikasi mampu membawa segala sesuatu masuk sampai ke kamar tidur kita. Teknologi spiritual juga demikian, mampu membawa Allah “ada disini”, “masuk” dalam diri, “menyatu” dengan hamba, hadir di Qalbu.

Jadi, kunci sukses berdagang dengan manusia dan Allah adalah keahlian berkomunikasi. Dan mohon ampun! Saya sendiri masih banyak harus membenahi skil ini.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin