SHOLAT TERUS MENERUS

Sholat Terus Menerus
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

Firman Allah SWT di atas merupakan esensi tujuan dari SHOLAT:

“Bacalah Kitab yang telah diwahyukan kepadamu dan DIRIKAN SHOLAT. Sesungguhnya SHOLAT itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (sholat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-‘Ankabut: 45)

Ayatullah Jawadi Amuli, seorang berkata: “Jika SHOLAT yang kita tegakkan dan sampai terbenam matahari kita tidak melakukan maksiat. Tidak tersesat, tidak menutup jalan orang lain, lisan, mata dan telinga kita semuanya suci. Maka kita layak bersyukur kepada Allah swt karena SHOLAT ini telah diterima.”

Pertanyaannya, SHOLAT apa yang dapat membuat kita terhindar dari setiap kemungkaran, sepanjang pagi dan petang? Jawabannya adalah, “SHOLAT TERUS MENERUS” (SHALAT DAIM):

الَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَاتِهِمْ دَاۤىِٕمُوْنَۖ

“Mereka yang melaksanakan SHOLAT TERUS MENERUS “ (QS. Al-Ma’arij: 23)

Dalam literatur dan praktik-praktik sufisme, baik dalam Tariqah Sunni maupun Irfan Syiah, SHOLAT DAIM ini disebut sebagai komunikasi dan koneksi yang tidak pernah terputus dengan Allah; baik ketika anda sedang duduk, berdiri, berbaring, istirahat, bekerja dan sebagainya. Sehingga memungkinkan bagi Allah untuk terus mengirim “sinyal-sinyal malakut” (petunjuk-petunjuk laduniah) tentang baik buruk, benar salah tentang segala sesuatu. Diatas petunjuk inilah kita hidup secara lurus, sehingga setiap langkah kita senantiasa terhindar dari keji dan mungkar.

SHOLAT DAIM merupakan shalat hakikat, shalat ahli makrifat. SHOLAT inilah yang mampu menjaga kesucian, melahirkan kemaksuman (ke-kamil-an manusia). Bagi kita para pemula dalam menempuh “sair wa suluk”, senantiasa menjaga rabithah dan menjaga hidupnya muraqabah, itulah HAKIKAT SHOLAT, HAKIKAT ZIKRULLAH, SHOLAT BERKEPANJANGAN. Besar sekali nilai SHOLAT (ibadah) ini, dan disebut dalam Al-Hujurat 45 di atas sebagai “Walazikrullahi Akbar”. Mengingat Allah (sholat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain).

Para pelaku SHOLAT ini harus sudah punya kemampuan untuk menghadirkan Allah dalam dirinya. Sehingga, gerak-geriknya senantiasa terkonfirmasi kepada Allah. Benar salah perilakunya, akan langsung dibimbing dan dikoreksi oleh Allah. Inilah yang disebut di ujung Al-Hujurat 45: “Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Allah hadir, yang dalam ayat lain diistilahkan dengan “lebih dekat dari urat leher”.

Bentuk-bentuk bacaan dan lahiriah (syari’at) shalat bisa diajarkan oleh ulama dan ustadz manapun. Tapi, SHOLAT DAIM hanya mampu diajarkan oleh Rasulullah atau ahli warisnya. Sebab, Ruhani seseorang harus terlebih dahulu dibawa ke maqam muthmainnah, ‘dimatikan’, dikembalikan (irji’i), disucikan atau disambungkan dengan Allah. Sehingga seseorang menjadi konek dan komunikatif dengan Allah: ridha dan diridhai (QS. Al-Fajr: 27-30). Prosesi pensucian jiwa sebagai prasyarat Daimnya Sholat, hanya bisa dilakukan oleh para utusan Allah, pembawa petunjuk, pemegang kunci-kunci agama; para rasul, imam atau walimursyid yang senantiasa diutus kepada manusia disepanjang masa (QS. At-Taubah: 128-129).

Karena itulah, fokus tasawuf adalah memastikan, apakah perilaku orang-orang sudah terhindar dari perilaku keji dan mungkar atau belum. Tanpa sibuk mengurusi dan mengintip apakah orang-orang sudah rukuk sujud lima kali sehari atau belum. Sebab, Islam itu akhlak. Yang lahir dari hakikat penyembahan kepada Allah.

Kita biasa mengintip-ngintip apakah seseorang sudah SHOLAT atau belum. Lalu hasil intipan itu menjadi alat judgment kita terhadap keshalehan seseorang. Namun dalam dunia sufi, hal ini sesuatu yang dilarang. Apalagi menilai lahiriah seorang Guru. Ada kisah menarik tentang ini.

Sebagaimana dikutip oleh Asyraf Aceh (2020) dari kitab Al-Manhaj as-Sawiy oleh Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith tentang karamah Al-Imam Al-Kabir Sayid Abdullah bin Abu Bakar Alaydrus (Sultan Al-Mala’), sebagaimana juga dijelaskan dalam kitab Tastbit Al-Fuad:

“Suatu ketika di dekat Sayid Abdullah Alaydrus duduk seorang laki-laki yang mengosok-gosok kakinya sampai masuk waktu shalat. Kemudian orang itu berkata kepada Sayid Abdullah Alaydrus, “Shalatlah”. Beliau menjawab “Aku sudah shalat”. Kemudian orang itu melihat para jamaah yang keluar dari masjid Abu Bakar Assakran setelah menunaikan shalat. Dia bertanya kepada mereka, “Siapa yang mengimami kalian?” Mereka menjawab, “Yang shalat bersama kami adalah Sayid Abdullah Alaydrus”.

SHOLAT itu wajib. Tujuannya agar kita berakhlak mulia. Menyatu dengan-Nya. Maka kita harus memahami kembali makna “mendirikan” SHOLAT (aqimish shalah) dalam Al-Hujurat 45 di atas. Makna aqimish disini bukanlah “mengerjakan” bentuk-bentuk lahiriah an sich. Tapi menghidupkan dimensi batiniahnya. SHOLAT yang dimaksudkan dalam ayat tersebut bukanlah SHALAT biasa. Tapi jenis SHALAT paling agung nilainya. Yaitu, SHALAT yang mampu mencegah kita dari perilaku keji dan mungkar. SHALAT DAIM. A LONG LIFE SHALAT. SHALAT yang mampu mengaktivasi Ruh, menghadirkan Allah dalam setiap aspek kehidupan. SHOLAT yang bisa dilakukan sambil bekerja. Sambil gosok-gosok kaki sekalipun. Bukan SHOLAT yang setelah dilakukan di masjid; lalu begitu keluar langsung membid’ahkan dan mengkafirkan orang.

Secara syariat, kewajiban SHOLAT terbatas di lima waktu. Secara hakikat, itu dilakukan disepanjang waktu. SHALAT lima waktu adalah SHOLAT yang sudah di diskon untuk kita yang awam. Pendek dan terbatas waktu dan rakaatnya. Untuk para nabi, wali dan orang-orang shaleh, SHALAT bersifat Daim, terus menerus, sehingga tidak sempat berbuat maksiat.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin