MENGIKAT BATU DI PERUT

Mengikat Batu di Perut
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Katanya, ada satu Sunnah dari Nabi SAW. Yaitu mengikat batu di perut. Itu dilakukan saat Nabi dalam keadaan lapar.

Pertanyaannya, apa yang dilakukan Nabi sampai begitu lapar dan harus mengikat batu? Kita sudah sering menyaksikan bagaimana orang-orang di Afrika kelaparan, sampai kurus berbungkus tulang, tapi tidak ada yang mengikat batu di perut.

Kok bisa Nabi, sebagaimana diriwayatkan, lapar di depan para sahabatnya dan sampai harus mengikat batu. Apakah semiskin itu Nabi, sampai laparnya begitu parah di tengah umatnya? Kita pun, selapar-laparnya, tidak sampai melakukan hal-hal lebay seperti itu. Memang ada diantara kita yang rutin memakai sabuk. Tapi bukan karena lapar. Untuk menjaga agar perut besar kita tidak turun.

Sebenarnya apa yang sedang dilakukan Nabi sehingga sedemikian ‘tradisional’ perbuatannya, harus mengikat batu. Batu apa yang diikat? Batu gunung? Batu bata? Batu giok? Terus, batu sebesar (seberat) apa yang diikat di perutnya: 1 Kg, 2 Kg? Kalau berat sekali, apa tidak menambah beban dan membuat perut semakin lapar? Atau mungkin hanya batu atau kerikil kecil? Lalu kalau batunya kecil, bagaimana penggunaannya? Efektivitasnya sejauh mana, sampai begitu urgent memakai batu?

Siapakah diantara kita yang masih mengamalkan Sunnah ini? Apakah ada dari kawan-kawan yang kekeh dengan “manhaj sunnah” yang mengamalkan ikat batu di perut saat lapar? Atau perut kita sudah terlalu kenyang sehingga tidak perlu lagi mengamalkan tradisi lapar ala Nabi. Kita tau, bulan yang membuat kita paling lapar adalah bulan Ramadhan. Tapi tidak ada yang sampai mengikat batu. Karena puasa setengah hari yang berulang selama 30 hari memang tidak benar-benar membuat kita lapar. Maaf, anak-anak sekalipun mampu berpuasa setengah hari dengan santai. Apalagi kita yang sudah dewasa.

Jadi jelas sekali, amalan yang membuat orang sekuat Nabi sampai lapar parah, itu amalan khusus. Jenis puasa ini tidak ada dalam standar (fikih) beragama biasa (awam). Bahkan kelihatannya, banyak sahabat yang tidak diwarisi amalan ini. Kecuali beberapa figur khusus saja. Sehingga “mengikat batu” di perut menjadi sebuah misteri warisan Nabi. Ilmu rahasia.

Hari ini, beberapa komunitas terbatas di tengah umat Islam ditemukan masih setia dengan amalan ini. Termasuk di Dayah Sufimuda Aceh. Para sufi masih rutin menahan lapar sehari semalam, tiga hari tiga malam, bahkan tujuh hari tujuh malam. Puasa-puasa ini bisa dilacak dalam khazanah spiritual kehidupan para nabi.

Pun jenis batu terbaik untuk diikat di pinggang adalah batu “Sijjil”. Batu yang telah diisi energi dari sisi Tuhan. Ini jenis batu yang digunakan oleh kaum hanif para pejuang Mekkah dari batalion Burung Ababil, untuk menghabisi tentara Abrahah. Batu inilah yang sepertinya juga terikat di pinggang dari sosok Nabi kita yang begitu setia dengan tradisi lapar beratnya.

Berapa lama Nabi SAW melakukan amalan-amalan khusus dalam menahan lapar?

Suatu hari Sayyidah Fathimah menghidangkan dua lembar roti kering untuk Rasulullah SAW. Nabi SAW pun menyantapnya, dan berkata, “Putriku! Sudah tiga hari aku belum makan apapun, setelah tiga hari roti ini dapat mengisi tenggorokan ayahmu.” Sayyidah Fatimah berkata, “Aku memberikan sedikit makanan kepada anak-anak, dan sisanya untukmu.” Sedikit untuk anak-anak, dan sisanya (porsi besarnya, walau hanya dua lembar) untuk Rasulullah, ayahnya.

Sayyidina Ali, diriwayatkan juga demikian. Ketika menjabat sebagai khalifah, suatu ketika ditemukan oleh pembantunya dalam keadaan lapar berat. Fiddha sang pelayan berkata, “Tuan, engkau adalah khalifah dan kita punya cukup roti, mengapa engkau sampai menahan lapar sedemikian rupa?”. Sayyidina Ali as menjawab, “Aku hanya ingin merasakan apa yang dirasakan Nabi SAW, Beliau pernah lapar sampai 5 hari“.

Memang, orang-orang yang menjadi ‘kiblat’ manusia, punya tradisi lapar yang unik. Juga punya tradisi memiliki batu. Baik di perut, ataupun di jari-jari (seperti di cincin); yang semakin berpower seiring perjalanan puasa-puasa mereka. Tidak hanya manusia-manusia mulia, Kakbah pun punya batu yang terikat di pinggangnya. Nabi SAW sendiri punya hobi mencium batu ini, dan kita semua masih melakukan hal serupa.

Batu akan terus menemani kita. Saat mati sekalipun, pusara kita akan diberikan batu, di kepala dan kaki. Jika itu pusaranya orang mulia; batu itu sering disentuh, dicium dan diusap ke wajah. Secara lahiriah terlihat sebagai batu biasa. Tapi ada sesuatu di balik itu semua.

Jangan main-main dengan batu “berpower”. Iblis pun bisa buta matanya ketika Ibrahim as melempar itu kemukanya. Itu jenis batu yang mampu mengusir iblis dan setan. Batu yang mampu menyerap, sekaligus menyalurkan energi dari Tuhan. Bukan jenis batu yang kita lempar saat jumrah. Itu batu pura-pura. Setannya pun kita tidak tau dimana. Tapi tak apalah. Itu simbolik saja.

Gunung Galunggung yang sedang bergemuruh, dikisahkan, suatu ketika pada tahun 1882 juga pernah diredam dengan batu zikir ini. Begitu pula dengan beberapa kasus lainnya. Tulisan ini bukan untuk menafikan kecerdasan saintifik yang juga sangat penting. Tapi berupaya menggambarkan bahwa dimensi mistis dari Alquran itu, ditangan para ahlinya, masih hidup.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin