RUANG TUHAN

Ruang Tuhan
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Suatu pagi di warung kopi, masih dalam diskusi sufisme, seorang teman berkata: “Jadi gini-gini aja kita minum kopi? Kapan mabuknya?”

Seorang lainnya menjawab: “Kalau meminum kopi di alam jabarut, ya begitu. Tak ada rasa. Tapi minumlah ia di alam Rabbani, niscaya engkau akan mabuk seketika”.

***

Pertanyaan di atas hanya sebuah kritik atau ekspresi, bahwa umumnya kita, saban hari meneguk kenikmatan dunia. Tapi kok seperti ada yang hilang. Ada ruang yang masih kosong. Dan ruang ini tidak akan pernah bisa diisi oleh segala unsur materi, nama besar, jabatan, ilmu ataupun kekuasaan.

… dan Ruang yang kosong ini adalah “Ruang Tuhan”.

Meminjam sebuah teori spiritual, Ruang Tuhan itu ada pada level kum beragama 500 ke atas. Sementara di bawah itu, masih pada ruang jabarut (alam materialisme).

Orang-orang yang keimanannya berada di level 500 ke atas; jiwanya mulai memasuki fase love, joy, peace sampai pada puncaknya yang disebut enlightened. Walau badannya ada di dunia, hidup dalam keadaan prihatin sekalipun, jiwanya ada di Ruang Tuhan. Para nabi, apa kurang derita dan laparnya. Namun yang disebut “Islam” adalah unsur-unsur cinta, bahagia, damai dan tercerahkan dalam segala situasi. Artinya, anda mulai berada dalam tahap keislaman yang “kaffah” ketika sudah mulai memasuki kredit poin 500. Apalagi jika telah melampaui angka 700. Sebuah makam dimana doa-doa telah makbul (komunikasi dengan Allah sudah dialogis, bukan lagi imajiner satu arah). Bacaan Qurannya telah berpower (punya mukjizat/karamah). Kata-kata, gerak dan perbuatannya memancarkan asma, sifat dan perbuatan Tuhan.

Sementara, level di bawahnya, walaupun anda sangat cerdas sekalipun, anda belum berada di Ruang Tuhan. Sebab level 0-499, itu masih di alam rasionalisme-material. Betapapun anda sukses, cerdas dan berkuasa; selama masih pada level “di bawah awan” ini, jiwa anda pasti sering sakit. Mudah terluka. Banyak orang cerdas, hebat dan terkenal yang gila dan bunuh diri. Paling kurang stress. Ruhnya belum terangkat ke Alam Tuhan.

Orang-orang di bawah level 500, sekalipun terlihat sangat beragama, didera oleh penyakit-penyakit batin. Apalagi kalau di bawah angka 175, itu alam dhulumat (gelap). Jiwa kita belum mendapat cahaya-Nya. Sehingga kepribadian kita akan penuh dengan unsur shame, guilt, apathy, grief, fear, desire, anger, and pride. Wahabisme misalnya, oleh David R. Hawkins, M.D, Ph.D (Force vs. Power, 2014) disebut sebagai kelompok dalam Islam yang belum terbebaskan. Karena, menurut guru spiritual Buddhism ini, mereka beragama masih dalam pola anger and hate (marah dan benci). Suka menyalahkan. Membenci. Mengkafirkan. Belum mampu berdamai dengan dirinya sendiri. Walaupun akal fikirannya setiap hari berkutat dengan teks-teks ketuhanan, spiritualnya belum sampai ke “Ruang Suci”.

Bukan hanya kaum salafi ini yang terjebak pada dimensi lahiriah, kita semua juga bermasalah. Tanpa usaha untuk masuk ke “Alam Rabbani” (Ruang Tuhan, atau ruang untuk ‘mabuk’ bersama Tuhan), kita bakal binasa dengan segala capaian dan kesuksesan. Apa yang disebut sebagai “makrifat” (mengenal Allah) adalah berada di level upper 500 ini. Maka apapun kondisi, aktifitas dan pekerjaan sehari-hari; pastikan kita berada di Ruang Tuhan. Itu rahasia untuk mampu memberi syafaat, selamat dan bahagia.

Pada satu sisi, untuk mencapai kum 499 (ini sudah secerdas Einstein dan para ahli pikir lainnya), kita perlu menguasai berbagai metode rasional dan sains material. Pada puncaknya, kita akan mampu mencapai pengetahuan “indikatif” (tanda-tanda) adanya Tuhan. Tapi untuk naik dari titik itu hingga mencapai makam “penyaksian” para wali dan nabi-nabi (kum 700-1000), anda butuh metodologi yang sama sekali berbeda. Bahkan anda bisa melakukan lompatan ke level itu melalui berbagai metode iluminasi, irfani atau spiritual science. Makanya para nabi juga terdiri dari orang-orang awam (ummi), tapi spiritualnya sangat tinggi. Jangan tanya apakah Muhammad pernah menciptakan pesawat terbang dan teknologi lainnya. Tapi ia sudah pernah terbang ke alam yang semua jenis pesawat tak mampu menjangkaunya.

Kami bersyukur dapat mengikuti kuliah Sufimuda Spiritual Science (S3) dibawah bimbingan “Profesor” Abuya Sayyidi Syeikh Ahmad Sufimuda, guna terus memperbaiki luka-luka batin kami sebagai makhluk penuh dosa. Beliau seorang ‘Arif Mursyid yang mampu berbicara dengan “bahasa kaum pada zamannya”. Mampu memadukan khazanah zikir sufi dengan epistemologi sains terkini, guna membimbing para murid untuk mencapai derajat kemanusiaan yang lebih baik.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

ūü핬†powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s