PAGANISME TAUHID

Paganisme Tauhid
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ajaran tauhid dalam agama-agama samawi, sejak awal sampai sekarang tidak pernah rusak. Secara teoritis prinsipil sudah benar, Tuhan itu Esa. Semua agama sepakat itu. Sejak Adam sampai kiamat.

Hanya saja, tauhid menjadi rusak, ketika tinggal teori. Bahkan teori tauhid semakin lama semakin keren. Ditulis berjilid-jilid. Dihafal secara luas. Tapi tidak ada yang benar-benar sampai kepada Tuhan.

Maka para nabi dan wali-walinya (yang merupakan perwujudan dari asma Allah: “Al-Wali”), hadir untuk memastikan tauhid itu benar (aktual). Kalau masih ada orang yang mampu berkomunikasi dengan Tuhan, maka Islam masih relevan dengan setiap tempat dan zaman. Artinya, ketauhidan itu aktual. Dalam artian, senantiasa ada orang disetiap zaman wal makan yang terhubung dengan Tuhan, dan mampu membawa kita secara aktual terhubung dengan Tuhan.

Tauhid itu secara aktual adalah kehadiran Tuhan dalam diri. Tuhan menyatu, menjadi satu dengan diri kita. Menyatu dengan segalanya. Sehingga semua amaliah kita digerakkan oleh Tuhan (Ilham/wahyu ketaqwaan). Jadi, Qur’an/Kitab/Kalam yang hakiki, itu termaktub dalam diri, dalam Arasy Nafsani, dalam Loh Mahfudz setiap jiwa. Bukan di atas kertas buatan Jerman yang ditulis dengan tinta Cina.

Makanya banyak sekali nabi, bahkan secara umum, hadir tanpa membawa teks tertulis. Kitab-kitab itupun ditulis kemudian. Alquran sekalipun baru ditulis oleh generasi kemudian. Hadis juga begitu. Inti beragama yang sesungguhnya bukanlah mengoleksi catatan (buku-buku suci) an sich. Tapi Tuhan sendiri harus mampu diaktualkan, hadir dalam jiwa.

Maka, orang-orang yang kita sebut sebagai nabi (paling spiritualis di muka bumi), adalah orang-orang yang Tuhan hadir dalam diri mereka, tanpa membaca kitab apapun. Justru kitab itu lahir dari lisan mereka (ucapan-ucapan mereka menjadi suci), lalu dicatat orang, setelah mereka aktif berkomunikasi dengan Tuhan.

Jadi, agama apapun yang mengaku bertauhid, dapat berubah menjadi pagan ketika tauhidnya tereduksi (putus hubungan dengan Tuhan dan yang tersisa hanya tulisan/teori). Ketika Hamzah Fansuri bercerita dengan kunjungannya ke Kakbah yang ‘kosong’, ia sebenarnya sedang menggambarkan bentuk beragama kita yang tak sampai kepada Tuhan. Sampai kemudian kita berusaha untuk menemukannya dalam diri kita sendiri:

Hamzah Fansuri di dalam Mekkah
Mencari Tuhan di Baitul Ka’bah
Dari Barus ke Kudus terlalu payah
Akhirnya dijumpa di dalam rumah

Paganisme atau syirik (keterputusan dengan Tuhan) itu halus sekali. Masjid dibangun megah, tapi jamaahnya tidak komunikatif dengan Allah. Kakbah dibalut kiswah berlapis emas, tapi pembuatnya tidak terhubung dengan Allah. Alquran dicetak indah, tapi kita tidak pernah berbicara dengan-Nya. Itu semua bentuk paganisme yang hadir sepanjang zaman. Kita terjatuh dalam perilaku mensucikan wujud-wujud lain (memberhalakan bangunan fisik), tapi gagal mengenal Tuhan.

Tidak salah membangun dan mensakralkan benda-benda, sejauh Tuhan hadir bersama kita. Kalau tidak, semua akan berubah menjadi patung, sebuah bentuk dunia yang kehilangan Ruh. Yang tersisa hanya dimensi materialnya saja (pagan). Ibrahim menghancurkan semua patung yang ‘mati’, yang tidak memiliki ruh. Tapi ia sendiri membangun patung (Kakbah), yang kemudian ia pun rujuk sujud dihadapannya. Namun Tuhan hadir secara nyata dalam pandangan bashirah, dihadapan wajahnya. Hidup.

Cerita Ibrahim diulangi dalam drama Futuh Mekkah, yang  mencerminkan puncak usaha Muhammad untuk memenangkan keislaman kita. Yaitu dengan cara merebut titik paling suci dari qalbu dan meruntuhkan ‘patung-patung’ yang mengelilinginya. Qalbu yang mati adalah patung, Kakbah yang memberhala. Kemurnian dalam beragama terjadi ketika kita telah “kembali” ke titik suci, dan Allah bersedia hadir serta terbentuk hubungan aktif dengan-Nya.

Ada tariqah atau metodologi jihad untuk mencapai kemenangan ini. Tanpa kekerasan tentunya. Makanya para sufi mampu melakukan futuh, membawa umat kepada Tuhan, dengan cara-cara damai.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin