SAYA “BANGGA” JADI KADER HMI

Saya “Bangga” jadi Kader HMI
Oleh Said Muniruddin | Presidium MW KAHMI Aceh

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Kami ingin mengkritisi, sekaligus memberi makna lebih lanjut terhadap kata “bangga” yang menjadi twibbon Milad HMI ke-74 pada 05 Februari 2021 ini.

“Bangga” (bahasa inggrisnya disebut pride) sebenarnya bukanlah sesuatu yang bagus. Itu adalah salah satu bentuk kesadaran rendah manusia. Walaupun itu kurang bagus, tapi sudah cukup bagus sebagai modal untuk masuk ke fase kesadaran berikutnya.

Saya gunakan Skala Hawkins (“Power Vs. Force”, 2014) untuk menjelaskan ini. Hawkins melakukan riset selama 20 tahun untuk merumuskan sebuah teori terkait “perjalanan kesadaran” atau level consciousness manusia, yang ia susun dalam angka nol sampai seribu (0-1000).

Kalau anda sudah punya rasa “bangga”, itu unsur percaya dirinya sudah ada. Ghirahnya sudah ada. Mulai merasa terhormat. Tapi bisa bercampur unsur sombong. Angkuh. Arogan. Seperti mahasiswa yang baru masuk kampus. Saat ospek, yang ditanam adalah rasa bangga terhadap almamaternya. Tidak jarang mereka ribut dengan mahasiswa lainnya, gara-gara mempertahankan rasa bangga terhadap kelompoknya. Dari semua bentuk kesadaran negatif kejiwaan yang kita miliki, “bangga” ini sudah termasuk fase akhir dari jiwa rendah manusia (sebelum berkembang ke bentuk-bentuk kejiwaan yang lebih tinggi).

Sebelumnya ingin kami jelaskan. Bahwa sebelum sampai kepada tahap “bangga”, ada sejumlah kesadaran negatif lainnya yang biasanya hadir dalam diri manusia. Jiwa paling rendah adalah “shame” (rasa malu yang mendalam, merasa dirinya tidak berharga, bahkan membenci dirinya sendiri. Banyak orang bunuh diri karena terlalu lama berada di level ini). Kemudian shame berkembang menjadi “guilt” (sekedar merasa bersalah dan suka menyalahkan orang lain dan keadaan, stressnya masih sangat berat, walaupun sudah tidak terpikir lagi untuk bunuh diri). Seterusnya guilt tumbuh menjadi “apathy” (sudah mulai ingin hidup walaupun masih terbalut rasa putus asa, merasa tidak berdaya, dan suka bergantung pada orang). Lalu dari apathy berkembang menjadi “grief” (suka bersedih, dan sesuatu yang terjadi dianggap sebagai tragedi bagi dirinya dan selalu menyesali masa lalu).

Kemudian grief menjelma jadi “fear” (takut dan suka menakuti, dunia dinilai sebagai sesuatu yang berbahaya, tidak aman, menimbulkan rasa was-was dan cemas, ia marah terhadap segala sesuatu yang menurutnya tidak ideal). Kalau berceramah, sedikit-sedikit langsung dihubungkan dengan bid’ah, dosa dan neraka. Dari fear ini berkembang sikap “desire” (tumbuh keinginan, kecanduan, obsesif, nafsu, dan dorongan untuk melakukan apapun guna memperoleh apa-apa yang diharapkan). Sampai kemudian juga tumbuh sifat “anger” (suka marah, frustasi, dan sering terjebak dalam kebencian terhadap orang atau sesuatu). Banyak orang yang beragama pada level marah-marah, suka membenci dan mengkafir-kafirkan mazhab lainnya. Itu kualitas beragamanya masih sangat rendah.

Jika seseorang mampu melewati 7 level kesadaran terbawah yang bernilai frustatif tersebut, barulah ia masuk pada bentuk kesadaran yang lebih tinggi, yaitu: “kebanggaan diri” (pride). Seperti terjelaskan diawal, perasaan “bangga” inipun belum ideal. Meskipun sudah membuat seseorang merasa baikan. Sebab, pada tahap ini seseorang tidak lagi merasa malu, merasa bersalah, apatis, sedih, takut ataupun frustasi. Daripada selalu marah-marah dengan orang lain yang berbeda dengannya, kini ia lebih suka bangga dengan korps sendiri. Merasa dirinya paling berharga. Paling hebat.

Akan tetapi, “rasa bangga” merupakan ego dasar kemanusiaan yang belum sepenuhnya tersucikan (yang dalam kadar tertentu bersifat defensif dan suka meremehkan orang lain). Kebanggaan sering tumbuh dari faktor ketergantungan dengan elemen-elemen eksternal (berhala-berhala) semacam uang, jabatan, kelompok, organisasi, dan bentuk-bentuk gengsi kepemilikan terhadap sesuatu yang sifatnya material.

Untuk itu, penting mengup-grade “pride” ke level “courage”. Yaitu, dari sekedar rasa bangga terhadap sesuatu yang ia punyai kepada bentuk-bentuk keberanian untuk melakukan sesuatu dengan itu semua. Dengan cara ini, rasa bangga (pride) mulai memiliki makna lebih positif bagi kemanusiaan. Khususnya dalam konteks ber-HMI (atau organisasi apapun yang anda geluti), sekedar pamer atau bangga terhadap identitas dan simbol-simbol partai dan organisasi, itu bukan sesuatu yang baik. Itu kekanak-kanakan sekali. Provokatif. Pamer. Riya. Tapi lakukan sesuatu, melebihi dari sekedar sifat suka membusungkan dada, dan jika perlu tanpa diketahui.

Courage inilah yang dalam perspektif sains spiritual-nya Hawkins disebut sebagai “titik balik awal” kehidupan. Kehidupan seseorang akan berubah cepat ketika punya karakter courage ini. Apalagi HMI yang kini berusia 74 tahun, adalah refleksi dari angka 47 (tahun kelahirannya). Courage sepertinya menjadi sesuatu yang paling kita butuhkan sebagai “titik balik” untuk memajukan dan mengokohkan kembali capaian-capaian keislaman dan kebangsaan kita.

Pada level courage, mungkin kita masih punya rasa marah, apatis, bahkan sombong dengan sejarah hebat masa lalu (sukses melawan PKI, banyaknya alumni, dsb). Tapi itu tidak membuat kita larut. Hal itu justru memberi kekuatan untuk berbuat lebih. Courage memberi kita daya untuk bergerak, memberdayakan dan mengembangkan diri. Pada tingkatan courage, seorang kader atau alumni sudah berani mengambil tanggungjawab untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada. Bukan terus-terusan berharap, menunggu, mengekor, dan bergantung pada orang lain.

Berawal dari courage inilah lahir sikap “independen” (netral, rileks, fleksibel, merasa aman, dan tumbuh rasa percaya diri lebih tinggi). Dengan courage, emosi-emosi negatif mulai lepas dan terisi dengan perasaan-perasaan positif.

Melalui courage, selanjutnya akan tumbuh “willingness” (kemauan dan kesadaran untuk berbuat lebih baik dengan komitmen-komitmen yang lebih tinggi, dan dengan cara-cara terorganisir). Di atas itu tumbuh pula sikap “acceptance” (penerimaan terhadap diri sendiri bahwa kita punya kekuatan besar untuk hidup sukses dan bahagia, hidup sudah mulai menemukan tujuan). Setelah itu barulah berkembang kesadaran “intelek” (reason). Tumbuh akal yang semakin sehat, mampu berfikir lebih rasional dan jernih (menjadi insan akademis).

Pada level insan akademis (makhluk reasoning), kita sudah benar-benar menjadi “hewan berakal” (manusia). Emosi dan daya aqliyahnya sudah stabil. Bukan lagi sekedar makhluk biologis yang melulu dikontrol oleh emosi dan nafsu. Hawkins menjelaskan, sampai pada tahap ini nilai kesadaran kita sudah hampir mencapai 500.

Sebelumnya, pada level consciousness 0-175 (shame, guilt, apathy, grief, fear, desire, anger, dan pride), kesadaran kita dibimbing oleh sebuah kekuatan negatif yang disebut “force” (daya syaithaniyah yang membuat jiwa kita semakin kerdil). Sementara level kesadaran 200-499, itu disebut kehidupan yang mulai ber-“power”. Di level ini anda sudah punya beragam kekuatan yang dapat membuat anda berkembang (seperti courage, neutrality, willingness, acceptance, dan reason).

Sampai pada level “reason” (atau dalam bahasa HMI disebut “insan akademis”) itu nilai maksimalnya 499. Itu nilai tertinggi manusia sebagai makhluk berakal. Secerdas-cerdasnya otak manusia, nilai kesadarannya hanya sampai poin 499. Sementara untuk tembus ke angka 500 sampai dengan 1000, anda harus menghidupkan perangkat kesadaran lainnya, yaitu Ruh.

Sebab, kum kredit kesadaran 500-1000 itu wilayah kenabian. Wilayah orang-orang suci, para wali dan resi, atau guru-guru spiritual murni. Jika maqam 0-175 itu wilayah vibrasi alam nafsu, dan 200-499 adalah vibrasi alam akal dan emosional; maka 500 ke atas itu area dimana anda akan merasakan vibrasi alam malaikat dan ketuhanan.

Angka 500-1000 berisi hakikat-hakikat keislaman (seperti “love”, “joy”, “peace” dan “enlightenment”). Semua bahasa Hawkins (yang sebenarnya adalah penganut Buddhism ini), merepresentasikan makna dari sikap pasrah, tunduk patuh, dan berserah diri kepada Allah dalam tradisi spritual Islam.

Pada level perjalanan kesadaran 500 ke atas inilah jiwa manusia mengalami transendensi dan terbukanya tabir-tabir pengetahuan suprarasional (revelation) pada fase ini seseorang akan mengalami iluminasi kejiwaan (pengejawantahan sifat-sifat ilahi dalam diri), sampai kepada tahap “pure consciousness” (fana dan baqa dalam kehendak ilahi).

Lebih khususnya, level perjalanan jiwa 700-1000 sudah masuk ke maqam suci dan tersucikan. Ridha dan diridhai. Wajahnya sudah karamah. Akhlaknya sudah karimah. Energinya sudah murni. Bagi kita yang awam, mampu memandang wajah orang-orang yang sudah berada pada level ini, itu sama dengan memandang Wajah Tuhan. Sebab, orang-orang seperti ini sudah menjadi “washilah”, menjadi pemancar frekuensi Tuhan. Mereka membawa gelombang ketuhanan. Berada bersama mereka bisa membuat kita diampuni Tuhan, membahagiakan dan mencerahkan. Karena itulah orang-orang langka dan diberkati ini disebut sebagai “rahmatan lil’alamin” (para petugas pembagi cahaya Tuhan).

Jadi, sekali lagi. HMI jangan lalai. Kalau merujuk pada slogan twibbon milad himpunan anda yang ke-74 ini, kata “bangga” pada SAYA BANGGA JADI KADER HMI; itu grade kesadaran kemanusiaannya masih rendah. Sekedar “bangga” saja (suka membangga-banggakan diri), itu auranya negatif. Anda harus naik kelas ke level “courage”. Harus berani mengambil peran dan tanggungjawab, sampai benar-benar menjadi para pencipta dan pengabdi yang akademis (rasional).

Selanjutnya ada proses naik kelas yang kedua (yang terakhir) untuk masuk ke level upper 500. Disini anda harus bersedia menempuh jalan yang lebih halus dan lebih beradab, guna menjadi manusia paripurna, menjadi insan kamil atau man of God. Menjadi (pewaris) para nabi!

Naik kelas pertama disebut “perkaderan aqliyah” (academic and emotional consciousness). Naik kelas ke dua dinamakan “perkaderan ruhiyah” (spiritual and divine consciousness). Ini yang kami sebut dalam tulisan sebelumnya sebagai “Dua Maqam Perkaderan”. 

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin

4 thoughts on “SAYA “BANGGA” JADI KADER HMI

  1. Berarti kosakata bahasa Indonesia sangat kurang dibanding bahasa lainnya, untuk hanya sekedar ungkapan bathin pelaku HmI saja yg ada dan umum diungkap hanya ‘bangga’. Padahal sebenarnya yang dimaksud kebanyakan orang pasti Cinta, tunduk, patuh. Cuma aneh kalo ungkapan tsb digantikann “Saya Tunduk dan Patuh jadi kader HmI”..heheee…

    Piece bang….🤗
    Salam …

    Like

  2. Pingback: Apa Salahnya dengan Rasa Bangga ? SANGAT SALAH !! – NESTAPA SENJA

  3. Pingback: SAID MUNIRUDDIN DAN HMI – Said Muniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s