BINTANG ‘ARASY DI MADINA: PERJALANAN PENUH KEJUTAN

Bintang ‘Arasy di Madina: Perjalanan Penuh Kejutan
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Kejutan pertama, roda pesawat hampir menyentuh landasan Bandara Dr. Lumbantobing, Pinangsori, Sibolga. Tapi, Wings Air yang membawa kami dari Kualanamu Medan tiba-tiba kembali mengudara. Pesawatnya gagal mendarat. Suasana di dalam kabin hening, tegang. Semua bertanya-tanya, ada apa?

Sekitar 20 menit, pesawat berputar-putar di langit Sibolga, menunggu arahan dari menara kontrol untuk kembali landing. Rupanya, tadi ada angin kencang di landasan pacu, yang kata pilot dapat mengganggu pendaratan. Pesawat kecil berbaling-baling memang harus sangat akrab dengan cuaca.

Di bandara sudah menunggu Hanif dan Feri Laso, dua kader dari Madina (sebutan untuk kabupaten Mandailing Natal). Disupiri Sakti, driver Bupati, mobil Innova milik Pemda yang kami tumpangi melaju kencang di jalan nasional lintas barat Sumatera yang sempit dan mulai banyak berlubang itu.

Diperjalanan, kami singgah di Parsalakan. Disana ada sebuah masjid indah yang sedang dibangun disebuah bukit dibelokan jalan. Kebetulan interior eksterior Masjid Al-Hidayah Tapanuli Selatan ini dikerjakan oleh tim GUNTOMARA “Islamic Art and Architecture”, yang berpusat di Banda Aceh, dimana kami sebagai advisor-nya. Selain masjid ini, GUNTOMARA juga menjadi disainer untuk estetika salah satu masjid terindah di Sumatera Utara sekarang; Masjid Agung Syahrun Nur di Komplek Perkantoran Pemkab di Sipirok, Tapanuli Selatan.

Hampir 4 jam perjalanan, akhirnya kami tiba di Panyabungan, ibukota tujuan.

Madina adalah kabupaten paling ujung bawah dari Sumatera Utara yang memiliki luas 6,6 ribu km2. Penduduknya sekitar 450 ribu jiwa. Berbatasan langsung dengan Sumatera Barat, 95 persen warganya beragama Islam. Bahkan Pesantren Musthafawiyah di desa Purba Baru, dengan 13 ribuan santrinya, termasuk salah satu islamic boarding school terbesar di Indonesia. Jenderal Abdul Haris Nasution, Sutan Takdir Alisyahbana dan Darmin Nasution adalah beberapa tokoh nasional dari sini. Selain Nasution, marga terbanyak lainnya termasuk Lubis, Pulungan, Harahap, Siregar, Rangkuti, dan Daulay.

Malam itu, Jumat 26 Februari 2021. Pukul 21 Wib kami diminta memberi materi, terkait sufisme (tujuan) HMI. Seekor kelelawar terlihat mondar mandir masuk ke aula Bagas Godang, sebuah rumah adat yang baru selesai dibangun oleh Pemda Madina di desa Saba Purba. Mungkin ia sedang memantau proses istighfar yang mengawali forum training kami malam itu.

Kejutan kedua muncul. Proses diawal agak mengulah. Belum pernah sebelumnya laptop, visual dan sound video mukaddimah materi kami terganggu. Tapi acara yang dihadiri 55 peserta dari berbagai daerah di Sumatera, Jawa dan Sulawesi tersebut tetap berlangsung dengan baik. Peserta sangat antusias mengikuti paparan dan diskusi yang berlangsung hampir 3 jam itu.

Ini Intermediate Training ketiga yang dilakukan oleh HMI Cabang Mandailing Natal. Terakhir dibuat 7 tahun lalu, tahun 2014. Cabang ini termasuk kecil. Hanya memiliki 3 komisariat. Di Mandailing sampai saat ini hanya ada satu perguruan tinggi, STAIN.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Syukri Aman Harahap (Ketua Umum HMI Cabang Madina 2020-2021) beserta seluruh timnya: M. Riswan Nasution (Sekum), Fahrin Fardi Lubis, Budi Santoso dan Haisar Aslam Sipahutar yang telah memfasilitasi kami untuk hadir ke LK-II bersejarah ini. Apresiasi juga kami berikan kepada tim master; Wawan Akbar, Basyaruddin, Resti dan lainnya.

Rasanya ingin lebih lama di Madina. Selain Taman Batu Raja, Bukit Penatapan dan beberapa lainnya yang sempat kami kunjungi selama di Panyabungan; masih banyak sudut wilayah ini yang patut ditelusuri. Namun apa daya, istri tercinta di rumah sudah menunggu hari-hari untuk kelahiran anak ke-4. Kami harus segera kembali ke Banda Aceh.

Tapi, kejutan lain datang. Tiket pesawat dari bandara terdekat, baik Aek Godang (Padangsidimpuan) maupun Lumbantobing (Sibolga) sudah tidak ada. Itu dua bandara lokal yang terdekat dari Panyabungan, berjarak sekitar 3-4 jam perjalanan. Begitu juga bandara Internasional Minangkabau Padang yang butuh waktu tempuh 7 jam, juga sudah tidak tersedia connecting flight ke Banda Aceh; baik untuk Sabtu atau Ahad.

Solusinya, harus ke Kualanamu Medan. Dan itu butuh waktu 9-10 jam dengan travel (L300) pada Sabtu malam. Tapi it’s ok! Mungkin ini menjadi pengalaman pertama, mungkin juga terakhir, untuk menjejali lintas timur Sumut via darat. Perjalanan panjang. Mungkin juga menjadi waktu yang baik untuk berdzikir sepanjang malam.

Mobil penuh penumpang. Kami duduk di depan, disamping supir, dan menyisakan satu seat lagi yang kosong. Mobil dipacu kencang. Karena targetnya bisa sampai pagi di Kualanamu untuk dapat pesawat pagi ke Banda Aceh. Satu jam sudah berlalu. Lalu muncul kejutan baru, dan inilah yang saya khawatirkan.

Penumpang baru naik. Cewek. Cantik pula. Ditempatkan disamping kami. Habis kita! Sudah sempit tempat duduknya, jalannya berkelak kelok pula. Dzikir yang awalnya “Allah… Allah”, kini sudah berubah menjadi: “Astaghfirullah, Astaghfirullah”.

Sesampai di Kualanamu, kejutan lain muncul. Tidak berapa lama setelah kami tunjukkan bukti booking dari panitia, petugas tiket Citilink berkata: “Pak, tiket ini untuk tanggal 28 Maret 2021!”. Astaghfirullah. Saya dijadwalkan pulang oleh adek-adek HMI sebulan lagi.

Setelah kami hubungi Customer Service, tiket diatur ulang. Petugas tersebut berkata: “Bapak beruntung. Masih tersisa satu seat lagi untuk pagi ini ke Banda Aceh”. Itu kejutan terakhir. Alhamdulillah. Semua sudah diatur Allah. Relax!

Terima kasih untuk semuanya. Tulisan ini sengaja kami buat untuk merawat memori tentang kesan tempat-tempat dan kebaikan orang-orang yang kami temui dalam perjalanan perkaderan yang luar biasa ini. Dan aktivitas ini juga menjadi bagian dari pengabdian kami sebagai akademisi.

BACA ARTIKEL LAINNYA: Said Muniruddin (Students Leadership & Green-Black Community)

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin

3 thoughts on “BINTANG ‘ARASY DI MADINA: PERJALANAN PENUH KEJUTAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s