PEMIMPIN YANG TIDAK PUNYA ASAL USUL

Pemimpin yang Tidak Punya Asal Usul
Oleh Said Muniruddin | Rector| The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ada beberapa pemimpin yang memang tidak memiliki jejak sejarah. Ia sendiri tidak tau asal usulnya. Tidak punya rekam masa lalu. Memorinya kosong dari sejarah dirinya sendiri. Sehingga, baginya tidak ada hubungan emosional apapun dengan situs-situs disekelilingnya.

Baginya tidak ada ‘kesakralan’ pada relik-relik sejarah. Pembangunan sesuatu yang baru, yang lebih canggih, lebih modern; itu dinilai lebih berharga, daripada mempertahankan dan merawat kembali warisan yang ada. Pada orang-orang seperti ini, berlaku hukum: “meunye ka sepakat, lampoh jeurat tapeugala”. Makam orang tuanya sekalipun siap digadaikan, untuk alasan-alasan yang dianggap lebih urgent, lebih strategis.

Bani Su’ud di Arab, mengidap sindrom ini. Begitu naik tahta pada 1932, semua situs sejarah yang bernilai “suci”, dihabisi. Diratakan dengan tanah. Syirik. Bid’ah. Karena itu semua bukan sejarah bani mereka. Tapi sejarah bani lain. Mereka sendiri tidak diketahui kemana pangkal sejarahnya.

Mereka hanya ingin membangun sejarahnya sendiri, Royal Clock Tower (Abraj Al-Bait) misalnya. Yang kemegahannya begitu menjulang di samping Masjidil Haram. Menara yang dibangun pada 2004 ini telah menjadi “berhala” baru untuk menandingi popularitas Kakbah yang mungil dan sederhana disampingnya.

Iskandar Dzulkarnain (Alexander the Great dari Macedonia, 356-323 SM), suatu ketika melakukan ekspansi budaya, jauh sampai ke jantung Asia. Pasukannya berhasil masuk ke wilayah Akhemania, Pasargadae. Alih-alih membumi hanguskan semua identitas sejarah musuhnya disana, Sikandar justru merestorasi kembali makam kuno Cirius, leluhur agung bangsa itu. Dia lebih mampu menghargai sejarah daerah taklukannya, daripada bangsa itu sendiri.

Itu Iskandar Zulkarnain. Kita tidak tau bagaimana dengan Pak Amin, yang datang dari Aceh Barat. Apakah akan membumi hanguskan situs-situs di pusat Kerajaan Aceh Darussalam dengan proyek IPAL itu? Kalau beliau seorang yang punya sejarah, tentu beliau akan melindunginya. Tapi kalau tidak, mungkin sesuatu yang lain akan terjadi.

Kita bangsa Aceh termasuk orang-orang yang sudah lupa asal usul (atau mungkin tidak punya asal usul).  Nama kakek sendiri pun mungkin kita sudah lupa. Apalagi  dimana kuburannya. Minat kita untuk melestarikan cagar budaya rendah sekali. Makam orang tua sendiripun seringkali rusak, bersemak dan tidak begitu kita pedulikan; apalagi harus merawat kuburan orang lain.

Benar seperti di rilis BPS pada 15 Februari 2021, bahkan lebih parah dari itu. Kita tidak hanya telah menjadi daerah paling miskin secara ekonomi. Tapi juga sangat miskin akan kesadaran sejarahnya sendiri. Jika sudah begitu, berarti kita sudah tidak punya apa-apa lagi!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin