PERJALANAN MENUJU BODOH

Perjalanan Menuju Bodoh
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Muhammad -salam sejahtera untukNya Sekeluarga; adalah sosok manusia yang menurut satu riwayat mampu berbicara dalam puluhan bahasa, punya pengalaman bisnis dan traveling ke berbagai negara; tapi pada akhirnya disebut Nabi yang “Ummi”. ‘Bodoh’. “Tidak (lagi) menulis dan membaca”. Itu salah satu gelar paling populer untuk figur paling cerdas ini.

Itu tasawuf. Ujungnya harus jadi ‘bodoh’. Ummi.

Bukan berarti kalau sudah bertasawuf, kita tidak perlu lagi menulis dan membaca. Tidak begitu. Banyak ahli rabbani yang juga penulis.

Itu gambaran metodologi khas dunia irfan. Kita tidak lagi menggali ilmu atas usaha sendiri. Ada titik dimana fungsi akal kita maksimal. Itu konsekwensi logis kita sebagai syarat menjadi manusia. Makhluk bumi.

Tapi ada batas dalam hidup ini dimana kita menegasikan segala kemampuan. Menjadi bodoh. Mengakui ketiadaan dan ketakberdayaan kita. Menjadi ummi. Melepaskan diri dari pengaruh semua referensi. Itu pra-syarat untuk kembali menjadi makhluk langit.

Disaat kita kembali ‘hilang akal’ (leburnya gelombang rasional), disanalah keajaiban akan terjadi. Tuhan akan hadir. Wahyu dan mukjizat (gelombang-gelombang supra-rasional) akan aktif. orang-orang yang “ummi” (speechless). Tuhan menjadi aktual pada sosok-sosok yang lidahnya sudah terkunci. Yang akalnya sudah tak berarti. Sudah mati. Seperti kata hadis: “Kalau benar-benar ingin hidup dalam gelombang Ketuhanan, maka matikan dirimu (secara iradhi) sebelum engkau benar-benar mati (secara jasadi)”. Mutu qabla anta mutu.

Jadi, dunia dan akhirat itu hanya satu bentuk kehidupan dimensional yang “on-off”. Begitu engkau hidupkan akalmu, akhirat (Tuhan) menjadi off. Karena itu wujud yang tidak terjangkau oleh akal. Tapi, begitu engkau matikan akalmu; Tuhan dan segala gelombang malakutnya masuk, termanifestasikan, bertajalli dalam dirimu. Dimensi akhirat menjadi “on”.

Sekilas terkesan mudah. Tapi tidak begitu. Tasawuf itu bukan teori. Tapi praktik. Perangkat spiritual kita harus diaktivasi terlebih dulu. Agar mampu menerima sinyal ilahiah, merasakan kehadiran Tuhan, atau menyatu dalam samudera pengetahuan-NYA. Sebab, (gelombang) Tuhan itu berbeda dimensi dengan gelombang fisik. Beda alam. Tapi disitu-situ juga. Fisik dan Ruh, itu satu. Tapi untuk menjangkau hal yang menyatu ini, butuh teknologi sains-mistik.

Anda dengan Tuhan, itu juga menyatu. Sekaligus terpisah. Tergantung level kesadaran untuk memahami ini. Kalau masih di kesadaran/gelombang fisik, anda akan merasa terpisah (merasa teralienasi) dengan segalanya. Beda kalau sudah pada maqam kesadaran supra-sadar, anda akan menemukan diri anda terhubung dengan semua alam. Tapi, untuk menjangkau gelombang yang masing-masingnya berbeda dimensi itu, perlu mengalami kuantum spiritual melalui riyadhah fisik dan spiritual yang dibimbing oleh seorang Maha Guru.

Disinilah kita butuh Rasul, seseorang yang memiliki perangkat transporter (buraq), yang bisa menyambungkan kita dengan gelombang yang Maha Tinggi itu. Ada “wasilah” pada diri para master dunia ilahi. Ada otoritas (legalitas) ilahiah. Ada frekuensi suci, Ruh, Kalam, atau kekeramatan Tuhan pada wajahnya. Karamallahu wajhah.

Wajahnya adalah “tower” pemancar frekuensi. Wajahnya merupakan pusat transmisi Rahmat bagi semesta alam. Wajahnya adalah konektor untuk masuk ke alam kegaiban yang Quddus. Wajahnya adalah kiblat alam semesta. Titik rahasia ketuhanan.

Mungkin sepengetahuan anda, Muhammad bin Abdillah sebagai Rasul itu sudah tiada. Tapi “waris”-nya kan selalu ada. Sebenarnya sama saja. Yang diwariskan itu adalah wasilah. Unsur ruhaniah-NYA. Nur Muhammad-nya itu. Atau unsur “huda” (al-mahdi) yang diteruskan dari satu qalbu ke qalbu generasi selanjutnya. Itu yang perlu dicari. Agar menemukan frekuensi paling murni dari Allah SWT. Sehingga dikatakan, makrifatullah adalah “mengenal imam” pada zamannya. Itulah pentingnya berguru pada orang-orang yang ada “Rasulnya” disitu.

Para Guru ini, biasanya tidak lagi membuka kaji. Bahkan melarang tulis baca. Semua diarahkan pada bentuk-bentuk eksperimentasi (suluk). Sebab, segala kajian dan edukasi, pada ujungnya melahirkan ‘ahli kitab’. Melahirkan ahli baca, orang-orang yang sombong dan keras kepala. Karena, banyak hafal dan banyak baca, pada kadar tertentu, justru menyebabkan orang merasa banyak tau. Lalu banyak menyalahkan orang lain. Sehingga ia berani merobek skripsi mahasiswanya. Berani memfatwakan sesat mazhab diluar dirinya.

Bukan membaca (iqra) itu tidak boleh. Membaca itu beragam. Mulai dari membaca yang tertulis (alam fisikal/lahiriah), sampai kepada membaca alam batiniah (alam spiritual). Untuk membaca fenomena alam semesta (macrocosmos), kita harus menghidupkan otak dan panca indera. Tapi untuk “membaca” kehadiran Tuhan (berinteraksi dan naik saksi atas Dzat/Wajah-NYA), kita harus mematikan segalanya. Dia tidak hadir pada gelombang fisikal (kecerdasan duniawi). Dia hanya hadir dan eksis, pada frekuensi ukhrawi (dibalik unsur-unsur materi), di dalam diri kita sendiri (alam microcosmos, qalbu).

Karena itulah, tasawuf disebut “The Journey Within”. Metodologi tariqah (irfan), itu mengajari murid untuk semakin ‘bodoh’, menjadi “ummi”, mengenal hakikat dirinya sendiri. Tasawuf mendidik kita untuk menjadi bodoh secara lahiriah. Yang pada esensinya adalah mengajari kita untuk melampaui kecerdasan ‘duniawi’. Tepatnya menjadi supra-cerdas, atau memiliki koneksi dengan frekuensi laduniah (langsung tersambung dengan gelombang ilahiah).

Hidup yang benar, itu ujungnya menjadi ‘bodoh’. Secara fisik juga demikian. Pada akhirnya kita akan berevolusi menjadi lemah tak berdaya. Secara intelektual pun sama. Akhirnya banyak hilang pikiran dan lupa. Itu memang paksaan secara alamiah. Ruhani kita juga begitu. Harus dibina sejak awal agar semakin ‘lemah’ dan ‘bodoh’; sehingga ia cepat sampai dan mengenal Tuhannya. Disitulah letak kekuatan manusia yang sesungguhnya.

Pada akhirnya kita akan sadar. Jihad terberat dalam hidup ini adalah jihad untuk menjadi bodoh dan rendah, setelah merasa diri paling cerdas, paling banyak menulis jurnal ilmiah, paling kaya, paling kuat, paling tinggi jabatan, paling ganteng, dan paling mulia garis keturunan. Kalau belum bodoh, belum tamat kita di sekolah jiwa.

Inilah pendidikan, yang iblis -dan mungkin kita semua- berat untuk melewatinya. Ampun Tuhan!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

ūü핬†powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s