ALI “BURHANUDDIN”

 

Ali “Burhanuddin”
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. “Siapa nama anaknya buk?”, tanya seorang perawat kepada istri kami sekitar 30 menit setelah melahirkan.

Kami sendiri saat itu masih di jalan pulang, dari arah Bireuen ke Banda Aceh. Dini hari itu, Kamis 27 Ra’jab 1442 H, kami sebenarnya sedang melakukan ‘mikraj’ (perjalanan malam), tapi gagal. Harus pulang. Istri sudah dibawa ke rumah sakit. Tak sempat menemani istri yang melahirkan secara normal pada pukul 01.37 WIB dini pagi itu. Ampun Tuhan!

Dalam keadaan namanya sendiri mungkin lupa akibat lelah dan sakitnya melahirkan, istri kami ditodong oleh seorang perawat untuk menyebut siapa nama sang anak yang baru lahir. Entah, mungkin perawat sebuah rumah sakit di Banda Aceh ini mau segera cepat-cepat membuat surat keterangan melahirkan. Tiga anak sebelumnya, istri kami melahirkan di Bidan Erni, dan biasanya baru dua hari setelah melahirkan ditanya nama anak.

“Namanya…”, istri kami sempat mikir sejenak. Dalam keadaan bingung, tersebutlah sebuah nama: Ali, Ali Burhanuddin. Lengkapnya Sayyid Ali Burhanuddin.

Ya! Kali ini, baru lahir si bayi sudah harus disetor nama.

Sebenarnya, nama itu bukan kami karang sendiri. Itu sudah ada di memori. Kami masih mengingat sebuah nama yang pernah disebut Abuya Sayyidi Syeikh Ahmad Sufimuda.

Suatu ketika kami hadir ke rumah-Nya. Tiba-tiba, saat sedang memberi tausiyah, Beliau berkata. “Barusan ada dua nama yang turun. Yang satu namanya Sofia. Satu lagi Ali Burhanuddin. Tapi yang hajat anak laki ada dua. Satu sudah lahir, perempuan: Sofia. Tapi yang laki siapa ya? Kayaknya anak Said Munir ini”, sambil sekilas melihat ke arah istri kami yang usia kandungannya saat itu masih sekitar 7 bulan.

Saat itu, kami masih diberi tau oleh dokter kandungan, bahwa jenis kelamin si bayi kemungkinan besar perempuan. Sebab tidak terlihat adanya “boh lilit”. Tapi Abuya Sufimuda sudah mewanti-wanti kalau namanya, boleh jadi “Ali”.

Begitulah. Tradisi meminta nama dengan para Guru, dulunya lazim dalam masyarakat kita. Apalagi jika kita minta nama anak dari para ulama yang punya vibrasi spiritual. Mereka biasanya punya kemampuan mendownload nama-nama langsung dari sisi Allah ta’ala. Diilhamkan. Sebagian lagi ada yang punya keahlian mencari kecocokan “feng shui” nama dari kitab-kitab klasik. Beda dengan kita sekarang. Nama anak murni kreasi kita sendiri. Kita buat-buat, dengan nama-nama indah dan keren, sesuai nafsu dan selera kita. Bukan meminta petunjuk dari Allah ta’ala.

Nama Ali (bin Abi Thalib) itu sebenarnya juga unik. Karena itu salah satu nama (asma) Allah. “Al-‘Aliy”. Yang Maha Tinggi. Saat lahir, ibunya Fatimah binti Asad menamainya Haidar, artinya “singa”. Tapi kemudian Muhammad, melalui sebuah visi dari langit, memberi nama lain padanya: Ali. Itu terjadi sekitar 9 tahun sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul. Ini sebuah pertanda, sebenarnya, Muhammad itu sudah menjadi nabi (wali) sejak muda. Sejak usia belia ia sudah punya kemampuan melakukan komunikasi transenden dengan Allah SWT. Hanya saja, perintah dakwahnya baru turun setelah usianya 40an.

Dari empat anak kami, dua terakhir kami coba tradisi berbeda. Meminta nama dari orang-orang mulia. Tapi yang terakhir inipun belum kami mohon namanya. Hanya semacam prediksi. Kami pun tidak yakin itu nama untuk anak kami. Karena lahir pun belum. Kelaminnya pun masih “perempuan”. Biasanya, sebuah nama diberikan setelah anak lahir.

Cuma karena ‘dipaksa’ oleh perawat untuk menyebut nama, maka stock nama sementara yang ada cuma itu. Ya sudah, sebut saja namanya “Ali”, Burhanuddin (proof of the religion). Akhirnya, semua anggota keluarga yang hadir saat persalinan menyebutnya Ali.

Jangan-jangan inilah hikmah “turun nama” dari Sang Guru Sufi 3 bulan sebelum istri kami melahirkan. Kelihatannya Allah SWT tau istri kami bakal ditodong, ditanyain siapa nama, langsung setelah melahirkan. Setidaknya sudah punya bekal untuk menjawab. Bisa saja namanya berubah. Tapi paling tidak, itulah untuk sementara.

Sebab, disebelah kami juga ada pasien lain yang mengalami hal serupa. Istrinya juga baru melahirkan. Tiba-tiba si perawat juga nanyain itu, “Siapa nama anaknya pak?”, ditanya ke suaminya. Si suami bingung, “Aa.. Ee.. Aa.. Ee..”, lama kebingungan dia. Gak tau apa nama anaknya. Beberapa saat kemudian dijawab: “Ee… Ee… Putri Fitrianti”, karangnya. Kami yang mendengar sempat tertawa. Karena berat memang, harus mengarang nama anak, tanpa persiapan.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin

2 thoughts on “ALI “BURHANUDDIN”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s