BERIKUT DUA HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN, SAAT MEMBANGUN MASJID

Berikut Dua Hal yang Harus Diperhatikan, Saat Membangun Masjid
Oleh Said Husain & Said Muniruddin | CEO & Advisor | GUNTOMARA “Islamic Art & Architecture”

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ada dua dimensi yang harus dipikirkan saat membangun rumah ibadah. Pertama, dimensi “hakikat” (vibrasi al-Haqq atau gelombang ilahiah yang harus hadir dalam bangunan tersebut). Kedua, dimensi estetika atau visual lahiriah dari sebuah disain artitekturnya. Membangun sebuah masjid dengan tampilan interior dan eksterior yang mewah, siapapun bisa. Tapi yang mampu membuat Allah berkenan ‘tinggal’ di dalamnya, siapa?

Identitas Utama Rumah Allah

Mungkin tidak ada bangunan ibadah di muka bumi ini yang lebih ‘jelek’ dari Kakbah. Strukturnya persis “kotak Indomie”, persegi (kubus) sederhana. Polos, tanpa ornamen, ukiran dan warna. Materialnya biasa saja. Tapi gawatnya, disitu pula Allah ‘bersemayam’. Itu pula pusat ketuhanan di muka bumi. Kiblat syariat kita semua.

Yang jelas, bangunan Kakbah kalah telak dengan seni arsitektur the 7 Wonders (i.e., Chichen Itza, Christ the Redeemer, Great Wall of China, Machu Picchu, Tetra, Taj Mahal, Colosseum, ataupun Great Pyramid of Giza). Bahkan bentuknya ditelan habis oleh kesombongan menara hotel Abraj al-Bait yang menjulang di disampingnya. Seni bangunnya jauh lebih indah candi Borobudur warisan wangsa Budha Syailendra kita, dengan segala macam reliknya. Tapi itulah Kakbah, induk semua masjid. Prototipe sempurna dari sebuah Rumah Allah.

Kok bisa-bisanya Kakbah dibangun sedemikian simple. Rasanya tidak mungkin seorang Ibrahim yang lahir di Ur – Babilonia (Irak), pusat peradaban dunia (the cradle of civilization), tidak mampu membangun (memugar) sebuah struktur rumah peribadatan yang agung. Harusnya megah dan artistik, selayaknya patung dan kuil-kuil di tempat lain. Kelihatannya Ibrahim ingin meruntuhkan semua imej tentang keindahan dan kerumitan bangunan. Ia menghadirkan (kembali) sebuah bangunan dengan tampilan biasa, tapi “luar biasa”.

Jika anda telusuri lembaran suci AlQuran, disana ada satu ayat yang menjadi identitas utama arsitektural rumah ibadah dalam Islam:

اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ

“Sesungguhnya rumah pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam” (QS. Aali Imran: 96)

Kata kunci pertama: “Rumah pertama yang dibangun untuk manusia”. Ada berbagai versi pembangunan pertama Baitullah. Paling awal, ya dibangun oleh Adam. Ada juga yang menyebutnya oleh “para malaikat”, sosok-sosok suci yang mendahului Adam. Kemudian baru ditinggikan kembali oleh Ibrahim bersama anaknya, Ismail.

Jadi, rumah yang pertama dibangun untuk manusia adalah Kakbah. Artinya, membangun sebuah rumah untuk Allah, itu harus didahulukan. Sebelum membangun rumah bagi pribadi-pribadi. Hakikatnya begitu. Pastikan dulu, Allah punya ‘tempat’ di bumi. Ia ikut serta dalam ruang dan waktu kita, dalam kehidupan duniawi kita. Karena itu kunci bertuhan.

Saya curiga, Kakbah itu jangan-jangan awalnya memang rumah tempat tinggalnya manusia (suci), termasuk Adam as sang Khalifah Tuhan. Di dalam atau disampingnya itu ia beribadat, atau menjadi pusat peribadatan anak cucunya. Kakbah punya pintu, bahkan pernah dua pintu, yang sebelumnya orang-orang bisa masuk dan berdzikir di dalamnya.

Dalam beberapa tradisi sufistik kita temukan yang seperti itu. Rumah pertama yang dibangun di sebuah tempat adalah rumah bagi para Guru Spiritual. Itu menjadi pra-syarat “gelombang ketuhanan” hadir di tempat itu. Artinya, Mursyid (seorang Wali atau Imam) bukan tamu di tempat kita. Dalam makna batiniahnya, Tuhan (Khalifah Tuhan) bukanlah pendatang di bumi ini. Tapi semua ini miliknya. Rumah Dialah yang pertama ada di bumi ini. Kitalah yang numpang di rumah-Nya atau sekitarnya. Itu dimensi hakikat untuk memahami, bahwa kita bukan pemilik wilayah ini. Tapi Tuhan (wali Tuhan/penghulu alam) itu sendiri yang menjadi pemiliki langit sekaligus bumi. Dalam sejumlah tasawuf  yang kami temui, masih diajarkan adab membangun seperti itu.

Kata kunci kedua: “diberkahi dan menjadi petunjuk”. Sebuah Rumah Allah yang otentik, pasti keramat. Penuh mukjizat. Bangunannya memiliki vibrasi ilahiah. Ada unsur-unsur malakut. Diampuni kalau kita berada di dalamnya. Menyehatkan dan membawa petunjuk. Karena di dalamnya ada unsur huda, hadi atau almahdi (ruh para spiritualis, ruhullah, nur muhammadi).

Makanya, banyak cerita aneh yang kita dengar dari orang-orang yang pernah berkunjung ke Baitullah. Gelombang nurullah-nya tinggi. Termasuk dijaga oleh Tuhan. Seperti, gagalnya Abrahah menyerang Kakbah. Ataupun seperti masjid-masjid di Aceh yang berdiri kokoh saat dihantam tsunami. Selain model bangunan yang memiliki dinding terbuka (mudah dilewati air), mungkin ada unsur gnostik lain yang menyelamatkannya. Sebab, banyak bangunan serupa hilang dibawa air. Meskipun suatu waktu bangunan-bangunan ini juga bisa hancur.  Sifat fisiknya memang begitu. Kakbah juga beberapa kali harus direnovasi, rusak akibat banjir, perang dan sebagainya.

Jangan mengira, mentang-mentang itu rumah ibadah, langsung ada Allah di dalamnya. Sebagian malah diisi oleh hantu. Maaf, sering kita mendengar sebuah pesantren atau tempat pengajian, yang murid-muridnya setiap malam melihat hantu. Atau paling tidak, cerita-cerita dicekik hantu. Bagaimana mungkin di rumah Allah, setiap hari ada kajian dan pembacaan tilawah, justru penuh cerita seram. Allahnya kemana?

Begitulah, rumah yang ‘kosong’ dari kehadiran Allah; pasti akan diisi oleh sesuatu yang lain. Hati kita juga begitu. Kalau tidak ada Allah-nya, pasti berhantu. Mudah dikirimi dan dihampiri setan (QS. Al-Falaq: 1-5). Was-was, “yuwaswisufi shudurinnas” (QS. an-Nas: 5).

Sebaliknya, kita menemukan ada rumah-rumah yang justru kuat sekali unsur malakutiyah-nya (hadir malaikatnya). Sehingga punya kekuatan menyembuhkan. Bahkan mata air yang keluar dari tempat itu menjadi obat. Ada unsur “syifa” (dzikir/quran), baik pada air yang mengalir maupun elemen-elemen lain dari bangunannya. Sebab, rumah itu dibangun dengan kesucian serta adap yang tinggi. Banyak pantangan. Ada “izin” Tuhan dalam pengerjaannya.

Sebenarnya, membangun rumah ibadah sangat mudah. Menghadirkan Allahnya itu yang susah. Tidak mungkin membangun rumah Allah sesuai nafsu kita. Nanti yang tinggal di dalamnya bukan Allah, melainkan nafsu kita. Akhirnya bersetan rumah itu. Maka yang dibutuhkan bukanlah para perencana, arsitek, dan kontraktor lulusan S2 ataupun S3. Juga bukan donatur yang kaya raya. Yang diperlukan adalah sosok-sosok sederhana semacam Ibrahim dan Ismail, yang mampu mengundang Allah dalam setiap proses pengerjaan bangunannya.

Karena ini rumah-Nya, anda harus mampu mengkonfirmasi ke Dia, apa mau-Nya. Jangan memaksa membuat rumah sesuai selera kita, lalu memaksa Tuhan untuk tinggal disana. Lakukan sesuai mau-Nya. Komunikasi transendental ini penting. Hanya saja, di muka bumi ini, mungkin hanya satu dua orang yang masih menguasainya. Sebuah warisan para nabi yang sangat langka.

Mengapa ini penting? Sebab, membangun rumah ibadah, itu ibarat proses pembentukan sebuah janin. Jauh sebelum janin itu sempurna, Ruh Ketuhanan sudah harus hadir di dalamnya. Sehingga, kita temukan kisah-kisah supra-rasional dalam pembangunan rumah-rumah yang Allah bersedia ‘menempatinya’. Cerita renovasi Kakbah juga meninggalkan mistisisme “Tapak/Maqam Ibrahim”, yang hari ini masih menjadi situs sakral di dekat Kakbah. Belum lagi The Black Stone yang diikat di pinggang Kakbah yang jadi rebutan seluruh umat manusia untuk menyentuh dan menciumnya.

Kesimpulan pertama, tidak sulit membangun masjid. Yang rumit, adalah bagaimana memastikan Allah sejak awal sudah ridha dengan tempat itu. Sebab, hakikat rumah ibadah, itu bangunannya sederhana. Materialnya biasa. Tapi Yang Maha Gaib itu bersedia ‘menetap’ disana. Sehingga bangunannya menjadi berkah. Penuh mukjizat dan petunjuk bagi sekalian manusia. Semua itu adalah cerminan Kakbah (atau qalbu kita). Prototipe sempurna dari rumah Allah. Itu identitas paling utama sebuah bangunan ibadah (masjid) yang diajarkan Ibrahim kepada kita.

Dari ini kita mulai paham, masjid itu apa? Memang bumi ini adalah masjid, tempat sujud. Dimanapun kita bisa sujud. Itu makna masjid secara umum. Tapi bisa juga dibuat koordinat-koordinat ketuhanan, yang Tuhan dapat lebih aktual dirasakan kehadirannya. Itulah masjid dalam makna khusus. Sebuah bangunan suci, yang dibangun secara khusus untuk peribadatan-peribadatan khusus. Seperti tubuh manusia juga, seluruhnya manifestasi Ilahi. Tapi ada titik tertentu yang mampu menangkap “gelombang” ketuhanan secara aktual. Itulah qalbu. Masjid adalah qalbu, titik-titik lathaif ketuhanan di muka bumi. Secara khusus ada kubah, ada mihrab, ada ‘singgasana’-Nya disana.

Identitas Sekunder Masjid: Estetika Lahiriah

Yang kita bahas di atas adalah Kakbah secara hakikat, polos dan sederhana. Berbeda dengan Kakbah yang sudah diberi baju bersulam benang emas, pintunya terlapisi logam mulia berukir ayat, dan dibubuhi nama-nama raja. Itu Kakbah yang sudah bernuansa bid’ah. Sudah berdimensi syariat. Sudah dibuat indah untuk memenuhi selera mata lahiriah. Tidak ada masalah!

Islam tentu tidak menarik jika hanya bicara kebatinan (hal-hal gaib). Sisi fisikal juga harus menjadi perhatian. Secara visual, pola-pola berislam haruslah atraktif untuk masyarakat awam. Sehingga masjid menjadi pusat wisata spiritual, bahkan selfie-selfie. Juga dapat dibangun menjadi sentra ekonomi. Bahkan Kakbah itu sendiri sebenarnya bagian dari kehidupan pasar. Letaknya di pusat perdagangan. Seolah-olah melukiskan, dunia dan akhirat, itu satu.

Itulah yang kemudian menjadi dasar pengembangan peradaban arsitektural keislaman. Terjadi integrasi berbagai kepentingan dalam desain masjid. Paska Muhammad SAW, Islam tumbuh demikian pesat, termasuk bidang seni. Usaha mencintai Tuhan ikut terartikulasi dalam bentuk-bentuk disain ornamental arsitektural. Bangunan-bangunan; apakah itu istana, masjid, madrasah, taman, bazar, dan lainnya; diberi sentuhan artistik. Selain disebut sebagai usaha untuk mengapresiasi pesan-pesan ketuhanan dalam berbagai pola ruang, seni arsitektur juga tidak lepas dari kritik terhadap para khalifahnya yang terkadang juga dinilai suka dengan hal-hal “riya”.

Sampai hari ini kita masih bisa menikmati keindahan arsitektural masjid-masjid peninggalan berbagai dinasti dalam Islam. Mulai dari Umayyah (661-750), Abbasiyah (750-1258), Fatimiyah (909-1171), Seljuk (1077-1307), Mamluk (1250-1517), Ottoman (1299-1924), Safawi (1501-1736), Mughal (1525-1858) dan lainnya.

Ketika bicara desain arsitektural Islam, itu tidak terlepas dari peran para sufi dan artis arsiteknya. Karena, yang mendefinisikan “islami” atau tidaknya sebuah bangunan itu adalah dari kemampuan menerjemahkan “ayat-ayat Tuhan” dalam berbagai pola desain, hubungan spasial dan ritme ornamen.

Ayat itu sendiri terbagi tiga: ayat qauni (objek alam diberbagai ufuk semesta), ayat qauli (teks Quran), dan ayat anfusi (refleksi suluk dan pengalaman ketuhanan dalam jiwa). Ketiga hal ini diterjemahkan dalam, setidaknya, tiga identitas utama arsitektural masjid: (1) filosofi bentuk dan struktur bangunan, (2) geometri dan arabesk, serta (3) kaligrafi.

Ketika melihat masjid-masjid terawal di Nusantara, misalnya, itu punya tiga tingkatan susunan atap; yang dibuat berdasarkan konsepsi: syariat, hakikat dan makrifat. Ataupun tauhid, islam dan ihsan. Demikian juga  dengan filosofi denah, struktur, gerbang, menara, kubah, ceruk/mihrab, fasade, kolam pemantulan, taman, khanaqah, dan sebagainya yang ditemukan diberbagai belahan dunia muslim; itu penuh dengan ide-ide religius. Terkadang meniru struktur objek alam tertentu (ayat-ayat Tuhan yang tersebar di alam raya), seperti pada muqarnas yang menonjolkan kompleksitas susunan sarang lebah bergantung (honeycomb structure). Lebah, sebagai disebut dalam AlQuran, diyakini sebagai salik yang dari dirinya mengalir obat bagi manusia; sebuah simbol universal manusia paripurna. Jadi, bangunan “islami”, tidak sekedar lahir dari gagasan fungsional spasial. Tapi ada rumusan spiritual.

Sedangkan geometri dan arabesk, mencerminkan pola gelombang dan numeris dari macrocosmos (alam semesta) maupun microcosmos (alam ruhani). Titik, garis dan dan lingkaran; itu transformasi bentuk dari objek-objek kosmologis dalam satu sense of unity. Para ikhwanusshufa (spiritual masters di era klasik) telah merumuskan makna dan bilangan sudut-sudut geometris ini dalam kitab-kitab mereka. Mereka menemukan; bahwa wujud alam ini bertingkat-tingkat. Mulai dari alam fenomenal (alam bayangan ilahiah), alam simbol, alam pola dasar, sampai kepada alam mutlak. Sehingga; alam macro dan micro yang begitu kompleks ini, mampu disederhanakan dalam rumus-rumus matematis, nada-nada musik, dan simbol-simbol geometris arabesk. Maka tidak heran, ada kenyamanan dan keasikan saat mendengar dan melihat itu semua. Karena itu refleksi dari diri dan alam ini.

Pola-pola floral juga umum ditemukan dalam arsitektural Islam, daripada objek hidup seperti binatang. Karena ada restriksi untuk penggambaran makhluk-makhluk hidup. Para sufi berusaha menyederhanakan segala sesuatu dalam bentuk, diagram dan pola-pola simetris. Pola-pola floral ini menggabungkan bentuk-bentuk (prinsip) feminin dan maskulin dari Ruh dan jiwa dalam gerak tangkai bunga yang berjalin berkelindan. Untuk merangkai ini butuh seni dan kehalusan rasa. Butuh bimbingan Tuhan tentunya. Sebab, pola-pola arabesk itu dibangun atas dasar konsep-konsep sufistik dan perjalanan jiwa (meskipun hari ini telah dilakukan pengembangan lebih luas terhadap rumusan-rumusan awal).

Simbol universal geometri “bintang segi delapan” yang sering ditemukan dalam arsitektur Islam, misalnya, itu terjemahan dari “Nafas Yang Maha Pengasih”. Itu bacanya: bismillahirrahmanirrahim, dalam bentuk simbolik geometris. Geometri bismillah itu adalah gambaran proses kreatif penciptaan yang terus mengalami perluasan. Sehingga ditemukan pola geometri bintang segi delapan tersebut terus melebar ke segala sisi bangunan dalam satu ikatan. Atau semua yang melebar itu bisa dikembalikan pada satu titik, pola awal. Pada kesempatan lain kami akan membahas doktrin sufistik geometri ini secara lebih dalam.

Lainnya juga ada bentuk-bentuk iluminasi geometris cahaya yang terus meluas ke segala sisi wadah ruang bangunan, dalam satu kesatuan yang seimbang. Ini secara maknawi juga menggambarkan rambatan intuisi dan intelek manusia yang bersumber dari satu prototipe Cahaya Universal, Nurun ‘ala Nurin.

Terakhir, termasuk paling menonjol dalam identitas arsitektural, adalah desain interior dan eksterior dalam wujud Kaligrafi. Huruf al-Quran yang awalnya begitu sederhana (berbentuk Kufic) dalam rentang ratusan tahun telah berkembang menjadi belasan atau mungkin puluhan model. Semua dirancang oleh para ulama bersanad, para sufi penulis yang sangat halus jiwanya. Tidak jarang bentuk-bentuk hurufnya adalah hasil pengayaan spiritual (ilham dari Tuhan). Yang paling populer sekarang adalah Naskhi, Tsulust, Riq’i, Kufi, Diwani dan Farisi. Para arsitek kaligrafer dituntut untuk mampu mengisi dinding-dinding masjid, dengan ayat-ayat yang sesuai kaidah dan estetika; dalam aneka pilihan huruf, susunan, dan warna.

Penutup

Jadi, semua estetika visual lahiriah ini adalah “baju” yang memberi keindahan bagi kita saat hendak menemui Tuhan. Baik itu baju yang di badan kita, ataupun desain asesoris arsitektural yang melekat di masjid. “Hai anak Adam, pakailah pakaian yang indah di setiap masjid” (QS. Al-A’raf: 31).

Aksentuasisi rasa dan imajinasi manusia tentu meniscayakan lahirnya model-model  kreatif dari masjid dalam bentuk-bentuk lebih modern, yang dikawinkan dengan elemen-elemen lokal dan klasik. Itulah Islam, sebuah warisan peradaban yang terus maju dan berkembang; dengan senantiasa merujuk pada kebenaran-kebenaran yang sudah diwahyukan sejak awal.

Atas dasar inilah, kami GUNTOMARA “Islamic Art and Architecture” hadir untuk mempertinggi estetika, memberi  warna baru, sekaligus senantiasa mengharapkan Rahmat dan syafaat agar  ruh suciNya senantiasa hadir pada setiap bangunan yang kami sentuh.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi Wasallim.*****
___________________
KAMPOENG SENI GUNTOMARA
Jl. Laksamana Malahayati No. 24, Desa Baet, Krueng Cut, Kec. Baitussalam, Kab. Aceh Besar, Aceh – Indonesia 23373
Mobile: 08126955150/08116833551/08116833559

Design & Build │ Kubah Masjid │ Interior – Exterior │ GRC & Resine Fiber │ CNC & Laser Cutting │ Tembaga Ketok │ Calligraphy │ Creative Products │ Art & Education

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s