AL-QUR’AN ITU ORANG, BUKAN KERTAS

Al-Qur’an itu Orang, Bukan Kertas
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Al-Qur’an itu orang-orang yang hidup, bukan benda-benda mati semacam kertas. “Tidak memuat Dzatku bumi dan langit, kecuali hati mukmin yang lembut lagi tenang”, demikian sebut sebuah Hadis Qudsi (HR. Abu Dawud). Langit dan bumi, semua benda-benda “mati”, menolak menerima Kalam Tuhan. Tidak mampu mereka, kecuali manusia. Memang manusia terkesan bodoh, seperti di protes para malaikat saat penciptaan. Tapi, Imam Jakfar Shadiq menjelaskan: “Sesungguhnya hati seorang mukmin adalah ‘Arsy Allah.” Tak usah kau cari kemana-mana, Dia bersemayam di Qalbumu.

Jadi, Al-Qur’an itu bukan kertas mati. Bukan kulit kambing. Bukan tulang belulang. Bukan batu. Bukan pelepah kurma. Melainkan sesuatu yang ada dalam Qalbu anda. Qalbu yang hidup, yang memungkinkan unsur-unsur Ilahiyah “turun” kesana. “Menurunkan wahyu kedalam hati nuranimu dengan izin Tuhan, membenarkan wahyu sebelumnya, menjadi petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al-Baqarah: 97).

Al-Qur’an itu nilai-nilai yang aktif, sesuatu yang melekat pada orang-orang yang hidup. Bukan catatan di kertas mati. Al-Qur’an sebagai kumpulan kertas yang di jilid, itu baru ada pada masa khalifah ketiga, Usman bin Affan. Itupun dalam jumlah terbatas. Pada masa Nabi SAW, Al-Qur’an itu bukan kertas. Melainkan orang. Yaitu Nabi itu sendiri. Qur’annya hidup dan berjalan-jalan. Berbicara. Bergerak. Itulah nilai yang hidup. Bisa di contoh. Inspiratif. Keramat orangnya. Membawa mukjizat.

Maka, jika ada pertanyaan: “Siapa imammu?”, Maka benar, jawabannya adalah Al-Qur’an. Tapi Al-Qur’an yang mana? Bukan Al-Qur’an yang dicetak dipabrik itu. Bukan tulisan Arab yang bisa kita tafsir sesuka hati itu. Tapi Al-Qur’an dalam bentuk manusia. Yang ada Nur-nya. Yang senantiasa dijaga Tuhan. Itulah “imam”, manusia suci. Al-Qur’an berjalan. Suri tauladan. Penebar Rahmat paling aktual. Yang dalam dadanya itu ada unsur-unsur Ilahiyah. Kalam Suci. Ayatullah. Asma Allah. Hidup barangnya. Senantiasa berkata-kata dia. Bukan kumpulan tinta dan huruf-huruf mati.

Jadi, sekali lagi, Alquran itu elemen-elemen suci penuh mukjizat dari sisi Tuhan; yang melekat pada diri orang-orang (yang suci/disucikan). Elemen langit ini berbeda dengan kertas buatan Jerman yang penuh goresan khath bertinta Cina; yang bisa disentuh dan dibaca oleh siapapun. Yahudi sekalipun, bisa membacanya dengan irama yang indah. Bahkan menghafalnya. Tapi elemen Al-Qur’an yang maha suci, gelombang-gelombang ketuhanan yang maha tinggi itu; hanya bisa dibaca (“disentuh”) oleh mereka yang telah disucikan:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
“Tidak ada yang dapat menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” QS. Al-Waqiah: 79.

Jadi, Al-Qur’an itu adalah sesuatu yang suci yang melekat pada orang. Keduanya tidak terpisah. Dan ke-Quran-an manusia ini tidak terhenti pada diri Nabi SAW saja. Unsur-unsur Al-Qur’an yang suci akan terus diwarisi dari satu generasi ke generasi lainnya. Sebagaimana sabda Beliau: “Sesungguhnya kutinggalkan dua pusaka bagi kalian, yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya; yaitu Al-Qur’an dan ‘Itrahku. Keduanya tidak akan berpisah hingga kiamat” (HR. Shahih Muslim, Musnad Ahmad bin Hambal, Sunan Nasai, al-Mu’jam al-Kabir Thabrani, Sunan Tirmidzi, Mustadrak Hakim).

Jadi, Al-Qur’an yang asli (elemen Malakut dan Ruhul Quddus) dan orang yang menerimanya, itu tidak terpisah. Al-Qur’an dan orang, itu satu. Itu alasan utama Al-Qur’an diturunkan, untuk menyatu dalam jiwa manusia. Mukjizat terbesar Al-Qur’an adalah ketika mampu mengkeramatkan akhlak (makarimal akhlak). Kalimah asli dari Tuhan harus menyatu dalam diri seseorang. Sehingga orang tersebut menjadi hujjah bagi manusia. Menjadi Rahmat yang membawa bukti-bukti dari Tuhan (mukjizat).

Ingat, Al-Qur’an yang asli itu adalah elemen “Malakut dan Ruh”. Bukankah itu yang turun saat Al-Qur’an diturunkan? Malam Qadar adalah malam turunnya Al-Qur’an. Dan yang turun itu adalah “malaa-ikatu war ruuh” (QS. Al-Qadar: 4). Al-Qur’an adalah gelombang supranur, sinyal-sinyal Ilahiyah yang mengandung pesan-pesan yang meliputi langit dan bumi, alam macro dan microcosmos. Gelombang-gelombang inilah yang menjadi bahan “bacaan” para nabi, sehingga menjadi supra-cerdas. Itulah Al-Quran. Siapapun bisa meng-upload sinyal-sinyal laduniah kewahyuan ini, melalui proses penyucian jiwa, sampai terhubung dengan ‘Aqal Awwal (Ruh/Jibril).

BACA: Vibrasi Gua Hirak; Uzlah; Posisi ‘Aqal dalam hukum Islam

Sesungguhnya, Al-Qur’an itu adalah orang-orang suci itu semua. Yang dalam jiwa mereka mengalir “genetik” Nurullah (sinyal-sinyal ruhaniah malakutiyah). Sehingga, untuk menemukan Al-Qur’an, anda sejatinya harus menemukan orang-orang ini terlebih dahulu. Karena yang asli itu ada bersama orang-orang yang memiliki akhlak agung. Bukan yang tersimpan di lemari.

Sejak zaman dulu, yang diutus Allah adalah orang. Bukan buku. Orang itulah representasi Allah (Khalifah Allah). Orang inilah “Kitab” dari sisi Tuhan itu. Merekalah Ruhullah. Kalamullah. Maka yang disebut “Kitab Suci” bukanlah yang dipahat di batu-batu itu. Al-Qur’an, Injil, Zabur dan Taurat; itu adalah para nabi itu sendiri. Lisan mereka. Hati mereka. Perbuatan mereka. Dan warisan ini terus mengalir pada diri orang-orang suci, para wali, yang memiliki sanad ruhaniah kepada mereka.

Tidak susah menemukan kertas bertuliskan ayat-ayat. Banyak dijual di toko. Dipajang di rak-rak masjid. Yang sulit adalah menemukan Ruh hidup dari Al-Qur’an. Kalaupun ada orangnya, mungkin akan ditolak. Sebab, lebih nyaman bagi kita untuk mengagungkan kumpulan kertas sebagai Al-Qur’an; daripada mengagungkan orang sebagai Al-Qur’an. Sejak zaman para nabi sudah begitu. Para ahli kitab lebih mengagungkan kitab-kitab yang ada di balai-balai pengajian mereka; daripada menerima kehadiran seorang nabi.

Tapi, sekali anda menemukan Al-Qur’an yang “hidup” ini; itu sama dengan menemukan Allah (makrifatullah). Sebab Al-Qur’an yang qadim adalah (Ruh/Kalam) “Allah” itu sendiri. Sehingga Imam Jakfar Shadiq mengatakan: “Makrifat adalah mengenal imam pada zamannya”. Imam adalah orang. Al-Qur’an yang hidup. Orang-orang yang dishalawati oleh Allah dan para malaikat-Nya. “Replika” Muhammad. Orang-orang yang mewarisi Nur-Nya. Ada Tuhannya disitu.

***

Saya tidak menafikan keberadaan Al-Qur’an dalam bentuk tulisan mushaf 30 Juz, 114 surah yang sangat “amazing” itu. Itu juga pedoman kita semua. Bacaan agung. Penuh pengetahuan yang bernilai suci. Karena itu juga derivasi dari sinyal-sinyal Ilahiyah tingkat tinggi, yang atas petunjuk Allah, di coding kembali oleh Nabi SAW ke dalam bahasa Arab yang luar biasa berseni dan indah. Komposisinya sangat sempurna.

Namun kita harus paham, bahwa Al-Qur’an dalam wujud lebih tinggi, dalam wajah qadim yang diterima di Gua Hirak; yang turun ke qalbu Muhammad dan para nabi pada malam Qadar, bukanlah dokumen tertulis. Tidak ada abjad. Tidak punya suara. Melainkan gelombang “Malakut dan Ruh”, yang merupakan pancaran langsung Dirinya sendiri, yang penuh mukjizat dan Rahmat. Itulah Al-Qur’anul Majid.

Dalam perkembangan peradaban Islam, apresiasi terhadap Al-Qur’an tumbuh dalam dua bentuk. Satu kelompok terfokus pada penguasaan “lahiriah” teks baharu Al-Qur’an. Sehingga melahirkan ilmu seperti baca tulis dan tafsir. Sehingga Islam punya dimensi eksoteris yang tinggi. Satu kelompok lagi, yaitu para sufi, berusaha menjangkau kembali wujud esoteris dari ayat-ayat; sehingga mampu mendengarkan kembali bagaimana Allah sendiri yang berbicara langsung kepada mereka.

Penutup. Al-Qur’an, pada level lebih tinggi, adalah orang yang telah tanazzul “Malaikat dan Ruh” dalam jiwanya (bukti kehadiran Tuhan dalam diri manusia, firman anfusi). Pada level paling rendah, adalah kertas dan tinta yang tidak bernyawa yang terpisah dari manusia (firman kitabi, konsumsi otak, bahan bacaan dan hafalan). Al-Qur’an itu, sejatinya adalah orang. Bukan kertas.

BACA ARTIKEL TERKAIT:
>>Memahami Kembali Makna “Kitab”
>>Al-Qur’an Turun Sekaligus, Yang Bertahap itu Penyampaiannya
>>Bahasa Yang Dipahami Tuhan
>>Nabi Muhammad SAW Diutus untuk Membuat Pengikutnya Keramat
>>Dari “Alif Ba” ke Wujud Tanpa Huruf dan Suara
>>Iqra’ (Dzikir)
>>“Nun”

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin