BULAN SUCI: BULAN MUNCULNYA TABIAT BURUK

Bulan Suci: Bulan Munculnya Tabiat Buruk
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRHAMNIRRAHIEM. Minggu pertama Ramadhan. Mungkin badan akan terasa lemas. Juga malas. Mengantuk hampir sepanjang hari. Itulah tabiat buruk pertama yang mungkin muncul di bulan suci. Minggu kedua, mungkin bukan itu lagi penyakitnya. Badan sudah terbiasa dengan perut lapar. Tidak lagi lemas. Energi sudah full, tapi kekuatan beribadah mulai menurun. Masjid dan ruang-ruang zikir mulai susut. Sebagian lain yang merasa diri rajin berpuasa, bertarawih dan lainnya; merasa diri sudah  suci, mudah melihat orang lain sebagai pendosa. Begitu seterusnya, sampai akhir Ramadhan, selalu ada level tantangan yang dihadapi, akan selalu ada tabiat buruk yang muncul dan mesti dikalahkan; sampai kita meraih gelar taqwa.

***

Tidak hanya di bulan suci, di tempat suci manapun anda berada, tabiat buruk akan muncul kepermukaan. Saya sering mendengar bagaimana banyak orang yang berhaji ke tanah suci. Ketika sampai disana, muncul perilaku-perilaku aneh yang selama ini terendap di dasar kepribadiannya. Anda tidak bisa menyembunyikan karakter-karakter buruk ketika berada di ruang-ruang suci. Ia akan muncul. Sebenarnya, itulah kesempatan yang diberikan Tuhan bagi untuk mengalahkan tabiat-tabiat itu. Tanpa timbul kepermukaan, ia susah dikalahkan. Begitu ia muncul, fight! Sampai ia benar-benar kalah.

Jadi, bulan suci bukanlah bulan yang tiba-tiba anda jadi suci gara-gara banyak tarawih dan menahan lapar. Melainkan bulan dimana setan-setan diikat (karakater-karakter buruk anda muncul kepermukaan), lalu diserahkan kepada anda untuk anda kalahkan.

Kami juga beberapa kali diberi izin oleh Allah untuk mengikuti suluk, yang dibimbing seorang Master Sufi. Abuya S.S. Ahmad Sufimuda. Ruang suluknya menjadi sesuatu yang unik. Aneh sekali. Selama sekian hari iktikaf/khalwat; semua kepribadian kita, satu persatu layer keburukan kita muncul kepermukaan. Setiap murid dibimbing untuk menundukkan semua tabiat yang muncul itu. Siang malam para salik bertempur dalam kelambu, mengalahkan ‘setan-setan’ yang sudah diikat, dan semua itu ada dalam diri sendiri. Semua berjuang dengan zikir-zikir yang diberikan, untuk mengalahkan segala penyakit jiwa yang mungkin sudah sudah mengikuti sejak kecil.

Ada yang sukses mengalahkan diri sendiri. Ada yang setengah sukses. Ada juga yang mirip-mirip gagal. Kemudian kita sadar, lalu suluk berikutnya kita kembali bertempur dengan semua tabiat diri itu. Uniknya, ketika kita mampu mengalahkan sebuah sifat terburuk dalam diri, tabir lainnya akan muncul. Ternyata, penyakit kita memang terlalu banyak. Kronis. Berlapis-lapis. Mungkin karena itulah sebuah Hadis Qudsi menyebutkan: “Hijab menuju Tuhan ada 70.000”. Jika kita ingin tembus ke Alam Rabbani, bersua dengan Allah, ada perjuangan berat yang harus kita tempuh. Yaitu mengalahkan timbunan tabiat buruk yang menggunung dalam diri.

Tapi uniknya juga, begitu satu tabiat berhasil kita tundukkan, sebuah “cahaya” hadir. Ada bentuk-bentuk kasyaf (pengetahuan hudhuri) yang dianugerahi kepada kita. Mungkin itu semacam pahala (hadiah) atas usaha untuk mengikis dosa. Artinya, begitu satu dinding kekotoran hati menjadi bersih, seberkas cahaya suci menjadi aktual dalam ruang qalbu. Begitu seterusnya. Semakin kuat mujahadah mengendalikan tabiat hewani dan syaitani, semakin terbuka mata bashirah (penglihatan batin). Tapi yang dicari bukanlah bentuk-bentuk-bentuk kekeramatan itu. Melainkan Dia sendiri. Pencerahan jiwa (musyahadah) dan hadirnya sinyal-sinyal ilahiyah hanyalah sebuah bentuk keterbukaan peta jalan menuju alam yang lebih tinggi, Alam Malakut dan Alam Rabbani.

Tahapan menuju Tuhan memang demikian bertingkat. Hijabnya berlapis. Tapi secara sederhana dibagi dua. Pertama disebut sebagai “hijab zhulmani”. Yang kedua, “hijab nurani”. Pada tahap pertama, zhulmani, kita disuruh bertempur untuk mengalahkan kegelapan tabiat diri kita sendiri. Khusunya sifat malas. Malas beribadah. Malas berzikir. Malas berubudiyah. Malas bersedekah. Malas melayani. Dan seribu satu macam sifat tercela (ego rendah) lainnya. Juga termasuk ananiyah-anaiyah alam jabarut lainnya (seperti hasad, riya, sombong, takabur, tamak, kikir, dan sebagainya).

Semakin tinggi kita menapaki perjalanan spiritual, semakin halus jebakannya. Mungkin bukan lagi sifat buruk di atas yang muncul. Tapi berbagai bentuk kebaikan yang kita anggap baik. Segala bentuk amalan yang kita persepsikan bagus. Segala tindakan mulia yang kita nilai benar. Padahal itu semua belum tentu baik, dan bukan sesuatu yang diinginkan Tuhan. Penghalang menuju Tuhan pada maqom ini adalah “hijab cahaya”. Sangat halus. Kita mengira kitab-kitab bacaan kita, hafalan quran dan hadis kita, jubah kita, janggut kita, puasa kita, ibadah kita, celana jingkrang kita; adalah kebaikan. Padahal setan juga membisiki kita untuk melakukan bentuk-bentuk kebaikan seperti itu, untuk kepentingannya. Kehati-hatian di level ini harus lebih tinggi. Dan mustahil seorang hamba akan selamat dengan usahanya sendiri (ilmu, akal dan persepsinya); kecuali dengan bimbingan Allah.

Karena itu dibutuhkan kesadaran yang lebih tinggi, untuk mengenali musuh-musuh laten dalam diri. Dalam tradisi sufi ada yang disebut muraqabah (kehadiran sinyal-sinyal raqib malakutiyah). Muraqabah adalah alat untuk membantu kita mengetahui yang mana bisikan Tuhan, yang mana ilham dari setan. Energi cahaya (malaikat) ini diperoleh setelah seseorang mampu melewati kegelapan alam materi (tabiat buruk tubuh fisik). Hadirnya muraqabah, atau perjumpaan dengan malaikat adalah awal perjalanan menuju Allah. Kalau belum bertemu malaikat, mustahil bisa bertemu Allah. Namun, malaikat itu sendiri sesungguhnya adalah “hijab”. Sebab, yang kita tuju adalah Allah. Bukankah Muhammad SAW saat bertemu Tuhan di Sidratul Muntaha telah ‘meninggalkan’ malaikat (Jibril) pada level dibawahnya, lalu naik ke puncak pencarian: Allah SWT.

Tapi sekali lagi, kalau belum bertemu malaikat, bagaimana kita bisa bertemu Allah?

***

Sekali lagi, bulan Ramadhan adalah bulan munculnya tabiat buruk. Termasuk ingin “menimbun” banyak pahala. Itu seolah-olah terkesan baik (hijab cahaya). Sejatinya yang kita tuju bukan pahala, melainkan total self-annihilation, tak mengharapkan apapun kecuali perjumpaan dengan-Nya.

Bulan puasa, secara syariat itu berguna untuk mendidik kita untuk melakukan puasa-puasa dasar (awam); hanya dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Bulan mendidik karakter dasar. Supaya kegelapan alam materi tidak terlalu tebal. Namun amalan puasa awam ini, secara umum tidak banyak membawa perubahan. Seperti disebut Nabi SAW: “Betapa banyak yang berpuasa, tapi tidak diperoleh apapun, selain lapar dan dahaga” (HR. Ibnu Majah). Karena untuk mengikis semua hijab dan tabiat tercela, untuk tembus ke alam lebih tinggi, kita tidak punya pilihan lain, selain menempuh jalan khusus para nabi (melakukan amalan-amalan khawas dan khawasul khawas). “Berpuasa” secara total, siang dan malam, memperbanyak nawafil melalui bimbingan Guru Ruhani dan para malaikat-Nya.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s