SUFISTIC CASHFLOW QUADRANT

Sufistic Cash Flow Quadrant
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Kaya, atau lebih tepatnya “makmur”, adalah kondisi “self-sufficient”. Semua sudah terpenuhi. Sudah otomatis tersedia. Tanpa harus dicari-cari. Kalau masih mencari, berarti masih kurang. Pertanda miskin.

Banyak orang yang sekilas terlihat kaya. Siang malam masih mencari, menumpuk-numpuk. Miskin itu. Orang yang benar-benar kaya (makmur) tidak selelah itu. Apalagi sampai terserang penyakit. Orang kaya bawaannya santai. Kebutuhannya sudah terpenuhi, dan terus terpenuhi. Kondisinya sehat-sehat saja.

Kaya atau makmur, kalau merujuk ke Robert T. Kiyosaki (Cashflow Quadrant, 2000), itu ada di kuadran 4. Tipe “investor”. Ia sudah menempatkan modalnya dimana-mana, orang-orang bekerja memaksimalkan nilai investasinya. Sementara ia duduk-duduk saja menunggu hasil; sambil berzikir, ngopi atau main golf.

Yang berat itu di kuadran 1, “employed”. Tipe pekerja yang mati-matian menghabiskan waktu mencari uang. Mereka bekerja sama orang. Kalau tidak bekerja, lapar!

Selanjutnya adalah kuadran 2. Sudah punya usaha sendiri, “self employed”. Cuma, ngurusin bisnis sendiri itu juga memeras keringat. Bisa-bisa tidak sempat ngopi lagi sama teman, guna menjaga perusahaan tidak bangkrut. Ketat!

Kalau kuadran ke 3, itu bisnis anda sudah mulai berjalan. Sudah tersistem. Ini “big business”. Orang-orang mulai bekerja untuk anda. Namun anda masih terlibat dalam bisnis. Jalannya usaha masih butuh kontrol ketat.

Maqom cashflow 1 (employed) dan 2 (self employed), itu tipe hidup “pontang-panting”. You work for money. Anda bekerja untuk uang. Sedangkan maqom 3 (business owner) dan 4 (investor), itu hidup nyaman. Money works for you. Uang bekerja untuk kita. Dalam bahasa sufistik, dua kuadran pertama disebut “rezeki yang dicari”, “rezeki yang diupayakan”. Sedangkan dua kuadran terakhir dinamakan “rezeki yang diberi”, “disantuni Tuhan”.

Pertanyaannya, di kuadran (maqom) mana kita sekarang?

Kisah Imam Syafi’i dan Imam Malik menggambarkan dua hal ini. Imam Malik (711-795 M) adalah guru Imam Syafi’i (767-820 M). Imam Malik lebih kental dengan nilai-nilai sufiame. Ia percaya, rezeki itu hasil tawakkal kepada Allah. Sementara Syafi’i meyakini, itu hasil usaha.

Kata Imam Malik, “Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya”. Dalam bahasa sufistik lainnya, “Kerjakan kerja-Ku, kerjamu Aku yang kerjakan”, sebut Sufimuda. Terkait ini Rasul SAW berkata:

أنكُم توكَّلْتُم علَى اللهِ حقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُم كما يَرْزُقُ الطَّيْرَ تغدُو خِمَاصًا وتَروحُ بِطَانًا

“Andai kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal niscaya Allah akan berikan rizki kepada kalian, sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar lalu pulang dalam keadaan kenyang”.

Pada ayat lain dikatakan:

… وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا ° وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا °

“.. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (QS. At-Thalaq: 2-3).

Ayat 1000 Dinar ini merupakan ayatnya orang-orang di Kuadran 4. Orang-orang yang kerjanya goyang-goyang kaki, masuk duit.

Sementara itu, Syafi’i punya pandangan lebih rasional, “Ya Syeikh, seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki?” katanya kepada gurunya. Rezeki di dapat dengan usaha dan kerja keras.

Suatu ketika Syafi’i ikut mananen anggur di sebuah kebun. Atas hasil kerjanya, dia membawa pulang sejumlah anggur kepada gurunya. Sekaligus membuktikan, bahwa inilah hasil yang diperoleh melalui kerja. “Seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya”, sebut Syafi’i merasa benar dengan pendapatnya.

Imam Malik tersenyum dan menjawab, “Sehari ini aku tidak keluar pondok, hanya mengerjakan tugas Tuhan mendidik orang-orang, dan sempat terpikir alangkah nikmatnya kalau di hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur untukku”. Tak perlu cari rezeki. Datang sendiri. Sejauh anda benar-benar tawakkal bersama Tuhan. Niat anda senantiasa disambut oleh alam semesta.

***

Syafi’i menjadi representasi orang-orang yang masih berada di kuadran 1 dan 2. Sementara Imam Malik mewakili penghuni kuadran 3 dan 4.

Jangan-jangan, ini penyebab populasi masyarakat di bawah otoritas Mazhab Syafi’i miskin-miskin, walau bekerja keras. Kalau di Afrika, itu contohnya Ethiopia dan Somalia. Sementara negara-negara Afrika Utara yang relatif kaya itu, mazhabnya Maliki. Termasuk Indonesia yang memiliki tenaga kerja murah dan pekerja keras, angka kemiskinan masih tinggi (mencapai 10 persen, atau sekitar 27 juta jiwa, BPS: 2020). Apa mungkin karena afiliasi mazhabnya ke Syafi’i, yang percaya konsep kerja keras? Ah! Tak usah diseriusi. Ini hanya canda.

Tapi, yang jelas, kita menemukan betapa banyak orang yang bekerja tunggang langgang. Siang malam. Tidak pernah merasa cukup. Sampai rela meninggalkan dunia spiritual, zikir, ibadah dan tawakkal ‘alallah. Mereka merasa sesuatu diperoleh murni atas usahanya. Terus begitu, sampai mati mengejar dunia. Sampai sakit. Tanpa pernah tau sisi mistis lain dari cara kerja rejeki. Bahwa, kalau kita bisa dekat dengan Allah, sebenarnya tak perlu kerja berat-berat lagi. Cukup minta-minta aja. Alam semesta secara tak terduga akan bekerja untuk memenuhi kebutuhan anda.

“Kerja keras”, itu konsep untuk mereka yang masih hidup di kuadran dunia. Kalau sudah di kuadran akhirat, perbanyak zikir dan minum kopi. Hehe!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s