TUHAN JAUH, TUHAN DEKAT

Tuhan Jauh, Tuhan Dekat
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Bagi yang belum berjumpa, Allah itu jauh. Bagi yang sudah berjumpa, Allah itu dekat. Ini namanya “maqam”. Kedudukan. Tingkatan. Atau kasta dalam spiritualitas.

Ibarat hubungan kita dengan presiden. Ada yang dekat, ada yang jauh. Apalagi kalau tinggal di luar wilayah, di pedalaman pula. Berjumpa pun tidak pernah. Apalagi ngobrol, salaman, dicolek, dipeluk, ditegur, dan disentuh oleh presiden. Sehingga presiden menjadi sesuatu yang asing. Yang hanya bisa disebut-sebut namanya. Presiden ada, tapi mirip-mirip tidak ada. Karena tidak intim. Kita tau dia begitu berkuasa. Tapi secara personal tidak begitu dirasakan keberadaannya. Itu terjadi karena ada “jarak”.

Faktor “jarak” menjadi pemisah antara kita dengan-Nya. Penyebab kita tidak konek. Tidak akrab. Tidak komunikatif. Tidak interaktif. Tidak diperhatikan. Tidak disayangi. Tidak dikasihi. Tidak berbalas. Tidak ada hubungan yang asyik dan masyuk.

Agama, pada level syariat, seperti itu. Kita yang awam diregulasi untuk taat, tunduk patuh pada sang presiden yang entah dimana. Tauhid untuk awam juga begitu, diajari hafalan sifat dan nama-nama. Tuhan begini. Tuhan begitu. Konsepsional. Teoritis.

Berbeda dengan tauhid ahli hakikat, para nabi dan wali-walinya. Hubungan dengan Tuhan sudah dalam frasa “inni wajjahtu Wajhiya”. Berhadapan wajah. Saling menatap. Satu sama lain sudah lebur. Dia yang misterius telah menjadi sesuatu yang dhahir, nyata. Bisa ditatap. Bisa diajak bicara. Bahkan Tuhan lebih mereka kenal daripada mereka mengenal anak dan istrinya sendiri. Kalau dengan anak dan istri mungkin masih ada jarak sejengkal, dengan Tuhan sudah lebih dekat dari urat lehernya.

Begitu menyatu, sampai-sampai mereka tidak merasa dirinya masih ada. Fana. Yang terasa hanya Dia. Bahkan kata-kata yang keluar dari mulutnya sudah bukan lagi miliknya, tapi Kalam-Nya. Begitu sulit memisahkan, yang mana dia yang mana Tuhan. Karena Tuhan sudah berbicara dengan lisannya. Melempar dengan tangannya. Berjalan dengan kakinya. Melihat dengan matanya. Mendengar dengan telinganya.

Agama hakikatnya adalah “jalan kembali”.  Para nabi dan warisnya mengajak kita untuk mendaki, untuk kembali kepada Tuhan yang pasti, bukan Tuhan kira-kira. Itulah mengapa, agama memiliki jenjang: syariat, tarikat dan hakikat. Kita bergerak dari Tuhan yang jauh, menuju Tuhan yang dekat. Dari Tuhan yang entah dimana, ke Tuhan yang ada dimana-mana. Dari mencari Tuhan di langit dunia, ke menemukan Tuhan dalam diri sendiri. Ini semua proses evolusi, dari eksistensi kita sebagai makhluk biologis menjadi insan ilahi.

Agama adalah usaha untuk memperkecil jarak dengan Tuhan. Usaha untuk kembali. Dari keterpisahan, ke penyatuan kembali. Sebab, kita memang berasal dari-Nya dan harus kembali kepada-Nya. Jangan dipisah.

Sebab; agama, pada level paling rendah adalah “sekularisasi”. Berusaha memisahkan manusia dengan Tuhan. Menarik garis demarkasi yang tegas, bahwa manusia dan Tuhan adalah dua entitas berbeda. Iya, itu benar. Manusia dan Tuhan dua hal berbeda. Akibatnya, manusia menjadi asing dan galau, terjauhkan dengan Tuhannya. Lebih parahnya, ditanam keyakinan, bahwa mustahil bersua Tuhan saat masih hidup. Sehingga ada yang bersedia untuk segera mati, biar ketemu Tuhan dan bidadari. Tradisionalisme kalam dan syariat dibangun dengan pandangan ini. Tuhan itu jauh. Di luar sana. Monoteisme.

Sementara, pada level tertinggi, agama itu “integrasi”. Monisme. Saling meliputi. Dia ada di dunia ini. Tak perlu menunggu mati untuk bertemu. Manusia dengan Tuhan tidak berjarak lagi. Dia adalah sesuatu yang ada dalam qalbumu. Mengalir dalam darahmu. Bergerak dalam fikirmu. Dia adalah Kalammu. Ruhmu. Dia adalah genetik cahaya yang membentuk dirimu. Dia adalah Dirimu sendiri. Engkau adalah pancaran-Nya. Nur-Nya. Bukan bermaksud “menuhankan manusia”. Tapi manusia adalah wadah kehadiran-Nya. Ini tasawuf, Irfan.

Namun, untuk melacak Dia yang entah dimana, memerlukan teknologi yang mampu menangkap gelombang dan koordinat keberadaan-Nya. Untuk melihat Wujud maha batiniah yang laitsa kamislihi syai’un dalam Wajah yang dhahir (nyata), itu ada metodologinya. Dengan perangkat android 4G, misalnya, anda bisa menghadirkan sang presiden yang jauh di pusat ibukota, ke ruangan anda. Bahkan ada teknologi digital tercanggih, yang mampu memproyeksikan anda untuk berada di alam itu. Dengan teknologi, segala sesuatu menjadi mudah. Menjadi tidak berjarak. Menjadi ada dimana-mana. Wujud, wajah dan suara orang di kutub utara dan kutub selatan sekalipun; bisa hadir di depan mata kita.

Tuhan itu jauh, iya. Itu kalau tidak cukup teknologi teleportasi dalam beragama. Tuhan tidak serupa dengan makhluk-nya, iya. Itu azalinya. Tapi ada teknologi yang dapat memprojeksikan Nur Tuhan dalam wajah para kekasihnya. Tuhan berjarak atau dekat, itu hanya soalan penguasaan teknologi.  Ketika teknologi ini dikuasai, Dia bisa dihadirkan kapan anda suka. Bisa diajak ngobrol seenaknya. Bisa ditatap Wajahnya kapan pun juga.

Sains metafisika inilah yang orang tidak lagi banyak paham. Padahal, para nabi sudah membuktikan, teknik dan metodologi divine connecting ini ada. Dan menariknya, qalbu kita adalah “ahsani taqwim”, sebaik-baik sistem android yang pernah diciptakan Tuhan. Yang bisa menjangkau Dia kapan saja.

Tapi sayangnya, perangkat ini tidak pernah kita aktivasi. Atau mungkin tidak pernah kita temukan seorang expert berlisensi yang dapat membantu kita untuk menghidupkannya. Padahal, sepanjang zaman selalu ada expert (washilah) yang di utus Tuhan untuk menangani urusan ini. Expert ini punya otoritas resmi untuk menghidupkan jaringan dalam diri kita, sehingga android (qalbu) kita bergetar, dan kita bisa berhubungan secara langsung dengan Tuhan. Wajah-Nya bisa muncul dilayar.

KESIMPULAN. Islam bisa menjadi “agama ardhi”; agama bumi, agama logika, agama debat, agama teori, agama sekuler, agama tafsiran, agama akal pikiran, agama kitab tulisan, agama yang putus koneksi, terpisah jauh dengan Tuhan. Sebaliknya, Islam kita akan bernilai langitan (samawi), kalau menyatu dengan Allah. Agama ruh. Agama yang masih ada kontak dengan-Nya. Masih dekat, masih memperoleh petunjuk-petunjuk langsung dari-Nya. Sebagaimana kehidupan para nabi. Agama wahyu. Agama ilham.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s