APA ITU TASAWUF?

Apa itu Tasawuf?
Ole Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Apa itu tasawuf?

Tasawuf adalah ilmu connecting. Ilmu cara berhubungan dengan Tuhan. Cara terhubung dengan Tuhan. Secara pasti! Contohnya Nabi Muhammad SAW. Beliau terhubung dengan Tuhan. Dengan para malaikatnya. Bisa berkomunikasi. Bisa berinteraksi. Dibimbing langsung oleh semua itu. Itu yang disebut tasawuf. Kalau belum mencapai level itu; saya, anda, atau kita semua, belum bertasawuf. Mungkin baru sekedar berteori, kaji-kaji tasawuf.

Apakah sulit bertasawuf?

Kalau merujuk pada pengalaman kenabian Muhammad SAW, bagaimana cara Beliau bisa terhubung dengan Tuhan dan para malaikatnya, sebenarnya tidak sulit. Tidak butuh sekolah. Tidak perlu membaca. Beliau justru seorang yang ummi. Tidak diberikan referensi. Tidak ada kitab yang dikaji.

Artinya, untuk bertuhan (mencapai Tuhan) itu mudah sekali. Orang bodoh pun bisa. Tidak harus baca-baca Quran. Buktinya Muhammad. Al-Quran itu justru produk kemudian hari, hasil interaksi beliau setelah bisa bertemu Tuhan. Dan untuk terlebih dahulu connect dengan Tuhan, beliau tidak pernah menjadi ahli baca, ahli kitab, ustadz, profesor, ulama, atau teungku. Ini menunjukkan bahwa, Tuhan itu dekat sekali. Untuk sampai kepada-Nya, itu mudah sekali.

Sebenarnya, inilah bentuk Rahiem (kasih sayang) Tuhan. Tuhan adalah Objek super sederhana. Dia bisa dijangkau oleh kelompok terbodoh sekalipun. Yang tidak pernah memegang, menerima dan menghafal kitab suci apapun. Asal tau caranya!

Itulah tasawuf. A universal knowledge. A knowledge beyond text and reference. Sebuah ilmu yang sifatnya praktis. Sederhana. Tidak bermazhab. Alamiah. Mengasingkan diri dari berbagai teori. Fitrah. Reflektif. Iluminatif. Laduniah. Di dalamnya ada cara atau teknik (metodologi/tariqah) untuk “berinteraksi” (terhubung, dekat, terkoneksi, berjumpa, kembali, menyatu, ) secara langsung dengan Allah. Disini anda hanya butuh seorang Guru Pembimbing, yang sudah lebih dulu tau caranya. Sudah duluan makrifat. Sudah duluan ketemu Tuhan.

Itulah sufi. Orang-orang ‘bodoh’, ‘lusuh’, ‘miskin’ (secara maknawi). Karena mampu mencapai Tuhan tanpa atribut berlebihan. Pada kadar tertentu mampu mereplika (menauladani) hakikat pengalaman spiritual kenabian.

Saya tidak menyatakan salah banyak membaca. Silakan. Untuk mengisi otak dan memahami dunia, kita harus banyak-banyak membaca. Tapi, untuk sampai kepada vibrasi dan pengalaman spiritual ke-Tuhanan, tidak bisa pakek otak yang sudah penuh itu. Akal, teks, bacaan dan hafalan tidak mampu menjangkau-Nya. Anda harus meninggalkan itu semua. Harus ummi!

Maka, sebagaimana dirasakan oleh para “penempuh jalan”, proses terberat adalah proses “kembali” kepada Tuhan. Karena itu adalah proses “mengosongkan” diri. Proses merendah. Proses untuk me-nol-kan kecerdasan. Proses menundukkan ego. Proses mematikan akal. Proses menghilangkan kesadaran rendah kemanusiaan. Proses untuk merasakan, bahwa sebenarnya kita ini tidak ada. Yang ada hanya Dia. Karena, kecerdasan sekaligus kejahiliahan terbesar manusia adalah, merasa dirinya ada. Itu akar semua masalah di dunia. Sehingga Tuhan tidak pernah menjadi aktual, tidak pernah bekerja dalam dirinya.

“Jika engkau ada, maka AKU tiada”, sebut Guru kami. Allah akan hadir, saat dirimu telah lebur dalam Dirinya. Dan ini merupakan sebuah perjalanan kesadaran yang maha agung.

KESIMPULAN. Kalau sekedar untuk berjumpa Tuhan (makrifatullah), itu tidak rumit. Yang susah adalah, untuk menguasai dunia. Butuh banyak kajian dan membaca. Yang terjadi sekarang justru sebaliknya, beragama (bertuhan) diperumit. Diregulasi secara ketat. Di kurung dalam mazhab-mazhab. Dipastikan sesuai baris demi baris dengan teks kitab, sesuai tafsiran masing manhaj. Asal beda, sesat. Padahal, cara kita beramal pun mungkin belum mengkoneksikan kita dengan Tuhan. Lalu kenapa harus sibuk mengurusi orang? Karena itulah, tasawuf bersifat toleran. Masing-masing sibuk mengurusi diri sendiri, bagaimana cara agar dekat dengan Tuhan.

“Halo Tuhan, dimana posisi.. ngopi yuk!”. Kalau dijawab, “ayuk”; itu pertanda sudah konek. Sudah akrab. Tasawuf begitu. Tidak juga seperti itu. Kira-kira begitu. Artinya, Tuhan bukan lagi barang langka. Yang susah dicerna dimana keberadaannya.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s