TUHAN DALAM WAJAH PEREMPUAN

TUHAN DALAM WAJAH PEREMPUAN
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

“TUHAN tidak pernah terlihat gaib”//Sebut Rumi//“Penampakannya paling sempurna dalam wujud perempuan”//Yang dengan menatapnya jantungmu berdetak//Yang dengan menciumnya egomu berserak//Yang dengan memeluknya fanamu memuncak//Yang dengan bersamanya kenikmatan surga adam hawa terkuak//

Ini bukan tentang nafsu//Ini tentang Cinta//Tentang perjumpaanmu dengan sebilah Cahaya//Yang membuat seluruh partikel ketuhananmu aktif bergelora//

“Saat bertawaf di Kakbah”//Kata Ibnu Arabi//“Aku melihat Tuhan dalam wujud perempuan”//Ternyata//Dia tidak hanya berumah di tembok mati//Dia hidup dalam nafas para perempuan suci//

Tuhan adalah dirimu yang hilang//Sisi femininmu//Tangismu//Tawamu//Kekuatanmu//Harapmu//Wajah yang kau rindu//Rasa terdalam//Kegaiban yang indah//

Kau temukan perempuan//Setengah agamamu aman//Karena//disanalah citra Ilahi tersembunyi//Perjuangkan Cintamu//Perbaiki dirimu//Realitas Tuhan akan hadir kepadamu//

“Tiga hal yang kucintai di dunia ini”//Kata Nabi//”Perempuan, wewangian dan sholat”//Ketiganya adalah washilah//untuk memakrifati Allah//

***

Ada yang selalu melihat perempuan sebagai “setan”. Penggoda. Perusak. Sumber masalah. Semuanya tergantung jenis “mata” yang kita gunakan. Kalau mata kita masih bersetan, semua akan terlihat buruk. Inilah juga yang dimaksud dalam Al-Quran, laki-laki baki untuk perempuan yang baik, begitu juga sebaliknya. Kalau (persepsi) kita buruk, buruk pula objek amatan kita:

اَلْخَبِيْثٰتُ لِلْخَبِيْثِيْنَ وَالْخَبِيْثُوْنَ لِلْخَبِيْثٰتِۚ وَالطَّيِّبٰتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَالطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبٰتِۚ اُولٰۤىِٕكَ مُبَرَّءُوْنَ مِمَّا يَقُوْلُوْنَۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)” (QS. An-Nur: 26)

Memang susah melihat sesuatu secara apresiatif. Susah menemukan unsur-unsur ketuhanan dalam setiap wujud yang kita temui. Ini terjadi manakala jiwa kita masih terselimuti kegelapan. Pandangan kita masih terkungkung dalam alam penuh setan. Padahal Allah berfirman, “Maka kemanapun kamu menghadap disitulah Wajah Allah” (QS. Al-Baqarah: 115). Tidak mudah menemukan wajah Tuhan pada berbagai dimensi alam, kalau wajah kita sendiri masih bersetan. Mereka yang buruk hanya menemukan yang buruk-buruk.

Maka, para sufi menempuh jalan perbaikan diri. Proses penyucian diri. Seringkali pada tahapan ini, mereka menghindari perempuan. Berpuasa. Sebab, pada tahap awal, ketika jiwa masih terkotori, justru setan dalam diri kita yang berusaha memahami perempuan. Sehingga terjadi zina, khususnya zina mata. Berbeda ketika jiwa telah suci, unsur-unsur ke-malaikat-an dalam diri kitalah yang akan menyerap wajah perempuan. Pada saat itu, tidak ada yang terlihat lagi, selain Wajah Tuhan itu sendiri. Seorang laki-laki yang baik (suci), akan menemukan yang baik (wajah Tuhan) pada diri kekasihnya.

Ini yang harus dibangun dalam kehidupan. Baik laki atau perempuan, sama-sama harus terus memperbaiki diri. Agar yang terlihat pada pasangannya hanya unsur-unsur ketuhanan. Sehingga keluarga menjadi sakinah, mawaddah wa rahmah. Keluarga yang senantiasa hadir Tuhan. Penuh Cinta dan Kasih Sayang.

Ibnu Arabi, pada fase sayr wa suluk, sebagaimana umumnya sufi, berusaha menghindari perempuan. Berusaha mengekang nafsu, yang dikendalikan setan. Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhan (QS. Yusuf: 53). Pandangan penuh nafsu justru membesarkan setan. Sedangkan nafsu yang telah disucikan justru mempertemukan anda dengan Tuhan. Alih-alih ingin menemukan Allah pada tembok Kakbah, Ibnu Arabi justru menemukan Wajah-Nya pada wujud tak terduga. Pada level makrifah, realitas Tuhan telah aktual pada segala yang ada.

Ingat, jodohmu adalah Tuhan. Tuhan yang hadir dalam segala wadah yang ada. Termasuk perempuan. Sehingga, mencintai istrimu hakikatnya adalah mencintai Tuhanmu. “Haram menggauli pasangan, jika saat melakukan itu engkau lupa pada Tuhanmu”, sebut Guru kami. Dia ada dimana-mana. Tidak pernah terpisah dengan semua yang ada. Dia hadir dalam semua bentuk cintamu. Dalam segala amal ibadah dan ubudiyahmu. Pada dimensi dunia dan akhiratmu!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin

One thought on “TUHAN DALAM WAJAH PEREMPUAN

  1. Anda sudah mendekati kebenaran.
    Tidak jujur apabila bahasa dunia ini mengatakan Dia adalah untuk pria saja padahal Dia juga untuk wanita.
    Bagi saya sendiri segala keindahan dimuka bumi ini menunjukkan kewanitaan.

    ustadz sayyid habib yahya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s