“HILANG RASA”; PANDEMI AGAMA DAN CORONA

“Hilang Rasa”; Pandemi Agama dan Corona 
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Untuk bertahan hidup, kita butuh makan. Tapi, bukan karena makanan atau rasa laparnya itu yang menyebabkan kita mau makan. Melainkan karena “rasa” yang terdeteksi pada makanan itu. Begitu hilang “rasa”, selera makan menghilang. Penyakit pun datang, memperlambat pemulihan, bahkan semakin memperparah penyakit yang ada.

Yang pernah mengalami Covid-19 sangat paham ini. Dunia kedokteran menyebutnya “anosmia”. Hilangnya fungsi indera penciuman dan rasa. Tidak hanya penderita Covid-19, penderita flu dan penyakit lain juga sering mengalami hal serupa. Hanya saja, pada Covid-19 rasa kehilangan sangat kentara. Bisa berminggu-minggu. Sehingga pasien mengalami stres secara psikologis. Disatu sisi harus makan. Sementara, tak ada yang bisa kita telan tanpa adanya “rasa”.

Ternyata. Yang paling kita butuhkan adalah “rasa”. Tanpa ini, segala kemewahan menjadi tiada. Hilang enaknya. Hilang lezatnya. Kesimpulannya, ada sesuatu yang paling mempengaruhi kemampuan kita untuk menyerap unsur-unsur materi, yaitu “rasa”. Tanpa ini, materi menjadi tidak bermakna. Hilang bahagia. Makin banyak kita makan, makin menderita.

Begitu Covid-19 menyerang sel saraf, diduga demikian, penciuman buyar. Rasa manis, pahit, pedas menghilang. Nafsu makan berkurang. Kalau hanya 1 atau 2 hari, itu mudah kita tolerir. Jika berlanjut sampai berminggu-minggu, anda akan merasakan, hidup berubah menjadi beban. Rusaknya “reseptor” di lidah dan hidung yang menuju syaraf otak menyebabkan segala yang masuk menjadi tidak terdeteksi. Semua makanan tersaji di meja. Tapi tak ada rasa. Hidup kehilangan makna. Hampa. Karena kita harus melakoni, mengkonsumsi sesuatu yang tidak ada rasa.

Begitu hilang “rasa”, sebenarnya kita sudah mati. Sudah kehilangan kemampuan untuk menikmati.

***

Beragama juga begitu. Intinya “rasa”. Yaitu, kemampuan merasakan esensi dari Dzat yang hendak kita cicipi. Tujuan beragama bukan sekedar ruku’, sujud, puasa, haji dan sebagainya itu. Itu semua dimensi materi dari agama. Ritual fisik semata. Sisi duniawi. Yang mau kita cicipi adalah “rasa” Tuhannya, esensi mistis ukhrawi dibalik bentuk-bentuk lahiriah ibadah.

Yang diterima Tuhan bukan formalitas ibadahnya. Bukan darah dan qurban kita. Tapi ikhlas, “rasa taqwa” yang sampai kepada-Nya (QS. Al-Hajj: 37). Tanpa rasa, agama jadi beban. Lalu penganutnya diancam-ancam neraka, sehingga tetap mengerjakan sesuatu yang  sebenarnya mereka sama sekali tidak nikmati prosesnya.

Pandemi agama telah hadir ribuan tahun jauh sebelum pandemi corona. Islam sejatinya adalah jembatan untuk merasakan dimensi langit, samawi (hal-hal bersifat batiniah). Tapi kesadaran rendah manusia menyebabkan agama kembali jatuh pada level ardhi (materialis). Orang-orang kehilangan “rasa” dalam bertuhan.

Sholat dan menghafal ayat sekarang makin giat. Tapi gelisah semakin tinggi. Rasa takut semakin besar. Galau menjadi-jadi. Bahagia semakin sulit ditemukan. Ekstrimisme; teriakan mengkafirkan, membidahkan dan mengkomuniskan orang bahkan semakin kuat ditengah menguatnya arus syariatisasi agama. Agama ditangan mazhab yang kehilangan “rasa” berubah menjadi rigid dan intolerance. Kaku dan nakal. Rasis. Hilang unsur kesatuan, kedamaian dan kasih sayang.

Syariat tidak akan pernah memberi “rasa”. Syariat hanya memperkuat ritus, simbol dan perbedaan warna. Sedangkan rasa ada pada dimensi tasawufnya. Kampanye syariat hanya untuk memperbanyak show-off dan jumlah orang-orang yang meneriakkan “takbir” di jalanan. Sedangkan untuk menyatu dengan dimensi kebesaran Tuhan yang maha senyap itu, kita harus masuk dalam dimensi “rasa”. Sebuah dimensi yang justru membuat orang tertutup mulut dan mata. Tidak banyak bicara. Sibuk merasa. Bukan unjuk rasa. Rasa sifatnya sangat personal, dan kita menghargai setiap orang untuk menikmatinya. Dari sudut pandang sufisme, tidak ada paksaan untuk ikut satu jenis warna dan rasa. Semua bisa dirasakan, mana benar mana salah. La ikraha fid Din!

***

Pada diri manusia ada reseptor yang mampu menangkap kehadiran Tuhan. Jika ini terganggu, kita akan kehilangan “rasa”. Kehilangan elan makrifah untuk membedakan “baik-buruk” dan “benar-salah”, secara hakiki. Tanpa rasa, sholat dan puasa hanya tersisa letih dan hausnya saja. Agama menjadi dongeng. Vitalitas ibadah menjadi rendah. Kenikmatan melihat Wajah Tuhan sudah tidak ada. Karena, kemampuan merasakan Dzat Tuhan itu ada pada “lidah” qalbu, Ruh. Kalau Ruh diserang penyakit, seluruh syarafnya kehilangan daya untuk merasakan kehadiran Ruhul Quddus Rasulullah; Cahaya Allah.

Dalam banyak ayat, Al-Qur’an menyebut orang-orang yang kehilangan rasa dalam beragama sebagai orang “mati”. Mati qalbunya. Dalam perspektif Al-Qur’an, yang membedakan orang hidup dengan orang mati adalah tingkat kreatifitas qalbunya. Kalau sekedar hidup, hewan juga hidup. Namun level koneksitas dengan Tuhan bagaimana? Ternyata, sebagian besar manusia beragama mengidap virus ini. Gerak ibadah terlihat kuat. Tapi “mati”. Putus kontak dengan Tuhan.

Pengobatannya apa?

Sama seperti pandemi Corona. Anda harus diisolasi. Dikurung. Dijauhkan dari orang-orang, dari dunia yang berpenyakit. Lalu dalam sebuah kelambu sempit anda disterilkan. Disembuhkan. Diberi asupan yang baik. Diinfus dengan zikrullah. Disucikan kembali. Pelan-pelan, virus yang menyerang jiwa anda akan dibersihkan oleh seorang ‘dokter ahli’. Oleh seorang master sufi, ahli makrifat yang menguasai teknik operasi jiwa. Dalam tradisi esoteris Islam, proses ini disebut suluk (khalwat/uzlah/i’tikaf), yang dibimbing langsung oleh seorang Wali (kekasih Allah).

Para nabi diutus untuk menangani pandemi jenis ini. Orang-orang pada masa mereka sebenarnya sangat paham agama. Kuat syariat dan ibadahnya. Ahli kitab semua. Tapi kena penyakit “mati rasa”. Hilang aspek-aspek ihsan, kemampuan untuk merasakan Tuhan. Sel-sel beragamanya telah terganggu. Sehingga tidak komunikatif lagi dengan Allah dan para malaikat-Nya. Tugas para nabi mengembalikan jiwa mereka ke bentuk aslinya. Sehingga kembali mampu melihat Wajah Allah. Kembali suci. Kembali ke fitrah. Kembali memiliki vibrasi ilahiah. Kembali punya karamah. Berpower. Sembuh!

BACA: “Hati-Hati, Corona Menyebar melalui WA”, “Setelah Corona, Korupsi”.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s