MATI, PENGOSONGAN DIRI, DAN PERJUMPAAN DENGAN ALLAH


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman”, Artikel No. 37, Juni 2021


MATI, PENGOSONGAN DIRI, DAN PERJUMPAAN DENGAN ALLAH
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ini artikel kami yang ke 37 tahun ini. Di tengah wabah Covid yang semakin meninggi, mungkin penting bagi kita untuk memaknai kembali arti kematian dan penyerahan (pengosongan) diri kepada Allah. Bagaimanapun, ada titik dimana kita semua akan menjumpai-Nya.

***

Secara umum, kita hanya mengenal satu jenis kematian. Yaitu kematian alami, kematian biologis/jasadi. “Kematian jasadi” adalah bentuk perjalanan akhir manusia untuk menjumpai Allah (iya kalau benar-benar akan menjumpai dan diterima oleh Allah. Kita khawatir justru tersesat dan terlempar ke sudut lain alam akhirat).

Untuk menghindari itu, maka ada satu jenis kematian lain yang harus terlebih dahulu kita alami agar selamat di akhirat. Yaitu “kematian iradhi”. Kematian iradhi adalah kematian kehendak-kehendak rendah (nafsu hewani), dan hidupnya kehendak-kehendak ruh (daya malakuti) dalam diri. Karena, “mati”, secara sufistik artinya meninggalkan unsur-unsur dunia. Tidak memiliki, dan tidak menginginkan apapun lagi, selain (Ridha) Allah. Orang mati hanya ingin selalu terhubung Allah. Hal-hal profane lainnya sudah dilepaskan. Sudah dikosongkan. Tidak ada apapun yang lebih bermakna baginya, selain wujud abadi dari the sacred: Allah. La Ilaha Illa Allah.

Para sufi tidak mau menunggu kematian alami untuk berjumpa Allah. Mereka memutuskan untuk menjumpai Allah lebih awal dari jadwal mereka mati. Sehingga sejak hidup di dunia sudah berusaha mengenal, berjumpa atau memakrifati Allah. Artinya, sejak di dunia mereka sudah berusaha “masuk syurga” (sudah terjamin bersama Allah). Itulah pengalaman empiris para nabi. Meskipun fisiknya ada di bumi; jiwanya sudah di langit, sudah masuk ke dimensi akhirat (alam Tuhan).

Jadi, syarat bisa berjumpa Allah hanya satu: “mati”. “Matilah kamu sebelum kamu mati”, kata para sufi. Mutu qabla anta mutu. Makna “mati” disini adalah “kematian iradhi”. “Pengosongan diri” dari segala sesuatu selain Allah. Dalam bentuk kematian ini, segala bentuk keinginan diri, wants atau iradhah dimatikan. Di hibernate, di deaktivasi. Ketika tombol “keinginan diri” ini di non-aktifkan, maka ada sisi lain (yaitu “keinginan Tuhan”) yang hidup. Sifatnya on-off. Sebagaimana sebut seorang sufi, “Kalau engkau ada, Aku tiada”. Kalau keinginan (nafsumu) yang kau munculkan, maka kehendak suci-Ku dalam dirimu menjadi hilang.

“Meniadakan keinginan”, “mengosongkan pikiran”, atau “mematikan diri”; bukan berarti saat disajikan nasi goreng kita tidak makan. Bukan pula saat melihat mobil Alphard tidak boleh beli. Atau saat ditawarkan sebuah jabatan lalu harus menolak. Bukan! Maksudnya, tanyakan dulu kepada Allah, boleh atau tidak engkau makan. Boleh apa tidak engkau beli mobil mewah. Boleh atau tidak engkau mengisi sebuah jabatan. Kalau Dia mengizinkannya, ambil. Kalau Dia larang, jangan.

Proses mengaktifkan sinyal Tuhan, disebut sebagai usaha untuk “kembali” kepada Allah. Kembali kepada Allah bermakna, serahkan semuanya kepada Allah. Jangan pakai nafsu kita. Jangan menurut maunya kita. Jangan pakai ilmu kita. Jangan menggunakan akal kita. Jangan diolah dengan tafsir dan logika. Kembalikan saja ke Dia. Tanya Dia. Dengarkan apa jawaban Dia. Lalu ikuti perintah dan petunjuk-Nya. Semua terserah Dia. Kita la haula wala quwwata saja.

Untuk mencapai maqam ini, posisi bisa mendengar Allah berfirman, lalu tunduk patuh pada keinginan, perintah dan larangan-Nya secara aktual; kita harus tersambung dulu dengan Allah. Kalau ini belum terjadi, itu pertanda ruhani kita masih sangat jauh dengan-Nya. Se-alim apapun kita. Sebesar apapun pesantren kita. Sebanyak apapun murid kita. Sekuat apapun hafalan Qur’an dan hadis kita. Sepanjang apapun gelar akademik dan keulamaan kita. Kalau belum mampu mendengar Allah berbicara, belum pernah bertemu malaikat-Nya, kita masih sangat jauh dengan-Nya. Sebab, Allah itu sangat dekat. Lalu kenapa kita bisa terhijab dari-Nya?

Kosongkan diri. Agar Dia bersedia hadir. Matikan semuanya. Termasuk akal yang menjadi alat unjuk kecerdasan kita selama ini. Karena, selama ada akal, Dia tidak mau menjumpai anda. Karena dengan akal anda tidak mampu menangkap dan mencerna kehadiran Dzatnya. Ketika Dia hadir, semua konsep ketuhanan anda akan sirna. Bahkan cara terbaik untuk memahaminya adalah dengan diam saja.

Maka, segera ‘matikan’ diri anda, kalau ingin terhubung dengan-Nya. Proses ‘kematian’ ini, dalam tradisi sufi, dilalui dengan dzikir. Dzikir adalah usaha untuk mengingat Allah. Semakin kuat dan lama (khusyuk) anda mengingat Allah (berdzikir), semakin kuat anda melupakan diri beserta semua yang anda miliki. Sampai pada titik dimana kesadaran materialistik menjadi lebur (fana). Baru muncul kesadaran yang lebih tinggi.

Leburnya kesadaran rendah, atau munculnya muraqabah, adalah awal dari perjalanan ruhani. Dengan aktifnya kesadaran baru ini, anda bisa masuk pada tahap kedirian yang lebih dalam. Dan terus bertahap sampai ke maqam-maqam kesadaran yang lebih agung. Pada puncaknya adalah perjumpaan dengan-Nya dalam pengalaman-pengalaman batiniah yang maha indah.

Mikraj adalah proses dzikir (pengosongan diri) yang dilakukan Nabi. Ruhnya tidak bisa lagi dipenjara dalam dirinya. Sehingga ruhaninya (bahkan duplikasi dimensi materialnya) bisa masuk ke alam-alam yang lebih tinggi. Sampai bertemu Tuhannya. Sejak di Gua Hira’ Beliau sudah melakoni ritual “kematian diri”. Sehingga ruhaninya mampu menjangkau pengetahuan, substansi, dan esensi-esensi yang lebih tinggi. Sebenarnya tidak ada yang namanya “kosong” (void). Kosong itu adalah Tuhan itu sendiri. Esensi gaib mutlak. Yang disebut “pengosongan diri” adalah mengikis frekuensi-frekuensi rendah dalam diri kita, sehingga tersisa hanya energi dan gelombang ketuhanan yang maha meliputi.

Pengosongan diri adalah kunci pertemuan dengan (gelombang) Tuhan. Kalau prosesi ini tidak kita lakukan, maka kita akan terus terkoneksi dengan sinyal-sinyal rendah (was-was) alam ini, yang justru mengganggu ketenangan jiwa. Dan bahagia tidak akan pernah datang. “Lepas kedua sandalmu wahai Musa kau berada di lembah yang suci“, sebut Tuhan dalam Surah Thaha: 12. “Sandal” adalah sesuatu yang bukan diri (esensi) kita, tapi sering menempel pada diri kita. Kita menganggap elemen-elemen aksesoris seperti sandal penting bagi kita. Bahkan menganggap itu adalah diri kita. Padahal ia membawa anasir (kekotoran), yang kalau ingin bertemu Tuhan, harus total ditinggalkan.

Itulah makna “pengosongan”, meniadakan “keinginan” (ilah) yang berasal dari bukan Allah. Selalu ada yang selalu membisiki anda, mendorong dan memotivasi anda. Dan itu seringkali bukan Allah. Buddha berkata, “Keinginan adalah sumber derita”. Benar. Karena yang dimaksud keinginan disini adalah keinginan-keinginan syaitan (ego) yang bersemayam dalam kesadaran kita. Bukan keinginan yang di ilhamkan Tuhan pada diri kita. Betapa banyak manusia yang sakit, mati dan menderita dalam mengejar berbagai keinginan/cita-cita (posisi, kekayaan, pengetahuan, dsb) yang dikiranya baik. Padahal, Alhaqqu min rabbik (QS. Al-Baqarah: 147). Kebenaran turun dari sisi Tuhan. Benar-salah, baik-buruk; itu otoritas Allah. Bukan murni kajian akal dan inginnya kita. Kita harus terlebih dahulu konek dengan Allah untuk mengetahui yang sebenarnya benar. Bukan memakai dalil A yang dicampur dengan dalil B, lalu lahir kebenaran versi akal (qiyas). Itu sifatnya “mungkin” benar.

Dzikir, suluk, dan proses-proses mujahadah spiritual bersifat khusus lainnya; yang bimbingan seorang Guru Ruhani, akan memudahkan kita memahami, menjalani dan menembus ruang-ruang ruhaniah yang lebih tinggi; untuk “kosong” dan terkoneksi dengan Allah. Karena hakikinya kita adalah Ruh kita. Yang dengan itu kita bisa menemui Tuhan kita.

Jika sel syaraf ruhaniah dan jaringan kesadaran kita sudah mampu menembusi pusat kosmik Ketuhanan, akan mudah sekali membangun komunikasi dengan Allah. Apakah dalam bentuk 3G atau 4G. Tergantung infrastruktur ruhaniah yang kita bangun. Selanjutnya hanya perlu merawat infrastruktur dan wadah yang ada, supaya transmisi sinyal-sinyal laduniah terus hidup dalam diri kita. Infrastruktur batiniah yang sudah terbangun secara permanen, dalam literatur sufisme klasik disebut “baqa billah”.

Kalau jaringan sudah terbangun demikian canggih, suara yang ada di ujung dunia lain, dalam hitungan detik bisa terdengar langsung dari perangkat HP anda. Kalau presiden ngomong “A” di Jakarta, serta merta HP anda yang berada di seluruh penjuru Indonesia akan mengeluarkan suara “A”. Wajah presiden yang jauh disana, pada saat yang sama muncul di layar TV anda. Live!

Dengan Tuhan juga begitu. Manusia dengan komponen qalbunya adalah perangkat komunikasi transendental paling canggih. Ketika jaringannya sudah diperbaiki (sudah disucikan); Tuhan ngomong “A” di langit sana, “A” juga keluar dari mulut anda. Bahkan wajah anda mampu menjadi layar bagi orang-orang yang ingin menatap Tuhan.

Itulah yang disebut “tajalli”. Dia bisa hadir pada perangkat diri yang sudah terbangun dengan baik (kamil mukammil). Seperti disebut dalam hadis Qudsi; anda bisa menjadi lisan, tangan, mata, kaki, hidung dan telinga-Nya. Dalam ayat lain; “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (QS. An-Najm: 3-4).Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar (QS. Al-Anfal: 17). Tuhan dengan makhluk-nya, dengan cara tertentu, sudah terintegrasi.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin

One thought on “MATI, PENGOSONGAN DIRI, DAN PERJUMPAAN DENGAN ALLAH

  1. “Meniadakan keinginan”, “mengosongkan pikiran”, atau “mematikan diri”; bukan berarti saat disajikan nasi goreng kita tidak makan. Bukan pula saat melihat mobil Alphard tidak boleh beli. Atau saat ditawarkan sebuah jabatan lalu harus menolak. Bukan! Maksudnya, tanyakan dulu kepada Allah, boleh atau tidak engkau makan. Boleh apa tidak engkau beli mobil mewah. Boleh atau tidak engkau mengisi sebuah jabatan. Kalau Dia mengizinkannya, ambil. Kalau Dia larang, jangan.

    Benar, saya baru-baru ini dpt surat untuk vaksinasi,saat saya buka envelop ternyata tawaran vaksinasi,Dia bilang jangan!
    maaf walaupun Dia menerangkan isinya apa, tetapi tidak penting saya katakan disini,jika Dia bilang jangan iya tetap jangan lakukan.

    Kita sudah diambang pintu kiamat,kebanyakan manusia sudah menjadikan dirinya seperti Dia.
    tidak banyak waktu lagi untuk kita hanya 2 th lagi,saya berani katakan ini karena Dia bilang begitu.
    jika ada yg mengatakan bahwa hanya Dia saja yg tahu datangnya kiamat ,maka tidak usah bermakrifat.

    ustadz sayyid habib yahya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s